
"Apa suamimu ini pernah berbohong?" tanya Nando serius. Pria itu merebahkan kepalanya dipangkuan Sofia dan menatapnya sayu. Iris birunya memindai tiap inci wajah istrinya yang biasa saja. Ya, Sofia istrinya hanya punya wajah biasa saja, bahkan sama sekali bukan selera awalnya. Tapi wanita yang membelai kepalanya penuh kelembutan itu sudah memenangkan hatinya. Sekarang dia sama sekali tak membutuhkan wanita luar biasa dengan bersaing dengan banyak pria diluar sana, tapi dia menginginkan wanitanya yang biasa saja, sederhana namun bersahaja. Cantik dari versinya saja.
"Fi??"
"ehmm ya.."
"Aku bertanya padamu!" tekan Nando kesal, bahkan amat kesal melihat istrinya yang tak merespon pertanyaannya.
"Aku tau."
"Tau apa?"
"Tau jika suamiku ini tidak pernah berbohong." seketika Nando bangun dan menangkup kedua pipi Sofia yang bersemu merah. Mengatakan kata 'suamiku' saja sudah membuatnya merona.
"Sayang, sepertinya kita harus segera pulang."
"Kenapa?" tanya Sofia bingung. Dia baru saja sampai, belum sempat bercengkrama dengan kedua orang tua atau siapapun tapi Nando sudah mengajaknya pulang.
"Aku ingin menengok calon anakku sayang. Kumohon." kali ini wajah Nando terlihat sangat memelas hingga membuat Sofia hampir tertawa geli karenanya.
"Disinikan bisa? Kita pulang besok saja mas."
"Sayang aku takut gagal lagi. Lagipula apa kau yakin bisa diam saja saat aku mencumbui atau menyentuhmu?" wajah Sofia kembali merona jika Nando sudah menyinggung masalah ranjang. Mungkin itu salah satu alasan wanita lokal begitu tertarik dengan pria blasteran seperti suaminya. Tampan, romantis dan....ganas diranjang. Tak sedetikpun Sofia atau Nando berhenti mendesah jika sudah memulai pergumulan panas mereka. Sofia juga tau suaminya itu tidak akan berhenti dalam satu ronde saja.
"Tidak bisakah ditahan sampai besok?" kata Sofia masih berusaha menahan Nando dirumahnya. Wajah Nando kembali muram dan kecewa.
"Sayang, kepalaku ini sudah seperti mau pecah." keluhnya menyedihkan. Hasrat Nando memang sangat sulit dibendung, apalagi Sofia sudah membuatnya puasa sekian lama.
"Baiklah, tapi biarkan aku ngobrol dengan ayah ibu dulu." Nando mengangguk setuju lalu memeluk Sofia meninggalkan dangau itu. Mereka berjalan beriringan menuju rumah.
Sofia dan Nando serentak mengucapkan salam saat ada beberapa orang duduk di ruang tamu. Ada pak lurah beserta istri, seorang dokter yang menggantikan posisinya dipuskesmas dan seorang pria asing. Mereka langsung menyalami Nando dan dirinya penuh hormat. Nando mengambil tempat duduk disamping ayah mertuanya, sedang Sofia akan beranjak ke dapur saat tangan Nando menahannya lembut.
"Sayang, sini."
Blussshh...
Wajah Sofia memerah berat. Nando benar-benar membuatnya sangat malu. Lagi-lagi memanggilnya dengan sebutan itu di depan semua orang. Apa laki-laki itu tak bisa memanggil namanya saja?
Ternyata suami anehnya itu membawanya duduk disebelahnya tanpa melepas tautan tangan pada dirinya. Dia bahkan membawa tautan itu ke atas paha kirinya seolah agar semua orang tau jika Sofia adalah miliknya saja.
"Ini laporan perkembangan klinik tuan." dokter Joko yang kemudian menyusul memberikan hal serupa pada suaminya.
"Begini tuan Nando, kami disini masih terkendala transportasi untuk membawa warga kami ke rumah sakit besar di kota saat klinik tidak bisa mengatasi lagi. Selebihnya klinik dalam keadaan baik-baik saja." lapor pak lurah pada suaminya yang hanya mengaggukkan kepalanya sambil sibuk membaca beberapa lembar kertas dari pria asing di depannya. Sofia jadi heran, kenapa malah mereka laporan pada suaminya?
"Baiklah, sudah saya pelajari semuanya. Ron, sediakan peralatan medis yang dokter Joko butuhkan. Dan sediakan ambulans lengkap untuk warga." Pria yang dipanggil Ron oleh suaminya itu segera mengangguk hormat. Setelahnya Nando menandatangani kertas itu dan menyerahkan kembali pada bawahannya itu. Ketiganya tersenyum semringah sebelum berpamitan pulang.
"Bu dokter tidak ingin mampir ke klinik? saya masih perlu banyak bimbingan dari ibu." kata dokter Joko hangat saat mereka bersalaman. Tentu saja dia sangat menghormati Sofia karena merupakan atasan dan seniornya dulu.
"Saya ingin mampir dok, tapi saya mau kembali ke Jakarta sore ini."
"Lho kok balik lagi nak dokter? Saya kira mau liburan disini dalam beberapa waktu." kali ini pak kades ikut nimbrung
"Mas Nando ada rapat penting besok pak." jawab Sofia mencoba beralasan. Dia tidak mungkin menceritakan penyebab mereka kembali ke desa ini lalu kembali lagi ke kota.
"ohh...saya lupa jika tuan Nando sangat sibuk disana. Nak, saya mewakili semua warga desa ingin mengucapkan terimakasih padamu dan tuan Nando yang sudah membangun klinik pengobatan gratis pada warga. Sekarang bukan hanya warga sini yang bisa berobat, tapi juga warga sekitar." Sofia makin melongo mendengar ucapan pak kades. Dia menatap penuh tanya pada suaminya yang tetap berwajah datar.
"Iya bu dokter, anda beruntung punya suami seperti tuan Nandon yang begitu peduli dengan warga." tambah istri pak kades sopan. Sofia hanya tersenyum dan menimpali beberapa kalimat rendah hati bagi mereka. Menjadi istri milyarder tak serta merta membuatnya besar kepala. Dia juga mengantar tamu-tamunya hingga ke halaman.
"Bisa kau jelaskan semua ini mas?" Nando melirik Ron yang ada disebelahnya sepeninggal pak kades dan dokter Joko.
"Begini nyonya...tuan muda sudah membangun klinik pratama di desa ini dengan sistem pengobatan yang diprakarsai oleh yayasan Hutama crop untuk warga miskin sesuai impian anda nyonya. Klinik ini bukan hanya memeriksa tapi juga melayani rawat inap penyakit ringan sekelas puskesmas."
"Mas....." suara Sofia tertahan ditenggorokan, matanya berkaca. Tanpa rasa malu dia menubruk tubuh tegap disampingnya dan memeluknya erat.
"Terimakasih sudah mewujudkan impianku." ujarnya haru. Pria ini...suami dinginnya ini begitu peduli padanya. Tak ada janji ataupun perkataan manis dari bibirnya, namun pria ini selalu bertindak cepat untuk kebahagiaanya.
"Sudah kukatakan bukan? suamimu ini tidak pernah berbohong." bisiknya di telinga Sofia mesra.
"Bagaimana caraku berterimakasih padamu?""
"Cintai aku dan anak-anak kita nanti. Itu saja sudah cukup membuat aku bahagia." Sofia kembali tersipu.
"Apa kau ingin melihat klinikmu?" dan Sofia seketika mengusap air matanya seraya tersenyum bahagia.
"Tentu saja jika kau mau menemaniku suamiku." Nando mengecup kening Sofia sekilas lalu mengangguk setuju.
"As you want, as you like honey."