
Sofia terus berjalan cepat memasuki lift yang akan membawanya turun ke lantai dasar. Tidak dia hiraukan pertanyaan sekretaris Alex yang kebetulan berpapasan dengannya. Air matanya tumpah sempurna saat sampai di dalam lift yang kosong karena masih berada di jam kerja. Pasti banyak karyawan yang sibuk dengan pekerjaannya dan memilih duduk anteng dikubikelnya masing-masing.
"Nyonya....anda baik-baik saja?" sapa Tara yang berada dibalik mejanya. Gadis itu sempat melihat Sofia menyeka air matanya tergesa. Nyonya mudanya ity terlihat sedikit berantakan walau tidak mengurangi kadar kecantikannya sebagai wanita sederhana. Sang resepsionis terlihat sedikit gugup dan bersikap terlalu formal padanya, tidak seramah tadi malah.
"Hmmm...iya mbak. Saya permisi dulu." Tara membungkuk homat didekat mejanya saat sebuah senyum masih sanggup terulas disudut bibir Sofia. Terkesan dipaksakan. Tapi Sofia harus melakukannya. Dia tidak ingin meninggalkan kesan yang buruk dikantor suami anehnya.
Pun beberapa penjaga yang dia lewati uga memberi hormat karena tau wanita sederhana tadi adalah istri pemilik perusahaan mereka. Sofia hanya membalasnya dengan senyum dan anggukan pula. Sangat anggun. Dan semuanya tak lepas dari perhatian Fernando dan Alex yang menatap layar cctv diruangan sang tuan muda Hutama. Nando malah sudah memperhatikan gerak-gerik istrinya sejak dia keluar dari ruangannya tadi.
"Tidakkah tuan lihat jika nyonya Sofia begitu kecewa pada keputusan anda?" Nando hanya mengelus janggut licinnya, tak merespon ucapan Alex yang setia berdiri disampingnya.
"hmmmm...."
"Saya rasa tuan masih punya hati nurani.β
" hmmmmm."
"Saya rasa tuan telah memikirkan tugas yang akan saya kerjakan setelah ini." entah percakapan model apa yang dua manusia batu itu bicarakan. Yang satu sangat formal, sedang satunya terlihat santai dan tak begitu menanggapi.
"Hubungi universitasnya, ajak mereka kerja sama karena Hutama husada akan membuka program yang sama seperti rumah sakit tempat magang Sofia dalam bulan-bulan ini. Atur semuanya agar sesuai harapanku." perintahnya sambil menatap jalanan yang sedikit macet dari jendela besar di depannya. Sekretaris Alex segera berpamitan keluar, mengerjakan perintah sang tuan.
Mata elang Fernando menatap lekat kotak makan yang tadi diletakkan dimeja tamu oleh sang istri. Tergesa, dia mengampiri dan membukanya. Bubur ayam lengkap dengan segala pernak-perniknya. Tampilannya begitu manis dengan hiasan potongan tomat dan daun bawang yang ditabur diatasnya. Baunya mengundang selera. Satu suap...dua suap...hingga seluruh isi kotak habis tanpa sisa tanpa terasa. Nando benar-benar menikmati makan paginya yang tertunda, meminum habis minuman khusus yang dibuatkan untukya dalam beberapa kali tegukan.
Ditempat lain, Sofia yang berjalan gontai berhenti di sebuah taman didekat universitasnya. Dia memilih duduk dibangku dibawah pohon rindang untuk menata hatinya. Masih ada satu jam lagi sebelum kuliah dimulai. Air mata memang tidak lagi jatuh, namun hatinya masih terasa sakit hingga membuatnya berulang kali mengelus dadanya.
"Boleh saya duduk?" sedikit gelagapan, Sofia mendongakkan kepalanya. Sesosok lelaki berperawakan tinggi dengan pakaian santai berdiri menjulang di depannya. Dia mengerutkan keningnya. Rasanya wajah itu begitu familiar dengannya. Tapi siapa? semakin dia ingin mengingatnya, semakin tanya tanpa jawab yang dia dapatkan.
"Anda....."
"Andre.." pria itu mengulurkan tangannya yang disambut Sofia ragu. Tanpa disuruh pria berperawakan tinggi itu mengambil tempat duduk disebelahnya.
"Sofia." balas sang dokter sambil menarik tangannya cepat. Dia merasa risih saja bersentuhan kulit terlalu lama dengan orang asing. Apalagi...bule.
"Apa rumahmu disekitar sini ehmmm...nona Sofia?" tanyanya ramah. Bola mata birunya bersinar terang seiring senyumnya yang terkembang.
"Saya kuliah disana." tunjuk Sofia kearah gedung universtasnya. Pria bernama Andre itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"ehmmm...aku tinggal disekitar sini jika kau mau mampir."
"Daerah sini?"
"ya. Tapi baru beberapa hari lalu aku kembali dari Australia."
"Anda...warga Australia?" Andre menggeleng.
"Awalnya orang tuaku berasal dari sana. Namun sejak ibu meninggal saat kami kecil dulu, ayah menikahi wanita Indonesia dan menetap disini." paparnya. Pria ini terlihat begitu hangat dan bersahabat. Dia juga tipe pria terbuka yang tak enggan menceritakan asal usul dan keseharianya hingga membuat Sofia betah berlama-lama disampingnya untuk menunggu waktu masuk kuliah. Dia juga harus menyiapkan mental sebelum bertemu dan meminta maaf pada Shandy karena tidak bisa ikut program tanpa ijin suaminya. Aaahhh...mengingatnya saja sudah membuat Sofia kembali bersedih. Rasanya separuh mimpinya sudah kandas.
βApa kau sering kesini Snow?β
"Snow? namaku Sofia." Andre tergelak hingga wajahnya kemerahan.
"Aku ingin saja memanggilmu begitu. Itu mengingatkanku pada anjing kecil peliharaan detektif Tintin. Komik yang sering kubaca waktu aku kecil dulu."
"maaf...bukan maksudku menyamakanmu dengan binatang itu. Tapi sungguh kau terlihat cerdas, polos dan sangat menarik seperti Snow. Jangan marah padaku. Aku akan menggantinya jika kau tak suka."
"Sudahlah..terserah kau saja." pungkas Sofia. Sungguh dia tidak ingin berdebat dengan siapapun sekarang.
"Aku hanya mampir tadi." lanjut Sofia.
"Kau...mahasiswi baru?" tanya Andre seraya memindai wajah dan penampilan Sofia. Menilik wajahnya, wanita dihadapannya itu pasti sudah melebihi duapuluh tahun. Artinya akan sangat terlambat jika dia baru menjadi mahasiswi semester satu.
"Apa aku semuda itu?" tanyanya balik dengan ujung alis yang terangkat.
"Aku kira kau seorang dosen ha..haa...,"
"kau benar, aku sudah terlalu tua untuk kuliah."
"hey...aku cuma bercanda. Kau..tentu saja kau masih terlihat muda dan...cantik." seketika wajah Sofia merona. Dia mengalihkan pandangannya kearah lain. Usianya hampir tiga puluh tahun saat ada seorang pria yang memujinya cantik. Kemana saja mereka selama ini hingga tidak pernah ada yang memujinya begitu kecuali pria disampingnya itu?
"Aku mahasiswi pasca sarjana."
"hmmm..selain cantik kau juga hebat. Aku terpesona padamu." lagi...wajah itu merona. Wanita mana yang tidak suka dipuji entah itu benar atau hanya rayuan. Semua wanita suka dipuji.
"Kau terlalu membuatku berbesat hati tuan Andre. By the way aku pamit dulu. Lima belas menit lagi ada kuliah. Permisi."
"Snow.."
"ya?" refleks saja bagi Sofia menanggapi panggilan baru untuknya itu hingga membuat sang penyapa tersenyum lebar.
"Apa kita bisa berjumpa lagi?"
"Aku belum tau."
"Datanglah jika kau mau. Aku akan disini hingga tengah hari selama sebulan."
"ehmmm....akan kupikirkan."
"Baiklah..senang berkenalan denganmu Snow."
"Sama-sama." Sofia melambaikan tangannya lalu berjalan memasuki gerbang. Andre...ahh...kenapa pria itu serasa tak asing baginya?
Ponsel berdering saat dia hampir sampai dipintu kelas. Ahh..kenapa harus sekarang sih? Video call lagi.
"Ah..hay kak. Kelihatannya Elle kangen padamu. Dia mint dijemput sore ini." kata Bella langsung saat panggilan terhubung. Dibelakangnya Elle melambaikan tangan dan memusatkan diri ke kamera. Ahhh... ya Tuhan..mata itu...wajah itu.....
ππππππππ
......................
Hai readers, jumpa lagi dengan Nando dan Sofia yg belum apa-apa sudah author tandai end karena kesibukan dunia nyata. Sesungguhnya novel ini tetap sya lanjutkan walau mendapat apresiasi dibawah ekspektasi sya. Bagi kalian yg sudah mendukung, menyemangati dan memberi masukan pada kelangsungan karya ini, author hanya bisa bilang terimakasih yg sebesar-besarnya pada kalian. Simak terus dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini ya.... Love U allπππ