
"Kau tau, saat aku mulai mencintaimu maka aku sudah benar-benar bebas dari masa laluku. Hanya kau yang ada dihatiku, Sofia hutama." bisik Nando mesra. Sebuah kecupan kecil hinggap di bibir basah Sofia yang tersenyum malu karena kata-kata suaminya. Mungkin bagi orang lain tak romantis, karena Fernando mengucapkannya dengan wajah datar. Tapi bagi Sofia, semuanya terasa amat romantis. Pria yang terlihat galak, arogan dan dingin bak singa saat mereka pertama kali bertemu itu sudah benar-benar berubah bak kucing lucu namun bisa berubah kembali menjadi singa yang garang kala miliknya diganggu.
Nando membelai kepala istrinya lembut. Tangan kuatnya memeluk wanitanya dengan berjuta perlindungan. Entah kenapa Sofia selalu merasa nyaman kala berada dalam dekapannya. Dihirupnya wangi parfum maskulin yang menguar dari tubuh Fernando.
"Lain kali bicaralah jika ada masalah sayang. Jangan memendamnya terlalu lama. Itu hanya akan menimbulkan kesalah pahaman dan masalah baru dalam pernikahan kita." Nasihat Nando lirih. Sofia hendak melepaskan pelukannya kala tangan Nando menahannya.
"Biarkan begini dulu. Kita jarang punya waktu berdua bukan? anggap saja kita pacaran setelah menikah." bluusss...wajah Sofia sontak memerah karena mendengar kata-kata Fernando. Beginikah rasanya pacaran? hal yang bahkan tak pernah dia lakukan hingga beranjak dewasa dan menjadi seorang dokter. Andai tak bertemu Nando mungkin dia masih melajang dan disebut perawan tua dikampungnya. Banyak pemuda atau orang tua yang segan dekat dan datang melamar karena dia seorang dokter, tak cantik pula. Tapi lihatlah sekarang, saat dia menjadi nyonya muda Hutama...Bella sudah menyulapnya menjadi berbeda. Cantik alami namun penuh pesona hingga seorang Fernandopun berkenan membuka hati padanya.
"
"Tapi sudah saatnya Rafa minum asi mas. Takutnya mom mencari kita." protes Sofia. Dia memang sudah merasakan denyutan pada dadanya yang terasa penuh. Pasti saat ini Rafa haus.
"Hmmm begitukah?"
"Ya. Ayo masuk. Lain kali kita bisa pacaran lagi."
"Bagaimana dengan bulan madu?" Sofia dibuat kaget untuk kedua kalinya. Bulan madu? kata yang hanya pernah dia dengar, namun belum pernah dia lakukan. Pernikahan mereka memang tak berjalan baik pada awalnya.
"Kurasa belum waktunya mas. Rafa masih amat kecil untuk ditinggal."
"Lalu kapan?"
"Apanya?"
"Tentu saja bulan madunya."
"Nanti saja jika Rafa sudah berulang tahun yang pertama."
"Tapi itu masih lama sayang." protes Nando kesal. Kalau sekarang Rafa masih berusia dua bulan, bukannya harus menunggu sepuluh bulan lagi? Kelamaan.
"Mas, kita juga harus mempertimbangkan jarak kelahiran dan....."
"Bukannya kemarin kau sudah mulai suntik? artinya kau tak mungkin hamil dalam waktu dekat sayang."
"hhhh...bagaimana harus menjelaskan padamu jika alat kontrasepsi itu tidak 100% akurat? dibeberapa kasus malah terjadi pembuahan. Selain itu kita tidak bisa meninggalkan Rafa yang masih minum asi mas."
"Sini." Sofia membuat kaki jenjangnya berselonjor dan menepuk pahanya lembut, memberi isyarat agar Fernando merebahkan kepalanya disana. Tanpa disuruh dua kali sang suami antik merebah.
"Hubby, apa bedanya bulan madu dan tidak? Toh aku selalu berada disampingmu, rumah kita juga sangat nyaman, untuk apa pergi jauh-jauh dan menghamburkan uang sia-sia? Harta yang kau punya sekarang adalah amanah yang harus kau pertanggung jawabkan di yaumul kiyamah nanti. Jadi bijaklah dalam menggunakannya." Suara lembut itu nyaris membuat Nando bergidik. Makna yang sangat dalam dari seorang wanita sederhana yang kini berbagi hidup dengannya.
"Tapi aku juga ingin mengajakmu kesuatu tempat yang belum pernah kau kunjungi. Sebagai nyonya muda keluarga ini kau wajib tau dunia luar Sofia."
"Nanti jika saatnya tepat, aku akan memintanya darimu." Ucap Sofia seraya mengecup kening lelakinya. Nando tersenyum lebar menaggapinya. Beginikah rasanya menikah dalam arti sebenarnya? dia tak pernah mengalaminya pada pernikahan pertamanya.
"Tuan..nyonya..tuan kecil menangis." kata seorang pelayan yang baru keluar dari pintu belakang rumah sambil menundukkan kepalanya. Sofia segera berdiri dari duduknya dan menarik tangan suaminya untuk mengikutinya.
"Terimakasih mbak."
"ohh eehh...sama-sama nyonya." balas pelayan itu terbata. Belum pernah dia menerima ucapan terimakasih yang begitu sopan dari majikannya. Ternyata selain cantik, nyonya mudanya itu juga amat sopan dan menghargai orang lain.
Tangisan baby Rafa menggema diseluruh ruangan keluarga. Teguh hutama dan momy Siska sampai dibuat kalang kabut karenanya. Wajah mereka terlihat lega kala melihat Sofia muncul bersama Nando.
"Aduuh...anak momy haus yaa...." Nando mengelus pipi putranya kala sosok kecil itu sudah berpindah ke tangan Sofia yang segera mengajaknya ke kamar setelah berpamitan pada kedua mertuanya.
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu mom."
"Aku?"
"ya."
"Berarti dad tidak dibutuhkan?" Teguh hutama mengejek putranya yang memang anak mama.
"Bukannya kalian pasangan tak terpisahkan? jadi aku tidak perlu mengundang satu-satu." sindir Nando tak kalah pedas.
"hmmm baiklah. Katakan saja!"
"Ini tentang perkataan mama pada Elle tadi. Sofia sudah bilang padaku mom."
"Lalu" sahut keduanya berbarengan. Ternyata selain tak terpisahkan mereka juga pasangan kompak satu pikiran.