
"Apa aku pernah bersikap selain sebagai istri tuan Alex?" tanya Sofia lugas, tentu saja dengan nada dibuat sesantai mungkin. Alex menegakkan badan dan membenahi ujung jasnya.
"Ini bukan jam kantor kakak ipar, jadi aku akan memberikan penilaian sebagai seorang ipar pula. Hmmm...ya...mana ada suami istri yang tidur terpisah?" Alex balik bertanya.
"Seluruh rumah ini miliknya bukan? apa aku punya kuasa menyuruhnya pergi dari kamar kami? bukankah aku hanya orang lain yang datang ke rumah ini?dia tidur disini atas kemauannya sendiri." sergah Sofia membela diri.
"Tentu saja kau berhak, karena kau istrinya. Apa kau pikir kak Nando akan kembali lagi kekamar kalian sebelum kau menjemputnya? dia dibesarkan dalam strata sosial tinggi dengan ego yang tinggi pula. Temui dan rawat dia...itupun jika kak Sofia masih menganggapnya seorang suami." panjang. Itu hal pertama yang tertangkap dalam indera pendengaran Sofia. Tumben-tumbenan sekretaris es itu berkata sangat panjang walau sudah menjelaskan posisinya bukan dalam jam kerja.
"Dia tidak memintaku merawatnya." pungkas Sofia terdengar putus asa. Apa yang bisa dia harapkan dari hubungan aneh ini.
"Tak perlu menunggunya meminta karena dia tidak akan melakukan itu. Jangan sama-sama bersikap egois, dalam pernikahan harus ada pihak yang mau mengalah. Kukatakan mengalah kak..bukan kalah." dalam hati Sofia bertanya-tanya. Sebenarnya pria didepannya ini seorang sekretaris ataubkonsultanpernikahan sih? dia terlalu dewasa dalam hal ini.
"Aku tau."
"Lalu?"
"Baik. Aku akan menemui dan merawatnya, setelahnya aku akan menjemput Elle karena dia baru telepon dan mengatakan ingin pulang."
"Biar Elle bersama kami dulu. Fokus saja pada kak Nando karena banyak pekerjaan yang akan terbengkalai jika dia sakit." Tak ada protes dari Sofia. Dia mencerna tiap kalimat yang terlontar dari bibir Alex. Tak salah jika Fernando memilihnya menjadi orang kepercayaannya. Pria ini begitu dewasa dan penuh perimbangan.
Pak Mun datang dan menyerahkan bungkusan berisi obat untuk Nando. Alex menerimanya dan mengijinkan sang sopir pergi.
"Ini obat kak Nando. Aku harus pulang sekarang. Diluar sana banyak pengawal yang siap membantu kapanpun dibutuhkan dan jangan ragu menghubungi aku atau Bella jika ada apa-apa." Sofia melirik keluar. Benar, Alex sudah menambah personel keamanan disana.
"Hmmm..baiklah." balas Sofia. Alex bergegas keluar dan menutup pintu meninggalkan Sofia yang mengetuk pintu ruang kerja Alex dan masuk tanpa menunggu jawaban dari dalam. Disana, Fernando rebah telentang dengan menggunakan pakaian lengkapnya dan menutup matanya dengan siku tangan. Wajahnya memerah.
"Letakkan saja obatnya disana Lex, nanti aku akan meminumnya. Pulang dan istirahatlah." perintah Nando tanpa membuka matanya. Sofia berjalan pelan mendekatinya.
"Kau demam mas." katanya setelah meraba kening Nando. Pria itu segera menyingkirkan tangannya dan mencoba duduk meski kepalanya sangat pusing.
"Sudah, rebahan saja dulu. Aku ambilkan air untuk minum obat. Apa kau sudah makan?" tanyanya lembut. Nando hanya menatapnya tajam.
"hmmmm."
"Aku...aku mau bubur ayam seperti yang kau bawakan tadi pagi." katanya lirih, namun bisa membuat bibir Sofia mengukirkan senyum tipis. Ternyata Nando memakan bubur buatannya.
"Hmmm..baiklah. Tapi...bagaimana jika kau ganti baju dulu. Jas dan pakaianmu akan sulit membuat tubuhmu melepaskan panas. Lebih baik ganti dengan baju rumahan saja."
"Semua bajuku ada diatas."
"Mau kubantu ke kamar kita?" tawar Sofia. Tempat tidur diruang kerja Nando hanya cukup untuk satu orang saja, begitupun ruangan itu terlihat tak seluas kamar mereka. Dia takut Nando tidak nyaman disana. Bisa dia bayangkan betapa tak nyamannya seorang Fernando yang biasa ditidur dikamar yang luas dan megah, menghabiskan malamnya disana, yang walau didesain secara mewah tetap saja kurang luas untuk suaminya itu
"mas?" Sofia mencoba meyakinkan Nando yang masih setia menutup matanya.
"hmmm..."
"Lebih baik pindah ke kamar. Semua baju dan keperluanmu ada disana." Tanpa menjawab, Nando bangkit dari tidurnya dan mencoba berjalan walau sedikit terhuyung karena pusing berat. Melihatnya, Sofia sigap menghampiri dan memeluk pinggangnya, mengalungkan lengan kokoh sang pria dipundaknya dan memapahnya naik kekamar mereka.
"Ganti bajumu dulu." Sofia meleakkan piyama berbahan halus dengan tekstur tipis di pinggir ranjang.
"Kepalaku sangat pusing. Bantu aku menggantinya."
"A ...aku?" Ragu, Sofia mendekat pada Nando yang duduk bersandar dikepala ranjang dengan mata terpejam. Tangannya berubah gemetar kala melepas jas dan dasi dari tubuh Nando. Dia semakin tremor kala melepas celana sang pria dan menggantinya dengan piyama tadi. Matanya begitu terganggu kala menyaksikan otot-otot tubuh Nando yang membuatnya terlihat.....seksi.
"Minum dulu obatnya lalu aku akan turun dan membuatkan bubur untukmu." Nando menerima obat pemberiannya dan meminumya dengan sekali tegak.
"Fi...."
"A...aku?" tanya Sofia terbata. Apa Nando memanggil Namanya? Tapi tak ada orang lain disana.
"ya?"
"Suruh bik Lani saja. Kau...tetaplah disini." Nando menepuk kasur kosong disisinya. Sofia tak ingin membantah. Dia tau Nando butuh teman dan perhatian saat sakit seperti sekarang. Dia meraih gagang telepon dan menghubungi dapur. Maria yang mengangkat panggilannya. Dia memberi perintah lalu mengucapkan terimakasih sebelum menutup panggilannya. Pelan..dia naik keatas ranjang.
Sofia dikejutkan oleh gerakan cepat Nando yang memposisikan kepalanya dipangkuan sang dokter. Pria itu tidur menyamping menghadap perutnya. Dia hendak proted karena merasa risih, tapi Nando sudah lebih dulu tertidur dipangkuannya. Tak tega rasanya menganggu tidurnya yang baru beberapa detik itu. Yang bisa dia lakukan hanya menggantikan Nando bersandar dikepala ranjang dan membelai lembut kepala suaminya agar lekas lelap dan bisa sedikit merasa lebih baik saat bangun nanti.