Dear Husband

Dear Husband
Katakan



"Lho...Elle? kenapa dia tidur disini?" tanya Nando heran. Beberapa jam tadi memang dia habiskan di ruang kerja dady Teguh. Mereka asyik ngobrol bertemakan urusan bisnis hingga sedikit lupa waktu. Kalau saja adzan ashar tidak berkumandang, mungkin ayah anak itu akan tetap fokus pada pembicaraan mereka.


"Elle kangen aku mas." Sofia membenarkan letak selimut putri kecilnya yang sedikit melorot karena gerakannya tadi.


"Jangan membiasakan anak seusia Elle tidur bersama kita sayang. Diluar negeri bahkan anak usia jauh dibawah Elle sekarang sudah tidur dikamar terpisah." Sofia menegakkan tubuhnya. Ada sedikit kekecewaan kala mendengar suaminya bicara hal itu. Kejadian antara Elle dan momy Sisca kembali terlintas dipikirannya.


"Bukannya sebelum bertemu denganku Elle juga tidur sendirian? apa salahnya jika sesekali dia ingin tidur bersama mamanya mas?"


"Tidak ada yang salah sayang...aku hanya bilang jangan dibiasakan." lirih Nando seraya melepaskan pakaian yang melekat ditubuhnya hendak membersihkan dirinya ke kamar mandi.


"Kenapa kalian para bule selalu punya pandangan lain soal mendidik dan kemandirian? tanpa kalian berpikir jika seorang anak juga butuh kasih sayang orang tuanya. Mereka juga punya perasaan." gerutu Sofia kesal. Seketika Nando menghentikan gerakannya. Iris blue oceannya menatap tajam iris kecoklatan Sofia intens. Berlahan dia mendekati sang istri yang tampak kesal.


"Tunggu aku mandi dan sholat ashar dulu. Kita bisa bicarakan ini di taman." lirih Nando membuat sofia terdiam karenanya.


Nando tetaplah Nando. Dia punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalah dalam keluarga kecilnya. Melihat wajah Sofia yang kesal hingga membawa Elle tidur di kamar mereka dan merelakan baby Rafa dalam asuhan orang tuanya adalah tanda tanya besar baginya. Tidak biasanya istrinya yang lembut dan penyayang berbuat aneh seperti itu.


"Ayo." Ajak Nando mengamit lengan Sofia untuk keluar kamarnya. Ya, itu benar-benar kamar pribadinya sebelum punya rumah sendiri dan menikahi Emma.


"Tapi Elle ...." cegah Sofia lirih. Dia yang membawa Elle kesana. Dia takut jika bocah kecil itu terbangun tiba-tiba dan mencarinya.


"Ada Bella yang akan mengurusnya." timpal Nando. Mau tak mau Sofia mengikuti suami tampannya kebelakang kediaman Hutama yang luas dan rapi. Bukannya duduk dibangku taman, Nando malah membawanya ke bawah pohon rindang dan duduk saling berhadapan disana.


"Sekarang katakan apa yang sebenarnya menganggu perasaanmu." tanya Nando lembut. Jemarinya membelai kepala Sofia yang terbungkus jilbab pink terang, senada dengan tunik yang dipakainya.


"Tidak. Aku hanya heran dengan cara kalian mendidik anak."


"Kalian?" Nando mengangkat salah satu alisnya.


"Ya..kalian para bule." tegas Sofia lagi seraya menekankan kata 'bule' yang tentu saja membuat perasaan Nando tersentil. Bagaimanapun ada darah Eropa yang mengalir dalam tubuhnya. Perawakannya juga 90% bule warisan sang ibu. Dia juga lahir dan besar di Amerika. Tapi tidak biasanya Sofia membicarakan tema ras setelah mereka menikah. Ada yang aneh.


"Sayang, sama seperti kalian orang pribumi yang punya kebiasaan dan tradisi, kami juga memilikinya. Jika kebiasaan kami yang membuatkan kamar sendiri pada anak memang mengganggu dan tak layak menurutmu, maka kita akan mengubahnya. Mereka tidur dengan atau tidak dengan kita bukan masalah besar bagiku. Tradisi siapa yang berlaku juga tak ada bedanya bagiku. Kita menikah untuk menyatukan perbedaan, bukan membuatnya menjadi perpecahan dan jarak pemisah." ungkap Nando penuh kesabaran. Netra Sofia melebar karenanya. Kenapa suaminya tiba-tiba berubah? mana pria arogan yang biasanya mempertahankan ego di depannya? Sungguhkah ini Fernando satria Hutama suaminya? sesekali mata Sofia mengerjab meyakinkan penglihatannya.


"Boleh kuminta satu hal padamu?" Sofia hanya bisa menganggukkan kepalanya, masih bingung dengan perubahan drastis suaminya yang amat sabar dan dewasa. Jika tidak sedang kesal padanya mungkin sekarang dia akan memeluk tubuh tegap itu dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang sang suami.


"Jangan pernah membicarakan apapun di depan anak-anak meski mereka masih tidur sekalipun."


"Apa hemm??"


"Tidak." Semua kata-kata yang tersusun rapi dalam benaknya menghilang sudah karena terlalu fokus pada perubahan besar sang suami.


"Aku tau ada yang kau sembunyikan sayang. Katakan!" Nando meraih jemari Sofia dan mengecupnya penuh kasih sayang.


"Jika ku katakan aku takut kau tersinggung mas." desah Sofia seraya meletakkan jemari mereka ke pangkuannya.


"Kami para bule suka keterbukaan." sindiran halus Nando yang sangat disadari oleh istrinya.


"Ini tentang mom dan Elle." ucap Sofia amat pelan, nyaris tak terdengar dengan kepala tertunduk. Bagaimanapun dia adalah anggota keluarga baru keluarga Hutama. Pantaskah jika dia bicara soal mertua dan Elle pada suaminya yang baru saja mencintainya? Apa nanti tidak akan timbul salah paham yang membuat cinta Fernando sirna pada dirinya? Aahh...membayangkannya saja sudah membuatnya sedikit takut untuk bicara. Tapi dia tidak bisa membiarkan Elle bersedih setiap waktu bukan?


"Ada apa dengan mereka?" Nando kembali menatapnya tajam. Menengadahkan kepala Sofia yang tertunduk dengan menangkup kedua pipinya.


"Sayang, bicaralah. Masalah tidak akan selesai jika kau terus diam." lanjutnya memaksa.


"Mom bicara soal ..Elle yang bukan bagian keluarga ini. Itu membuat Elle menangis dan aku membawanya ke kamar agar dia tenang tadi. Bukan maksudku untuk membiasakannya tidur dikamar kita mas, tapi aku kasihan padanya. Elle tidak tau apa-apa soal masalah kalian semua. Dia hanya anak tak berdosa yang bahkan tidak tau dari rahim siapa dia dilahirkan. Dia sudah cukup menderita dengan semua ini mas." Sofia menyusut air matanya yang mulai berjatuhan. Elle memang bukan putri kandungnya, tapi dia sangat menyayangi anak itu sejak pertama bertemu.


"Sofia dengar.....Elle memang harus tau semuanya."


"Apa maksudmu mas? Kau mendukung mom?"


"Mom tidak sepenuhnya salah sayang, tapi juga tidak benar. Beliau hanya ingin aku bersikap tegas dan mulai memilah sesuatu. Antara cinta, kewajiban dan kebenaran. Apalagi sudah ada Rafa sekarang. Elle bukan anak kandungku. Itu yang harus mulai kuterapkan. Aku tidak bisa terus menerus membagi kasih sayangku padanya."


"Dia juga pernah jadi putrimu mas."


"Maka itu kewajibanku sudah usai Sofia. Aku sudah membesarkan dia dengan kasih sayang, juga menyekolahkan dia disekolah terbaik hingga lulus nanti. Itu sudah lebih dari cukup untuknya. Anak kandungku yang lahir dari rahimmu akan mendapatkan haknya sebagai tuan kecil dikeluarga ini. Hak yang tak kan pernah Elle miliki meski kau yang memintanya. Kau boleh menyayanginya, tapi jangan pernah membuatnya punya kedudukan yang sama dengan putra kita. Dia akan jadi bumerang untuk keluarga kita jika kau terus bersikap lemah. Dan tentang mom...aku yang akan bicara padanya." Sofia menatap lekat suaminya. Pria yang bersikap amat tegas, realistis dengan mata penuh cinta itu tersenyum padanya. Tiba-tiba dia tidak bisa menahan diri untuk tak menghambur ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku mas." lirihnya. Nando memeluknya hangat, mengecup pucuk kepalanya penuh cinta.


"Kau tau, saat aku memutuskan mulai mencintaimu maka aku benar-benar sudah bebas dari masa lalu. Hanya kau saja yang akan ada dihatiku, Sofia hutama."