Dear Husband

Dear Husband
Aku tau



"Bagaimana dok? Udah baikan?" tanya dokter Anet yang kebetulan menggantikan salah satu rekannya yang berhalangan hadir siang itu. Dokter seumuran Sofia itu sudah mengobati luka di bibir Sofia bekas tamparan Emily yang kelewat keras dan tak dapat dihindari karena terlalu tiba-tiba dibawah pengaruh emosi.


"Sudah. Terimakasih dok."


"Pasien tadi benar-benar terobsesi dengan suami anda."


"Ya, begitulah." jawab Sofia sekenanya sambil merapikan mejanya. Sebentar lagi dia harus ke kampus untuk mengikuti satu mata kuliah dadakan.


"Suami anda terlalu tampan dan...." dokter Anet sengaja mengantung kalimatnya, membuat Sofia mendongakkan kepalanya penasaran.


"Dan apa?"


"hmmmm....sangat mencintai anda. Saya jadi iri karenanya." lanjutnya lagi sambil tersenyum lucu. Dokter baru itu memang punya selera humor tinggi.


"Iri? ha..haa...baru kali ini ada orang yang iri dengan kehidupan saya." Sofia tertawa ringan.


"Jika ada yang iri, sayalah orangnya dokter Sofia. Kapaann ya saya ini punya suami kayak suaminya dokter? ada adiknya nggak sih? Siapa tau cocok." Anet kembali berkelakar.


"Sayangnya suami saya anak laki-laki satu-satunya di keluarga Hutama dok. Nanti jika mertua saya ada stok anak laki-laki saya kabari ya..." dan keduanya tertawa bersama.


"Boleh minta nomernya dok?"


"hmmm boleh." Sofia lalu memberikan nomer ponselnya pada Anet yang langsung menyimpannya.


"hmmm...saya jalan dulu ya dok. Kapan-kapan kita ngobrol lagi." ujar sofia lalu menyalami Anet yang langsung berdiri menyambutnya.


"Tentu saja dokter. Terimakasih." balas anet ceria. Dia dan Sofia memang tak berada dalam satu shift, tapi tiba-tiba Anet merasa sangat cocok dengan wanita muda berkulit kuning langsat itu. Watak dan pembawaan Sofia yang ramah dan lembut serasa sejalan dengan dirinya yang ceria dan setia kawan.


Taksi online yang dipesan Sofia datang bersamaan dengan mobil putih yang langsung parkir di depan Sofia berdiri. Sekretaris Alex turun dan menghampirinya.


"Selamat siang nyonya muda. Silahkan naik." katanya sambil membuka pintu belakang takzim.


"Maaf sekretaris Alex, aku sudah memesan taksi online. Lihat dibelakangmu. Dia sudah datang." Alex menatap mobil hitam yang terparkir dibelakang mobilnya.


"Tuan muda memerintahkan saya untuk mengantar anda nyonya. Silahkan masuk. Saya akan mengurus taksi online anda." Mau tak mau Sofia masuk ke mobil. Alex segera menutupnya lalu berjalan tegap ke arah sopir taksi dibelakangnya, memberikan ongkos sekaligus tipsnya sekaligus permintaan maaf karena pembatalan order. Tentu saja sang sopir sangat bahagia mendapatkan tips yang terbilang besar itu. Berulang kali dia berterimakasih lalu pergi.


"Siapa yang menyuruhmu kemari Lex?" tanya Sofia begitu Alex masuk ke dalam mobil dan membawanya ke kampus.


"Tentu saja tuan muda nyonya."


"Sekarang aku kakak iparmu. Kita tidak sedang di kantor mas Nando."


"hmmm baiklah. Kak Nando yang menyuruhku." Sofia memang merasa lebih nyaman bercakap-cakap dengan Alex sebagai seorang kakak karena sekretaris suaminya itu terasa lebih kaku saat bertugas.


"Tapi aku masih akan ke kampus."


"Aku tau kak." jawaban datar tanpa mau melirik atau peduli. Dasar!! Anak buah dan majikan yang satu cetakan!


"Kau tau?" tanyanya tak percaya.


"kak Nando juga tau. Maka itu dia menyuruhku menjemputmu."


"Ya. Dia tak ingin kakak naik taksi lagi."


"Sampai kapan dia akan begitu?" keluh Sofia kesal. Akhir-akhir ini suaminya menjadi over protectiv sekali hingga membatasi ruang gerak dan terkesan memata-matai dirinya.


"Sampai dia bosan."


"Lalu kapan dia bosan?"


"Mana saya tau. Mungkin saat sudah tua renta nanti." sahut Alex serasa tanpa beban. Tanpa terasa mereka sudah sampai di depan kampus. Sofia segera mengucapkan terimakasih lalu berjalan ke kelasnya, meningglkan Alex yang menelepon seseorang dalam mobilnya.


"Baik tuan muda." jawabnya lalu memutar arah mobilnya menuju kantor pusat Hutama.


Hampir dua jam mengikuti sesi kuliah dadakan, Sofia keluar dari kelasnya menuju parkiran. Angin yang bertiup agak kencang karena hujan akan turun membuatnya beberapa kali membenahi ujung jilbabnya yang kadang terbang menutupi pandangannya.


"Nyonya."


"Oohh...ya ampun!! Kau mengagetkan aku Lex." pekik Sofia seraya mengelus dadanya. Sungguh dia tidak tau kapan datangnya adik iparnya itu hingga tiba-tiba menyapa di depannya. Mungkin dia kurang minum aqua.


"Maafkan saya. Tuan sudah menunggu anda di mobil."


"Mas Nando?" tanya Sofia ragu. Ini masih jam tiga sore, belum waktunya Nando pulang dan menjemputnya.


"Ya. Tuan ada di mobil. Silahkan." Alex menunjukkan mobil Nando berada dan berjalan dibelakang sang nyonya muda.


"Masuklah." kata Nando lembut sambil menepuk kursi sebelahnya. Sofia menurut.


"Jalan Lex." perintahnya di patuhi oleh sang sekretaris yang segera berlalu dari sana.


"Kau...belum waktunya pulangkan mas?"


"Memangnya kenapa?" tanya balik Nando.


"Pekerjaanmu?"


"Ada banyak karyawan dikantorku. Aku tidak harus mengerjakan apapun." balasnya cuek.


"Kau tau aku sudah pulang?"


"Aku tau segalanya." ucapnya percaya diri.


"Kau memata-mataiku?" tanya Sofia geram.


"Terserah kau. Aku hanya tak ingin anak dan istriku kenapa-napa."


"Mas...kau..."


"diam dan turuti aku sayang." jawab Nando lalu merengkuh Sofia dalam pelukan hangatnya.