Dear Husband

Dear Husband
Menghubungi Alex



"Maafkan suami saya prof." Sofia menampakkan wajah penuh penyesalannya saat mereka tinggal berdua saja disana. Mobil mewah yang membawa Nando dan Alex sudah pergi dari sana.


"Sudahlah. Ayo masuk! kita lanjutkan perjalanan." ajak Shandy dengan kata-kata lembut dan wajah dipenuhi simpati.


Sofia yang sedang gundah mungkin tak menyadari perubahan intonasi dalam kalimat Shandy, tapi tidak dengan pria itu. Dia sadar sepenuhnya jika dia benar-benar menaruh simpati pada mahasiswinya itu. Kenapa wanita yang lembut, tegar dan baik hati seperti Sofia harus mempunyai suami seperti Fernando yang dingin dan arogan. Dua kali sudah dia memergoki jika dokter cantik di depannya itu bahkan rela menolong orang lain tanpa memikirkan kepentingannya. Tidak salah rasanya jika dia mengusulkan Sofia untuk ikut programnya bahkan pada semester pertama perkuliahannya.


Tak terasa mereka telah sampai di rumah sakit besar. Sofia segera masuk ke ruangan direktur setelah berbasa-basi sejenak dan mengucapkan terimakasih dan permohonan maaf sekali lagi. Ada sesuatu hal yang harus dia urus disana. Beberapa dokter dan perawat yang menyapanya dia balas dengan sopan dan ramah.


Langit berubah jingga saat Sofia keluar dari area rumah sakit. Beberapa kali dia mencoba menelepon ponsel Nando walau dia tau ponsel itu sudah hancur diatas aspal siang tadi. Telepon ke kantornya juga percuma karena setelah berkali-kali di cek, nama suaminya tidak ada dibagian keuangan. Lalu dimana selama ini Nando pergi bekerja?


Alex...ya...Alex pasti tau semuanya. Jemarinya bergerak menscrol deretan nomer diponselnya hingga nama Alex muncul disana. Telepon tersambung, namun selalu tak diangkat. Mengingat hari akan makin gelap, Sofia segera menghentikan angkot yang kebetulan lewat untuk segera pulang. Bukannya sekali-kali dia juga harus merasakan naik kendaraan umum? selama ada disini dia sama sekali belum pernah naik kendaraan itu. Rasanya seperti mengenang masa kuliah dulu, dimana angkot adalah transportasi idola para mahasiswa dibawah garis kemiskinan sepertinya.


Berjalan kaki 100 meter menuju rumahnya bukan hal berat bagi seorang Sofia. Di kampung dia sudah biasa berjalan kaki beberapa kilometer menuju pasar saat menemani ibunya berbelanja atau menjual hasil ladang. Fisiknya sudah ditempa sejak ikut organisasi lintas alam di daerahnya. Mungkin itu yang menyebabkan dia kurang suka memakai sepatu hak tinggi. Terlalu merepotkan dan membuat kakinya bengkak. Belum lagi cara jalannya yang akan terlihat aneh karena menjadi sepelan siput berjalan.


"Hai Snow...kau baru pulang?" sapa sebuah suara ramah disamping pagarnya. Sofia menoleh, mengurungkan sesaat niatnya membuka pagar. Tampaknya pria yang tadi menyapanya juga baru pulang karena baru akan mengunci pagarnya.


"hmmm ya. Maaf, saya masuk dulu tuan Andre." dan Andre hanya tersenyum getir. Dia tau Sofia sengaja menghindarinya karena cara bicaradan gestur tubuhnya yang berbeda. Kedatangan sebuah mobil menghentikan gerak keduanya. Sepasang anak manusia turun dari sana dan memandang mereka berdua sebelum sang wanita mendekat pada Sofia dan si pria mendekati Andre.


"hmmm selamat sore kak, saya Susan..penghuni rumah di depan." wanita yang manis dengan tubuh tinggi langsing itu mengulurkan tangannya. Tentu saja Sofia menyambutnya. Senang rasanya punya tetangga baru karena setidaknya kini tidak lagi merasa sendiri. Andre mungkin ramah, tapi tak enak hati rasanya berdua saja di blok ini bersamanya.


Sepasang suami istri itu berkenalan secara bergantian hingga Reza suaminya mengajak Suzan berpamitan karena harus membersihkan dan menata rumah mereka karena barang-barang yang datang tadi siang belum sempat mereka tata. Sofia memilih cepat masuk ke rumahnya dan mengunci pintu. Lagi-lagi dia mencoba menghubungi Alex karena pria itu satu-satunya harapannya mengetahui keberadaan Nando. Jantungnya sedikit berpacu kala panggilannya terhubung.


"Ya." kata Alex singkat. Dengan mengigit bibirnya Sofia mencoba menguatkan hati untuk bertanya.


"Akhirnya kau bertanya tentang suamimu juga." ketus dan dingin. Apa orang sejenis Alex tidak bisa bicara sedikit ramah atau lunak sedikit saja. Mungkin Alex ini adalah warisan para penulis novel yang selalu menggambarkan pria sedingin es padanya ya😂


"Wajar bukan? dia suamiku."


"Merasa punya suami tapi tidak bisa menjaga diri sendiri dan martabat suami." sindiran yang jika disimak terasa membakar hati dan telinga sekaligus. Namun Sofia masih berlapang hati menerimanya. Dia sadar, tidak akan punya informan lain selain Alex dan Bella sekarang.


"Dia ada bersamamu bukan?" tebaknya.


"Tidak. Tuan...ohh maaf kak Nando sedang dalam perjalanan ke London."


"London? kenapa tidak memberitahuku?" sesal Sofia dengan nada lemah. Ada yang terasa sesak di dadanya.


"Tanyalah pada dirimu sendiri kak." jawaban yang tak kalah ketus dari yang tadi. Tiba-tiba Sofia merasa tersinggung berat. Batas kesabarannya sudah habis. Cukup sudah sejak tadi dia mengalah.


"Jadi kau juga ikut menyalahkan aku karena salah paham ini?"


"Itu urusan rumah tangga kalian. Aku tidak bisa ikut campur." balasnya ketus. Sofia hanya bisa mengelus dadanya, mencoba bersabar menghadapi adik ipar anehnya itu.


"Kalau begitu terimakasih dan maaf sudah menganggu waktumu. Selamat sore." Sofia segera menutup panggilannya tanpa menunggu jawaban Alex. Percuma saja bertanya atau sekedar beradu argumen dengannya. Bukan jawaban yang akan dia dapat, tapi naik darah yang akan terjadi berikutnya.


Sofia masih menggenggam ponselnya erat saat tubuhnya luruh ke lantai. Dia sudah merencanakan akan menjelaskan semuanya pada Nando jika sudah sampai di rumah. Bukan hanya itu, dia juga ingin minta maaf pada suaminya itu. Tapi Nando sudah pergi tanpa pamit padanya. Pada tempat yang jauh..yang tidak bisa dia jangkau karena biaya. Apalah dia yang hanya pegawai negeri biasa yang bisa punya rumah dan kendaraan sendiri saja sudah merupakan karunia luar biasa.