Dear Husband

Dear Husband
Sayang



" Mama...." Elle membuka pintu yang setengah terbuka lalu mendekati ranjang dimana Sofia tertidur tenang disisi Nando yang duduk bersandar di sandaran ranjang dan memangku laptopnya untuk memeriksa beberapa laporan dari Alex. Hari itu dia tidak benar-benar libur, lebih tepatnya bekerja dari rumah. Rasa bersalah itulah yang memaksanya untuk tinggal.


"Sssttttt ...ada apa sayang? jangan ganggu mama ya." Nando menaruh telunjuknya pada bibir sebagai isyarat agar Elle memelankan suaranya.


" Aku kangen mama, pa." jawabnya polos dengan mengerjabkan matanya lucu. Nando tersenyum melihat ulahnya. Ternyata selain lucu, gadis kecilnya juga sudah pintar merayu.


"Kau boleh naik dan tidur di dekat mama. Tapi jangan ganggu tidurnya ya. Mama sedang demam." jelas Nando lagi. Elle mengangguk lalu naik ke ranjang besar itu dengan gerakan hati-hati. Tangan kecilnya mulai melingkari perut Sofia, memeluknya.


Nando mengelus kepala putrinya yang terlihat basah. Mungkin Maria baru saja memandikannya karena bau shampo dan sabun menguar dari tubuhnya. Dia kembali fokus pada layar laptop di depannya. Banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini.


"eehhhmmm...kau disini sayang?" Sofia yang merasakan ada gerakan lain disampingnya terjaga dari tidur nyenyaknya. Dia mengerjabkan mata kala melihat Elle tengah memeluknya. Bocah itu mencium pipi Sofia.


"Elle...sudah papa bilang jangan ganggu mama Sofia. Dia sedang sakit." Ujar Nando dengan wajah gusar. Dia meletakan laptopnya diatas meja lalu berusaha menarik Elle menjauh.


"Mas, jangan! biar Elle disini." Larang Sofia yang mengeratkan pelukannya pada tubuh Elle.


"Tapi kau masih sakit."


"Aku sudah baikan."


"Mau kuambilkan sesuatu?" tawar Nando. Hampir empat jam Sofia terlelap hingga Elle membuatnya terbangun.


"Biar aku sendiri." Sofia yang merasa haus akan bangkit dari posisinya.


"Tetap disitu Sofia. Aku akan mengambilkan apa yang kau perlukan." Sofia menyerah. Percuma membantah Nando.


"Aku haus mas. Tolong ambilkan air putih." sahut Sofia mengalah. Nando menuangkan air dalam teko lalu menyerahkannya pada Sofia yang langsung menghabiskannya seketika.


"Pa..."


"hmmmm."


"kok papa panggilnya nama?" tanya Elle kecil yang sudah duduk diantara mereka.


"Maksudnya?"


"Kenapa papa tidak memanggil mama Sofia seperti memanggil mama Emma?" Nando hanya tercekat mendengar pertanyaan polos sang bocah. Dia dan Sofia saling pandang.


"Mereka orang yang berbeda Elle." jelas Nando.


"Bukanya mereka sama-sama istri papa? apanya yang beda pa?"


"Itu...."


"Papa hanya belum terbiasa Elle." sergah Sofia cepat. Menghadapi kepolosan Elle butuh kesabaran, mengingat anak itu sangat kritis pada sesuatu.


"Mama juga...."


"Mama?? kenapa dengan mama?" tanya Sofia tidak mengerti sambil menunjuk dirinya.


" Mama panggil papa pakai kata mas , seperti manggil tukang ojek." Nando menahan tawanya kala mendengar kata-kata Elle berbanding terbalik dengan Sofia yang terlihat salah tingkah. Bapak anak ini...walau bukan sedarah tapi kata-katanya identik.


"El, mas itu bukan hanya manggil tukang ojeg, batagor, atau apalah. Mas itu panggilan pada laki-laki yang lebih tua atau dihormati pada orang Jawa."


"Tapi papa bukan orang Jawa, ma." Sofia menarik nafas panjang. Bocah didepannya sangat doyan berdebat rupanya.


" Mama orang Jawa asli nak."


"El, ini tidak seperti yang kau kira."


"Kalau begitu aku boleh memanggil mama dengan Sofia saja bukan?" ujar sikecil ngeyel dengan wajah polosnya.


"Itu tidak boleh." pungkas Nando yang juga bingung dengan maksud putrinya.


"Papa boleh, kenapa aku tidak?"


"Ahh...sudahlah. El ingin mama panggil papanya apa sayang?" potong Sofia melerai perdebatan bapak dan anak yang tidak ada ujung pangkalnya itu.


"Papa biasa memanggil mama Emma sayang. Mama Emma juga panggil papa sayang." deg.......kedua orang dewasa itu terdiam. Namun diantara keduanya, Sofialah yang terlihat paling shock. Sayang?? sangat mengelikan menurutnya. Bukanya panggilan itu lebih cocok ditujukan untuk Elle yang note bane anak mereka walau tak jelas statusnya.


"Kenapa kalian diam? apa aku salah?"


"No! baik kalau kau ingin begitu. Papa akan melakukannya. Apa kau senang?" Elle tersenyum senang dan memeluk leher papanya erat.


"Tentu saja." jawabnya gembira. Anak itu kembali bergelung manja dalam pelukan Sofia.


" Mama sakit apa , ma?"


"Hanya sedikit pusing. Mama hanya alergi dingin." balas Sofia. Elle mengangguk mengerti.


"Apa aku sudah boleh sekolah lagi?"


"Sebaiknya jangan dulu El, biarkan fase pemulihanmu usai." Nando menjawab dengan nada khawatir. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Elle dikemudian hari karena melanggar anjuran dokter.


"Tapi Elle kangen sekolah dan teman-teman, pa." rengek Elle manja. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Sudah, besok mama antar kamu ke sekolah princess." Sofia yang tidak tega berusaha menenangkan Elle.


"Tidak Sofia! Elle akan tetap dirumah hingga observasinya selesai."


"Mas, Elle bisa tetap sekolah dan bertemu teman-temannya. Kita akan bilang pada gurunya agar dia tidak terlalu lama membaca atau melakukan sesuatu. Bukanya dia masih Tk? jangan terlalu mendramatisir suatu hal mas."


"Panggil nama lagi...mas lagi!" sindir Elle dengan kedua tangan dilipat ke dada. Anak itu terlihat sangat kesal hingga bibirnya cemberut.


"Sayang." kata Sofia dan Nando bersamaan. Lalu sama-sama tersenyum canggung.


" Kamu duluan." Nando mencoba mencairkan suasana.


"Aku akan konsultasi dengan pihak sekolah dulu mas ehhh...sayang."


"Sofia...ehhh...sayang...kau masih belum sembuh benar, Elle juga masih harus terapi sementara ini biar dia dirumah dulu."


Lama berpikir , Sofia memutuskan setuju. Ada benarnya, dia juga takut terjadi apa-apa pada Elle karena mereka tidak bisa mengamatinya secara langsung.


"Elle sabar ya nak. Turuti papa." kata Sofia halus.


"Tapi mama harus janji dulu."


"hmmmm...janji apa nak?"


" Mama harus mengantar aku ke sekolah tiap hari." wajah Elle yang kesal terlihat lucu bagi Sofia. Tangannya terulur mencubit pelan pipi chuby itu gemas.


" Baiklah, mama janji princess.