
Siang merangkak menuju malam. Hampir jam 7 malam saat Sofia kembali ke rumahnya. Dia langsung membuka pintu rumah tanpa menengok rumah di depannya seperti biasa. Dia tau baik Susan atau Reza pasti sedang mengawasinya secara intens. Sekarang dia tau kenapa keduanya selalu membukakan pintu sebelum ketukan kedua. Tentu karena mereka selalu berada di balik jendela untuk mengawasinya. Dasar mata-mata.
Dihempaskannya tubuh dan pikiran lelahnya diatas sofa di depan televisi yang enggan dia nyalakan. Terlalu banyak beban dalam dirinya hingga dia hanya menghabiskan sepanjang sorenya untuk berdiam diri atau tepatnya melamun di taman. Satu hal yang sebelumnya tidak pernah dia lakukan Karena dirinya termasuk tipe rumahan.
Ketukan dipintu terdengar nyaring. Awalnya biasa, lama-lama jadi luar biasa kerasnya hingga membuat Sofia sedikit takut mendekati pintu. Takut membuat kegaduhan, dia bergegas membukanya. Dua orang wanita beda usia berdiri disana sambil tersenyum miring.
"Kau ..... mau apa kemari?" Debaran jantung Sofia bertalu. Wanita muda itu, wanita yang sama saat mereka bertemu di kantor Nando tadi siang. Yang membuat perasaannya menjadi tidak enak adalah kehadiran wanita paruh baya dan dua orang pria berbadan tegap di belakang mereka.
"Aku? tentu saja aku akan menjemputmu!" balas wanita muda tadi tegas dengan mata tajam.
"Bawa dia!!" perintah wanita paruh baya disebelahnya pada dua pengawal di belakangnya. Serentak dua pria itu maju dan meringkus Sofia.
"Hey ..lepaskan aku! siapa kalian heh? lepass!!!" Teriak Sofia kencang sambil berusaha melepaskan diri. Mendengar teriakan Sofia, pintu rumah depan seketika terbuka. Reza dan Susan mendatangi mereka, namun wanita muda tadi sudah lebih dulu menyongsong keduanya. Entah apa yang mereka bicarakan, Sofia hanya melihat keduanya mengangguk patuh dan mundur kebelakang. Dasar penghianat!
Pria yang menariknya segera membawanya masuk ke mobil dan duduk mengapitnya, sedang lwanita muda tadi menjalankan mobilnya. Tak ada teriakan, penolakan atau perlawanan lagi. Benda dingin yang menempel di sisi tubuhnya sudah cukup membuatnya tau, jika orang-orang yang membawanya itu tidak akan segan membunuhnya.
Mobil memasuki halaman luas sebuah rumah mewah berlantai tiga yang lebih layak dinamakan istana kecil karena halaman luas yang mengelilinginya, juga pagar menjulang tinggi disekelilingnya. Banyak pria-pria berbadan tegap yang berlalu lalang disana, sepertinya memang bodyguard. Tapi rumah siapa ini? Sofia kembali menatap dua wanita yang duduk dikursi depan dengan dahi mengerut. Sepertinya dia pernah bertemu mereka sebelumnya, tapi dimana?
"Turun!" perintah wanita paruh baya itu sebelum dia beranjak masuk ke rumah besar itu. Sofia berjalan di depan dua pria tadi. Sekarang mungkin dia sudah tidak ditodong dengan pistol, tapi Sofia tau jika tak mudah keluar dari sana hidup-hidup nantinya. Jangankan dia yang hanya wanita biasa, seorang laki-laki terlatih seperti Shandy saja pasti kesulitan menembus penjagaan seketat itu.
"Duduk!" perintahnya lagi. Menunjuk sebuah kursi kosong di depannya. Sofia masih dalam mode menurut, dia duduk tegak di depan dua wanita tadi.
"Kau Sofia Hutama?" tanya wanita paruh baya itu seraya menatap wajahnya dalam dengan tatapan tajam. Sekarang Sofia baru bisa melihat dari dekat jika kedua wanita itu sangat mirip. Pasti mereka ibu dan anak. Tapi apa tujuan keduanya membawanya kemari? apa itu ada kaitannya dengan Fernando?
"Ya."
"Kau tau berhadapan dengan siapa?"
"Tidak."
"Apa kau selalu irit bicara?"
"Melihat situasi nyonya."
"Kau juga tidak ingin tau siapa kami?" tanyanya lagi menyelidik.
"Saya bukan tipe wanita kepo yang selalu ingin tau."
"Apa itu penting nyonya? Jika saya terbunuh karena anda berdua, motifnya adalah Fernando Hutama karena selama hidup saya tidak pernah punya musuh." Mata Sofia selalu menatap keduanya tanpa takut.
"Oh ya? apa karena tadi siang kau melihatku di kantor suamimu nyonya muda Hutama?" tanya wanita muda di depannya sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
"Saya tidak ingin berasumsi."
"Apa kau menunggu aku meniduri suamimu dulu baru kau punya pendapat dan kecurigaan padaku?" seketika wajah Sofia memerah. Kejadian dikantor Nando tadi siang masih terasa sakitnya hingga sekarang. Tapi dia tidak boleh terbawa emosi untuk saat ini. Berlahan dia menarik nafas, mencoba menguasai dirinya.
"Saya tidak yakin jika suami saya mau meniduri anda."
"Ha..ha...kau terlalu percaya diri dokter. Bahkan wajahmu saja tidak secantik diriku." ejek wanita tadi sambil tertawa keras. Tapi sungguh Sofia sama sekali tidak tersinggung. Dia cukup tau diri untuk itu. Wanita seperti dirinya sama sekali tidak punya waktu dan persediaan uang hanya untuk bersolek atau mempercantik diri. Dia membiarkan wanita itu terus tertawa.
"Saya memang tidak secantik anda tapi sudah sangat bersyukur dengan tiap karunia dalam diri saya."
"Hmmmmm."
"Bisa kita bicara pada pokok masalahnya saja?" tentu saja Sofia jengah. Dua wanita didepannya itu seperti tidak punya tujuan menculiknya. Dari tadi bicaranya hanya berputar-putar saja.
" Baik, tinggalkan Fernando!" Kini Sofia tertawa kecil.
"Hanya itu? jika hanya itu maka saya pastikan saya tidak mau. Hanya Fernando saja yang berhak mengatakannya karena dia suami saya. Anda hanya orang lain dalam pernikahan kami." wanita muda tadi bangkit dari kursinya, berjalan pelan mengelilingi Sofia.
"Sudah sebulan ini kami tinggal bersama, juga tak terhitung berapa kali kami menghabiskan malam berdua." Tiba-tiba hati Sofia serasa dicabik-cabik dengan pisau tajam. Sakit, berdarah, tapi tak terlihat.
"Astaghfirullahaladzim." diusapnya wajah cantiknya pelan. Pertahanannya hampir runtuh saat itu.
"Apa kau mau buktinya? Aku tak yakin kau akan tetap bicara seperti ini saat melihatnya atau masih bersikeras bertahan dengannya. Kau tau, dia tak pernah mencintaimu."
"Saya tau dia tidak pernah mencintai saya nona. Tapi itu bukan alasan terbaik untuk pergi darinya. Selama kami masih terikat tali pernikahan, maka saya akan tetap bertahan. Bukankah cinta tidak termasuk dalam syarat pernikahan?"
"Tentu saja kau bertahan. Dia pria kaya raya yang bisa membuatmu hidup enak lebih dari tujuh turunan." ejek wanita itu seraya berdecih kesal. Lagi, Sofia mengelus dada. Harta lagi...harta lagi.
"Jika bisa meminta pada Tuhan saya akan memohon agar dijodohkan dengan pria biasa saja. Ternyata menikah dengan orang kaya sesakit ini rasanya. Saya bahkan tidak butuh harta dan kemewahan keluarga Hutama sepeserpun. Ambil saja jika kalian mau!" sentak Sofia penuh amarah. Dia langsung berdiri dari duduknya karena terlampau kesal. Drama Fernando dia bisa terima, dikatakan tak cantik juga dia anggap biasa, namun masalah harta? sungguh dia sama sekali tidak suka.