
"Sudah cukup Sofia. Aku sudah kenyang." Fernando menolak suapan istrinya yang baru beberapa kali masuk ke dalam mulutnya. Entah kenapa dia sama sekali tidak berselera makan. Mulutnya terasa pahit, entah karena rasa masakan itu atau pengaruh lain.
"Kau harus melawan racun yang menyerang daya tahan tubuhmu. Mengandalkan obat saja tak akan cukup kecuali kau makan makanan yang bisa membantu imunitas tubuhmu." Sofia mencoba kembali menyuapkan makanannya, ogah-ogahan Nando menerima lalu menelannya. Lama-lama dokter cantik itu tak tega juga melihat ekspresi sang suami yang terlihat tersiksa dengan menu makanannya.
"Apa ada yang kau inginkan? ehmm...maksudku menu lain yang bisa kusiapkan?" Akhirnya Sofia mengalah. Dia tau betul bagaimana rasanya sakit dan tak enak makan. Seketika mata Fernando berbinar. Tapi sekejap kemudian luruh menjadi kembali sayu.
"Tidak. Biar aku makan sup itu saja." tolaknya. Sofia yang menyadari perubahan ekspresi suaminya menatapnya intens.
"Katakan apa yang kau inginkan." tekannya kemudian. Enam bulan mengabaikan ayah anak-anaknya tampaknya membuatnya merasa amat berdosa. Sungguh dia tak ingin terjadi apa-apa pada diri Fernando.
"Mas...."
"ehhh.." siapa sangka mata sayu itu kembali berbinar. Bahagia rasanya mendengar panggilan itu kembali hadir di indera pendengarannya setelah sebelumnya Sofia bersikap kaku dengan menyebut aku kamu pada tiap percakapan mereka.
"Katakan...." ulang Sofia kembali memaksa.
"Aku mau ayam bakar buatanmu boleh?" jawab Fernando takut-takut seperti anak kecil yang meminta sesuatu pada ibunya. Tapi dia benar-benar bosan dengan menu sup Sarla yang tiap hari dia santap. Enam bulan ini dia selalu mengingikan masakan khas Indonesia yang dimasak istrinya.
"Ehh tapi jika kau keberatan biar aku memesan makanan online saja. Aku takut kau dan bayi kita kecapekan." lanjutnya sambil mengelus perut Sofia yang membesar. Tubuh Sofia hingga menegang karenanya.
"Jangan, hanya ayam bakar. Aku akan memasaknya. Tak baik makan diluar saat kau kurang sehat. Tunggulah sebentar."
"Mom...boleh aku tidur di kamarku?" Rafa tiba-tiba sudah melompat dari ranjang dan mengenakan sandal rumahnya.
"Kau bilang ingin tidur dengan dady tadi?"
"Tapi aku ingin mendengar kelanjutan cerita mbak Maria kemarin."
"Cerita? biar nanti momy bercerita untukmu." putus Sofia agar putranya tetap tidur diantara mereka. Aneh rasanya jika dia hanya akan tidur berdua saja dengan Fernando. Dia butuh kehadiran Rafa untuk mencairkan suasana.
"Ceritanya tidak akan sama mom. Sudah ya...good night dad, mom..." pamit si kecil seraya mencium cepat pipi ayah dan ibunya kemudian berlari ke pintu.
"Aku tinggal ke dapur dulu." kali ini Sofia yang pamit, berdiri berlahan menuju pintu. Dia harus memasak secepatnya agar Fernando tak kelaparan atau lebih tepatnya mumpung Fernando berselera makan.
"Apa Rafa sudah tidur?" tanya Nando saat dia masuk membawa nampan berisi makanan lengkap dengan air minumnya.
"Maria sudah menemaninya. Nanti aku akan melihatnya usai kau makan. Sekarang makanlah." Sofia mengangsurkan piring lebar ke pangkuan Fernando tapi pria itu hanya menatapnya saja.
"Maukah kau menyuapiku?" kembali pertanyaan bernada ragu terlontar dari bibir sang tuan muda Hutama hingga Sofia dibuat gemas karenanya. Bergegas dia mengambil piring itu lalu mulai menyuapi Fernando. Tak seperti tadi, pria itu makan dengan lahap hingga menu di atas piring itu habis tak bersisa. Sofia segera mengambilkannya minum yang juga langsung dihabiskan dalam sekali tenggak.
"Minum obatnya sekalian mas." Fernando berdecih kesal. Dia memang tak suka aroma obat. Rasa enggan bercampur malas menguasainya.
"Kalau kau tak mau minum, maka infus itu akan terus menusuk tanganmu."
"Aku akan meminumnya jika melepaskannya." bukannya menurut, sang suami malah membuat aksi tawar menawar dengannya. Sofia menarik nafas panjang. Jengah.
"Baiklah, tapi kau harus berjanji akan menuruti saran dan aturanku. Bagaimanapun aku doktermu. Aku hanya ingin kau cepat sembuh."
"Kau juga istriku Sofia, bagaimana aku bisa sembuh jika yang sakit adalah hatiku? disini...rasanya amat pedih." Fernando menekan dadanya seiring dengan matanya yang kembali berkaca. Rasa takut ditinggalkan semakin menghantui pikirannya.
"Jika saat sembuh nanti kau akan pergi dariku, lebih baik aku sakit seumur hidupku asal kau selalu disisiku." lanjutnya amat lirih dengan kepala tertunduk. Sofia hingga dibuat kaget karenanya. Ini bukan watak asli Fernando. Kemana pria kuat dan penuh ketegasan yang menikahinya beberapa tahun lalu? jika dia tak salah menilai maka itu berarti Fernando sedang berada di titik terendah dalam hidupnya. Pria itu telah kehilangan rasa percaya dirinya hingga menjadi sosok lain yang sama sekali dia tak kenal. Ahh...tiba-tiba dia merindukan sosok Fernando satria Hutama dalam setelan awal saat mereka pertama kali berjumpa.
"Apa kau lupa pada janjimu sesaat setelah menikahiku? kau bilang tidak akan pernah ada perceraian dalam pernikahan kita bukan? tidak akan ada yang akan pergi atau saling meninggalkan. Aku dan anak-anak akan selalu bersamamu apapun keadaanmu mas. Saat menikah denganmu maka aku adalah tanggung jawabmu. Tugasku adalah disisimu, menemanimu baik dalam keadaan susah atau senang, kaya atau miskin, bahagia ataupun sengsara. Kau juga harus ingat, aku sudah terbiasa hidup susah. Jadi jangan khawatirkan aku dan anak-anak."
"Apa itu artinya kau sudah memaafkanku Sofia?" Sofia kembali dibuat tertegun pada perubahan sikap suaminya. Kemana Fernando yang percaya diri, keras kepala, suka memaksa, juga romantis dengan caranya. Semuanya sirna tak bersisa.
"Selalu berada disisimu bukan berarti aku memaafkanmu mas." Kepala Fernando terangkat tegak, kembali menatapnya sayu, menghiba. Rasa tak tega menjalari perasaan Sofia. Tapi melembutkan hati hanya akan membuat lelakinya lemah. Dia ingin Fernandonnya yang dulu. Pria tangguh dan mempesona.
"Kau pernah bilang padaku untuk selalu memaafkan semua kesalahanku kecuali perselingkuhan bukan? aku tidak berselingkuh Sofia, dan aku juga tak suka selingkuh. Tapi kenapa kau tak mau memaafkanku?" ucap Fernando berapi sambil memegang kuat kedua bahunya. Sofia tersenyum amat tipis dibuatnya. Masih ada harapan baginya untuk mengembalikan Fernandonya.
"Aku akan memaafkanmu setelah Hutama Grup stabil. Mulai sekarang kau harus bersemangat." ujarnya tegas.
"Baiklah, tapi kau juga harus berjanji tetap ada disisiku." benar bukan? jiwa angkuh dan arogan Fernando tertantang? selanjutnya dia hanya perlu bersikap manis hingga membuat lelakinya merasa nyaman.
"Ya, aku berjanji."