Dear Husband

Dear Husband
Lagi



"Elle sudah pergi dari kehidupan kita." bisik Nando membuat Sofia membeku karenanya. Dia yang tadinya terus berontak jadi diam.


"Kau tak akan lagi bisa bertemu dengannya karena Emma sudah menjemputnya." Lanjut tuan muda Hutama itu lagi. Terlihat sekali matanya berkaca. Mata Sofia membulat.


"Inalilahiwainalilahirojiun......" desisnya.


"Maka itu aku menjemputmu dan Rafa untuk pulang."


"Setelah dua bulan lebih tinggal bersama di apartemen dengannya kau baru ingin menjemput kami?" lirih Sofia dengan raut wajah tak terbaca. Hatinya sakit sekali bahkan untuk mengatakan satu kata lagi untuk meneruskan kalimatnya.


"Sayang bukan itu maksudku......" sanggah Fernando mencoba menjelaskan kesalaj pahaman diantara mereka.


"Lalu apa? selamanya aku akan hidup dibawah bayang-bayang mantan istrimu dan semua kenangannya. Ini salahku atau memang resikoku sebagi orang kedua yang datang dalam hidupmu??" Sofia melepaskan dirinya dengan gerakan cepat. Nandopun segera bangkit dan mengejarnya.


"Aku minta maaf Sofia." Katanya dengan suara lantang. Hal yang sukar dilakukan seorang Fernando yanh egois dan arogan karena permintaan maaf adalah hal yang memalukan baginya.


"Andai semua hal bisa diselesaikan dengan kata maaf, tak kan ada polisi atau penjara bagi si durjana." sindir Sofia pedas.


"Tapi kau harus pulang. Tempat ini tak layak bagi keluarga Hutama."


"Jika Elle tak meninggal mungkin selamanya kau juga akan menomer duakan anak-anak demi seseorang dimasa lalumu itu. Obsesi terbesarmu." Tangan Nando hampir menjangkau tubuh Sofia saat dokter cantik itu menepisnya.


"Jika kau menghargai aku maka jangan pernah menyentuh tubuhku Fernando satria hutama." Mendengar namanya disebut, Fernando langsung naik pintam. Dia tak suka namanya disebut langsung oleh orang yang dicintainya tanpa embel-embel apapun. Seolah-oleh Sofia benar-benar tau mau menghargai dirinya sebagai suami.


"Baik. Aku tidak akan pernah menyentuhmu!! apa kau puas? aku juga tak akan peduli padamu!!" teriak Fernando garang. Kehilangan Elle dan penolakan Sofia pada dirinya sama-sama membuat bekas luka dihatinya hingga dirinya benar-benar tak bisa berpikir jernih karenanya.


"Itu lebih baik. Kau harus tau jika kami bukan tempat singgah yang bisa kau kunjungi jika kau butuh beristirahat dari kejamnya kehidupan." Ucap Sofia sebelum Fernando menuruni anak tangga meninggalkannya atau lebih tepatnya meninggalkan tempat itu. Dia masih bisa melihat langkah lebarnya melintasi halaman sebelum sebuah mobil mewah mendekati dan membawanya pergi. Sofia menyeka air matanya. Ya, dia harus tegas pada keadaan yang membuatnya merasakan nestapa.


Menjadi ibu dari dua anak harus membuatnya berpikir realistis. Dia tak berharap Fernando kembali atau sekedar menepati janjinya untuk tidak akan pernah ada perceraian dari hubungan mereka. Dia juga tak akan berharap banyak dari keluarga sang suami, takut dikatakan aji mumpung. Itu bukan dirinya.


"Mom...tolong tarik Hena kembali ke Jakarta." katanya begitu panggilan tersambung pada Fransisca. Tentu saja wanita paruh baya itu merasa terkejut karenanya. Mertuanya itu bahkan memilih diam saat Sofia menceritakan kronologi permasalahannya dengan putranya. Sofia memang harus mengambil langkah itu lebih awal karena memikirkan keuangannya yang hanya bekerja sebagai pegawai negeri sipil yang hanya bisa hidup sederhana saja.


"Sofia, menjadi menantu atau tidak dari keluarga Hutama kau tetap akan mendapatkan fasilitas pengamanan karena cucu-cucuku ikut bersamamu. Kau tak bisa mengabaikan itu. Mereka bukan orang biasa dan tak bisa dicetak sebagai orang biasa saja olehmu. Maka itu jangan beralasan tak bisa menggaji mereka karena anak-anakmu punya seperempat saham perusahaan yang dikelola dadynya. Nilainya tidak main-main. Momy yakin Fernando akan mengirimkan keuntungan saham padamu tiap bulannya karena dia pria yang bertanggung jawab. Walau dia tak peduli padamu tapi dia tak akan tutup mata pada anak-anakmu. Kau bukan hanya bisa menggaji dua orang dengan uang itu..bahkan bisa dua puluh atau berapapun yang kau inginkan. Jadi berhenti berhemat dan memikirkan soal keuangan karena kami semua tak akan membiarkanmu sendirian diluar sana." kata Fransisca tegas diseberang sana. Dia tau Sofia menangis, sebagai sesama wanita dia juga memahami perasaan menantunya. Bagaiamanapun Fernandolah penyebabnya. Tapi memperingatkan Fernando dengan kata-kata bukan hal yang tepat. Dia mengenal anaknya dan punya cara tersendiri untuk mengingatkannya.


"Jalani hidupmu seperti biasa Sofia. Seperti saran momy....anggap saja kau sedang liburan. Yang ditakdirkan menjadi milikmu akan tetap menjadi milikmu. Kau cukup menjaga marwahmu sebagai seorang istri dan juga anak-anakmu dengan baik. Masalah Fernando...kami keluarganya yang akan bertanggung jawab menggembalikan dia padamu." Sofia hanya menganggukkan kepalanya samar dan menjawab salam sang mertua sebelum menutup teleponnya.