
Nando membopong tubuh kecil Elle yang sudah tertidur di sofa kamar saat dia tinggal mandi tadi. Rupanya nona kecil itu kelelahan karena seharian tidak mau tidur. Dia menunggu mama Sofianya pulang. Ditatapnya tubuh Elle yang sudah dia letakkan diranjang, lalu menyelimutinya. Dia kembali turun untuk menunaikan sholat isya.
Terasa aneh... semua yang dia lakukan mejadi terasa sangat aneh. kali ini dia sholat sendirian, tidak menjadi imam seperti biasanya. Mandi sendiri, saat biasanya Sofia menyiapkan air mandi dan peralatan mandinya. Saat keluarpun, baju gantinya sudah siap diatas ranjang. Sofia juga selalu melayani dirinya dan Elle dimeja makan walau mulut pedasnya selalu mencibir menu yang dimakan Sofia. Menu berat,makanan khas kampung yang tak sesuai seleranya. Tidurpun Sofia yang selalu menyelimuti Elle dan dirinya dengan telaten. Ahh..ada apa dengan dirinya? kenapa bayangan Sofia seolah tampak dimana-mana? kemana bayangan Emma, wanita yang dicintainya.
Dalam gundah, dia mendirikan sholat. Keresahannya sedikit terkikis , larut dalam doa yang dia panjatkan dengan khusyuk. Dia langsung membuka mata saat sadar telah menyebut nama Sofia dalam doanya. Entah sadar.atau tidak, dia mendoakan keselamatan dan kelancaran pada istrinya itu. Usai berdzikir, Nando berbalik. Lagi-lagi hatinya hampa karena tak ada tangan yang meraih dan mencium punggung tangannya takzim. Hampa...hatinya terasa hampa entah mengapa.
Dengan gerakan pelan, dia naik ke atas ranjang. Diraihnya ponsel yang sedari tadi dia letakkan dimeja samping tempat tidur.
.....Sofia.....
Foto wanita ayu dengan jas putih duduk dimeja kerjanya dengan rambut ekor kuda yang menambah kecantikan alaminya terpampang disana. Ditatapnya foto itu lekat. Sofia memang tidak secantik Emma, bahkan tidak ada apa-apanya dibanding mendiang istrinya itu. Namun aura kecantikan, kecerdasan dan kepercayaan dirinya menutupi semua kekurangnnya. Ya...dua kecantikan dengan versi berbeda.
Yang menjadi fokus utamanya adalah kapan waktu terakhir Sofia online.Ternyata tepat dua jam lalu saat mereka menutup teleponnya. Jarinya bergerak menulis pesan, namun urung dikirimkan. Harga dirinya sebagai tuan muda Hutama terlalu tinggi untuk mengirim pesan duluan. Ponsel itu masih tetap berada ditangannya hingga dirinya memasuki alam mimpi.
Adzan subuh berkumandang saat Nando terjaga dari tidurnya. Sedikit meregangkan otot tubuhnya, pria itu melirik ke samping. Disana Elle masih terlelap dibalik selimut tebalnya. Kembali ada yang aneh disana. Tidak ada lagi sosok Sofia yang biasanya tidur sambil memeluk Elle. Hal yang membuat Nando benar-benar terharu. Mereka mirip pasangan ibu dan anak yang saling menyayangi.
Ada banyak perubahan yang dialami Nando saat Sofia masuk ke dalam rumah itu. Wanita itu begitu terampil dan cekatan mengurus dirinya dan Elle serasa dia murni ibu rumah tangga biasa meski pada kenyataanya dia seorang dokter yang punya kesibukan sendiri. Membawa Elle tidur bersama juga hal yang baru baginya karena sejak bayi Elle sudah tidur dengan Maria. Tak pernah sekalipun Emma menimang atau merawat Elle, menyusui saja tidak. Dia juga selalu melarang Elle masuk ke kamar mereka. Tapi Sofia? wanita itu begitu sayang pada Elle. Baru kali ini Nando merasakan hangatnya sebuah keluarga.
Bergegas turun dari ranjang, Nando membersihkan dirinya dan mengambil wudhu, melaksanakan dua rekaatnya dengan penuh ketenangan. Tak ada yang pernah berubah dalam hidupnya. Tak pernah juga dia meninggalkan sholat, meski hidup di dunia bisnis yang sibuk atau hidup satu atap dengan Emma yang nyaris tidak mengenal agama selain hura-hura dan menikmati hidup versi dirinya sendiri. Tak terhitung berapa kali Nando mengingatkan sang istri untuk menjalankan kewajiban seorang muslim, tapi Emma selalu menolak dengan berbagai alasan. Nando yang dibutakan cinta hanya mampu diam dalam doa, termasuk melihat perlakuan Emma pada Elle.
...... Sofia lagi......
Ahh ya Tuhan, dia benar-benar menyebut nama Sofia kembali dalam doanya. Bagaimana dia bermunajat untuk kebaikan wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Ada apa dengan dirinya?
"Ma, aku mau ke kamar mandi." kata Elle yang langsung membuyarkan lamunan Nando. Bergegas dia menghampiri Elle ditepi ranjang.
"Sayang, mama sedang tugas, nggak pulang. Elle sama papa saja ya?" Nando membantu putrinya turun dan menuntunnya ke kamar mandi, hal yang biasa dilakukan Sofia. Betapa istrinya itu wanita yang tulus, lembut dan penyayang.
" Elle mau mandi sekarang pa."
" Ini masih sangat pagi Elle."
" Tapi aku harus mandi pa. Mama selalu bilang kalau aku harus lekas mandi setelah bangun. Tolong panggilkan mbak Maria ya pa." Nando mengiyakan. Dia menuntun Elle menuju kamarnya sendiri karena semua pakaiannya masih berada disana seraya sedikit berteriak memanggil Maria yang ada di lantai bawah. Sofia sudah membawa banyak perubahan dirumah ini.
'Apa kau sudah bangun? jangan lupa sholat.'
akhirnya pesan itu terkirim juga. Perasaan was-was kembali dirasakan Nando saat menatap centang biru disana, pertanda Sofia sudah membacanya.
'maaf, siapa?'
Balas Sofia. Nando merasa muak. Bagaiamana bisa Sofia bertanya siapa dirinya. Memangnya ada berapa orang yang perhatian dan mengirimkan pesan padanya? hatinya tiba-tiba merasa terbakar. Kesal, dibalasnya pesan itu dengan hati dongkol.
'Fernando satria hutama.'
'Maaf tidak mengenalimu. Tidak ada foto profilmu.'
Kali ini Nando menepuk jidatnya. Whatsappnya memang tidak memuat foti tentang dirinya karena sejak Emma meninggal dia memang tidak pernah memegang ponsel. Semua yang menghubunginya hanya melewati telepom rumah, kantor atau menghubungi sekretaris Alex yang memang selalu ada 24 jam disampingnya. Nando memang menyuruh Alex tinggal dirumah itu setelah Emma meninggal. Dia butuh teman yang mengerti tentang dirinya. Alex baru meninggalkan rumah itu dan kembali ke apartemen setelah dia menikah dengan Sofia beberapa bulan lalu.
'Ada logo perusahaanku disana.'
protes Nando menutupi kebodohannya.
' Sekretaris Alex juga memakai foto itu.’
Kali ini Nando benar-benar dibuat diam. Dia juga baru sadar jika yang dipakai Alex menghubungi istrinya adalah nomer kerja, bukan whatsapp pribadinya.
' Nanti aku akan menggantinya. Jangan lupa sarapan.'
'ya.'
jawaban singkat Sofia membuat Nando gemas. Dia bahkan sudah menurunkan egonya dengan mengirim pesan duluan, memberi perhatian dan juga mengalah pada Sofia, tapi jawabannya hanya pendek-pendek saja. Nando meletakkan ponsenya dengan wajah ditekuk. Tidak biasanya dia diabaikan. Dia tidak suka itu. Mana Sofia yang biasanya hangat dan peduli padanya? Baru satu hari jauh darinya saja dia menjadi tidak patuh. Apa ini karena dia sudah menemukan donor mata bagi Elle dan menganggap ini langkah awal untuk pergi dari kehidupannya?
"Tidak!" dengus Nando spontan.
"Aku tidak akan melepaskanmu semudah itu Sofia!!"