
Shandy kembali menjalankan mobilnya untuk masuk ke pagar rumahnya sendiri setelah pintu mobil tertutup. Dia tidak ingin terlalu ikut campur urusan rumah tangga suami istri itu begitu tau siapa yang datang. Pun dia juga tidak mau menoleh sedikitpun saat turun dari mobilnya dan masuk ke rumah walau dia tau, Fernando sedang memperhatikannya dengan mata tajam. Tak ada niat hatinya untuk mencari masalah dengan tuan muda Hutama itu karena tak jauh dari sana pasti ada Alex yang menemaninya dari jauh. Bukan kebiasaan penerus Hutama untuk pergi seorang diri tanpa pengawalan. Bukan karena takut, tapi dia tak ingin terluka lagi.
"Kau mengenalnya?" tanya Sofia yang mengikuti arah pandang sang suami formalitasnya. Nando menoleh padanya, menatapnya tak kalah tajam.
"Bukan urusanmu. Sekarang pulang!" sentaknya.
"Aku tidak mau!" balas Sofia dengan nada rendah namun penuh tekanan.
"Baik!" dan tanpa aba-aba, Nando membuang payungnya asal dan menarik tubuh Sofi dalam gendongannya seperti memanggul karung beras.
"Lepaskan mas!!" pekik Sofia seraya memukul-mukul bahu Nando agar pria itu menurunkannya. Tapi bukannya berhenti dan menurunkannya, pria itu malah mempercepat langkahnya menuju mobil dan membanting tubuhnya di jok belakang lalu menyusulnya masuk. Seorang sopir menutup pintu lalu mengemudikannya.
"Aku tidak mau pulang!" pekik Sofia lagi. Dia masih terus berontak minta turun walau tau itu sia-sia. Pintu tak akan terbuka karena gerakannya. Geram, Nando menarik lengannya hingga dia terjatuh dalam pelukan pria itu.
"Diam dan turuti aku." bisik pria itu penuh intimidasi. Jarak mereka yang terlalu dekat membuat Sofia membeku dalam bisu. Bibir merah itu terlihat penuh hingga terlihat sangat seksi dimatanya. Bayangan ciuman mereka berputar dikepalanya. Cepat dia bangkit dari sana dan bersandar ke jok. Tak ada lagi gerakan dari tubuhnya. Dia malah sibuk membenarkan duduknya dan meraih tasnya yang terjatuh tadi.
"Elle demam lagi." Nando berkata pelan hingga hanya menyerupai gumaman namun masih bisa di dengar Sofia dengan sangat baik. Senyum sinis terlihat dari sana.
"Jadi itu alasanmu menjemputku?" katanya dingin. Elle. Hanya itu. Dia harus cukup puas mendengar alasan itu untuk penjemputan dramatisnya sore itu. Dia memang hanya istri diatas kertas seperti perkataan Shandy tadi.
"Apa kau perlu alasan lain?"
"Tidak. Sudah cukup." Dan tak ada lagi percakapan diantara mereka hingga tiba dikediaman Fernando. Sofia turun tanpa menunggu sopir membukakan pintu untuknya. Nando menjajari langkahnya masuk ke rumah.
"Selamat datang tuan dan oohhh..anda nyonya. Selamat datang kembali nyonya." Rona bahagia terpancar dari netra bi Mimi yang membuka pintu sore itu. Bi Lani dan dua pelayan lain seketika berlari dari dapur keruang tamu begitu mendengar kata-kata bi Mimi. Mereka berbaris menyambut sang nyonya. Hanya Maria yang menyambut belakangan karena masih berada dikamar Elle tadi.
Sofia membalas salam mereka dengan sopan. Entah kenapa dia melihat wajah-wajah itu begitu tulus dan sumringah menyambutnya. Nando membiarkan mereka berbasa-basi sejenak lalu menarik lengan Sofia ke kamar Elle.
"Hey...ada apa ribut-ribut. Suara cempreng kalian menganggu istirahatku. Dasar pembantu tak tau diri." bentak seseorang dari kamar atas. Dari kamarnya dan Nando. Sofia meradang. Sebegitu bejatkah moral Fernando hingga membawa wanita lain ke kamar mereka? apa sudah tidak ada tempat lain dirumah besar itu selain kamar mereka?
"Sayang, ada apa? tidak biasanya kau pulang awal. Aku bahkan belum sempat mandi untuk menyambutmu." ujarnya manja sambil bergelayut dilengan kanan Nando yang masih mematung ditempatnya. Ingin rasanya Sofia menjambak rambutnya dan membantingnya ke lantai jika tak ingat adab. Emosi Sofia kembali terpicu karena sikap Nando yang terkesan mendiamkan, namun tidak menolak sama sekali. Sofia berdecih sebal.
"Lepaskan tanganmu dari suamiku nona!" kata Sofia tegas dengan wajah dingin tak bersahabatnya. Wanita itu memandangnya dan sedikit menjauhkan tubuhnya yang dibalut baju kurang bahan dari tubuh Fernando.
"Kau? suami? Kau katakan Nando suamimu? ha...haa...." tawa wanita itu bergema diruangan luas itu seakan mengejek Sofia. Matanya menatap setiap inci tubuh tinggi semampai Sofia yang masih mengenakan celana pensil dan kemeja lengan panjang lengkap dengan pasmina warna senada yang menutup auratnya.
"Kau jangan bercanda ha...ha..…" tawanya lagi.
" Kau yang sedang bercanda nona. Aku istri sah Fernando. Jika kau meragukan itu, kau bisa bertanya pada seluruh penghuni rumah ini, atau cek saja dokumen pernikahan kami. Ohh ya...dari tadi kau terus saja tertawa. Apa kau sedang menertawakan dirimu sendiri?" Ujar Sofia tersenyum miring.
"Apa? Clara bukan tipe wanita seperti itu."
"Clara? oohh...jadi nama anda Clara? hmmmm begini nona Clara, kalau bukan wanita seperti maksud saya lalu anda wanita seperti apa?"
"Aku? aku wanita dari keluarga terhormat, kaya raya dan terpelajar tentunya. Siapa kau yang mengaku sebagai istri Fernando? menjijikkan!"
"Wanita terhormat? ha..haa....sejak kapan wanita terhormat dan terpelajar tinggal dan tidur sekamar dengan pria yang sudah beristri? Dimana anda sekolah untuk belajar jadi wanita terhormat nona?" Sofia malah makin tertantang. Tak ada beban dihatinya. Toh kalah atau menang dia tetap tidak akan bisa mendapatkan hati seorang Fernando. Tapi setidaknya dia ingin kalah secara terhormat dan meninggalkan rumah itu dengan kepala tegak. Dia murni melakukannya karena mempertahankan posisi dan harga dirinya.
"Tutup mulutmu ******!" dan sebuah tamparan melayang kearah pipi kiri Sofia. Semua orang menahan nafas karena perlakuan tak terduga dan tiba-tiba itu. Namun tangan itu terhenti diudara. Sofia dengan sigap menangkapnya dan memegannya erat hingg Clara tidak bisa melepaskannya meski sudah berusaha keras. Tenaganya tetap kalah dari anak petani desa yang biasa memegang jangkul tiap hari.
" Kau sebut aku ******? kurasa itu sebutan yang cocok buatmu saja. Dan jangan coba-coba berbuat kasar padaku karena aku tidak akan sungkan membawamu kejalur hukum. Kau hanya tamu tak diundang dalam keluarga ini. Jadi bersikap sopanlah jika masih mau tinggal. Ohh ya...kamar tamu di sana. Yang kau tempati adalah kamarku jadi maaf jika aku mengusirmu. Bibik...angakat semua barang nona ini dan bawa ke kamar tamu. Ganti semua yang ada disana dengan yang baru karena saya tidak mau ada bau apapun tertinggal disana!" perintahnya tegas.
"Baik nyonya." seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru, semua pelayan bergerak cepat dengan senyum cerah menuju lantai atas.
"Bik, jangan dicuci. Bakar saja!" perintahnya lagi membuat Clara meradang dan menendang Sofia. Namun wanita itu dengan cepat menghindar dan menghempaskan tangan perempua itu kasar hingga tersungkur dilantai. Sofia dengan cuek melewatinya dan naik ke atas menyusul para pelanyannya. Disana....Fernando tersenyum tipis.