Dear Husband

Dear Husband
Bertemu Rosa



Pagi yang cerah saat Sofia memasuki gerbang kampus. Hari ini dia resmi menjadi mahasiswi baru dikampus universitas besar di Indonesia itu. Suasana kampus yang ramai membuat langkahnya sedikit melambat karena harus mencari-cari kelasnya. Entah karena terlalu bersemangat atau gagal fokus karena banyak pikiran, dia malah hanya naik turun tangga dan mengelilingi kampus dengan pikiran kosong.


"Ohh..astaga!! aku terlambat." pekiknya keras lalu berlari panik menyusuri ruangan demi ruangan. Nafasnya tersengal begitu sampai di depan pintu kelas yang sudah tertutup rapat. Sesaat dia mengatur nafas lalu memberanikan diri mengetuk pintu dengan pikiran berkecamuk. Ini hari pertamanya ikut mata kuliah dari dosen baru pula.


"Masuk!" suara seorang pria dari dalam. Sofia meneliti jadwalnya. Kok pria? dalam daftar pengajar tertera Shandy. Bukannya nama perempuan ya? Sofia masuk dan mengucapkan salam. Perhatiannya langsung tertuju ke meja pengajar. Disana, duduk seorang pria 35 tahunan yang masih menatap lurus lapotopnya. Usia yang bisa dibilang muda untuk menjadi dosen pasca sarjana seperti dirinya. Bebrapa diantara para mahasiswa pasca sarjana dikelasnya juga ada yang berusia setara dengannya. Sofia menduga jika mungkin disini dia adalah mahasiswi termuda, tapi ternyata masih ada beberapa yang berusia dibawahnya.


"Kenapa anda terlambat?" Sofia mundur selangkah. Bibirnya terbuka karena terkejut. Pria itu...matanya....dia Yusuf. Sopir online yang dia temui kemarin. Tapi kenapa dia disini? dengan dandanan formal yang terkesan wah.


"Sa...saya...saya...itu...saya bingung mencari kelasnya pak." kebiasaannya menjadi gagap benar-benar membuat malu. Apalagi disaat genting seperti sekarang. Seketika suara tawa menggema didalam ruangan. Sang dosen berdiri dari duduknya dan menghampiri Sofia yang masih berdiri dengan tas punggungnya.


"Apa anda tidak bisa membaca? anda juga bisa bertanya bukan?"


"enggg....saya kagum melihat kampus besar ini pak." Lagi, suara tawa menggema. Wajah cantik dan polos Sofia memang menarik. Apalagi kata-katanya yang terlalu jujur dan gaya medok yang lucu bila sedang gugup menjadi hiburan tersendiri para mahasiswa pasca sarjana yang sedang tegang tadi.


Sang dosen menarik sudut bibirnya, tersenyum. Mungkin jika tidak sedang dalam kelas dan suasana formal dia akan tertawa terbahak-bahak juga melihat mahasiswi barunya itu. Dipandanginya Sofia dari atas kebawah. Kemeja presbody lengan panjang berwarna maroon dengan aksen sabuk kecil dipinggangnya yang dipadukan dengan celana pipa lurus hitam dengan hijab dan flat shoes senada membuatnya tampil sederhana namun enak dipandang.


"Hari ini saya maafkan karena ini hari pertama anda datang ke kampus. Lain kali tidak ada alasan. Perhatian untuk semuanya, setelah hari ini saya tidak mentolerir keterlambatan dengan alasan apapun. Silahkan duduk!" Sofia mengucapkan terimakasih lalu duduk dibangku tepat di depan sang dosen. Satu-satunya yang tersisa disana.


Sejak awal masuk kelas hingga akan berakhir dalam beberapa menit lagi, Sofia benar-benar tidak bisa berkonsentrasi. Bukan karena gugup karena insiden tadi, tapi berputar pada bayangan Yusuf. Apakah dia benar Yusuf yang dia temui kemarin? Pikirannya melayang entah pergi kemana. Semuanya juga tidak luput dari perhatian sang dosen muda. Tanpa terasa, sudut bibirnya kembali terangkat. Tak terasa kelas sudah usai. Sang dosen keluar dari kelasnya.


"Kamu....Sofiakan?" suara riang seorang wanita membuat Sofia refleks menoleh.


"Rosa??"


"ya..ini aku." keduanya berpelukan erat.


"Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" Sofia menanyai Wanita bernama Rosa itu dengan antusias. Bagaimana tidak? dia yang awalnya datang ke kota ini untuk menghadiri pernikahan sahabatnya itu malah kehilangan kontak dan alamatnya dan berakhir tragis seperti sekarang.


"Kau ini jahat sekali. Kuundang tapi tak datang, malah menghilang dan baru berjumpa sekarang. Kalau tadi kau tak terlambat mungkin aku tidak tau itu kau. Sekarang kau banyak berubah Sof. Lihat, pakaianmu terlihat mahal dan berkelas. Kau juga bisa kuliah spesialis. Benar-benar kemajuan luar biasa dan aku senang melihatmu hari ini." Cerocos Rosa tanpa henti. Dia memindai penampilan sang sahabat lagi. Benar, semua yang dipakainya dari brand ternama walau tetap terlihat sederhana. Dia yang sudah biasa melihat tampilan Sofia yang apa adanya pada masa kuliah dulu merasa sangat terpukau. Lihatlah wajah sahabatnya itu juga menjadi putih bersih, tak secoklat dahulu.


"Nanti kuceritakan semuanya Ros. Tapi..


apa dulu aku terlihat sangat tidak menarik ya? pantas saja tidak laku-laku." kata Sofia memelas. Yang dikatakannya benar, semasa kuliah mungkin dia satu-satunya mahasiswi yang tidak pernah pacaran karena sibuk mencari pekerjaan sambilan. Endingnya bisa ditebak..dia susah dapat jodoh.


‘Ya."


"APA??????!!!! kau menikah juga tanpa mengundangku. Kau benar-benar sahabat yang jahat. Pokoknya aku marah padamu!!" serang Rosa dengan bibir manyun tanda merajuk.


"Maaf." kata Sofia tak enak hati. Bagaimanapun dia tetap merasa bersalah pada sahabatnya itu. Tanpa wanita di depannya itu mungkin dia tidak bisa menjadi dokter seperti sekarang. Tuhan sudah mengirimkan Rosa untuk menolongnya.


"Kapan kau menikah?”


" Sama seperti hari kau menikah."


"Maksudmu? bukankah hari itu kau datang kemari dan menghilang? bagaimana kau bisa menikah?" Sofia menghela nafas dalam. Dia dalam bimbang, ingin bercerita atau tidak pada sang sahabat.


"Ayo. Kau berhutang penjelasan padaku." Rosa menarik paksa tangan Sofia ke kantin dan memesan makanan untuk mereka berdua. Masih ada hampir setengaha jam untuk masuk ke kelas berikutnya, dan itu cukup bagi mereka untuk sekedar berbincang disana.


Sofia menceritakan semua yang dia alami dari awal hingga sekarang secara runtut tanpa ditutupi. Dia sudah menganggap Rosa adalah sahabat terbaik yang bisa dia percaya.


"Jadi sekarang kau nyonya muda Hutama?" Sofia mengiyakan.


"Artinya kau wanita beruntung Sof. Fernando itu most wanted. Dia idaman banyak wanita meski berstatus duda. Artinya kau harus ekstra hati-hati menjaga suamimu, termasuk dari wanita bernam Clara itu. Kau harus pulang dan menempati posisimu. Jangan biarkan wanita lain merebut hakmu. Ingat Sofia, kesempatan tidak akan datang dua kali. Pertahankan pernikahanmu bagaimanapun caranya." nasihat Rosa berapi-api. Sofia hanya termangu.


"Aku masih butuh waktu Ros. Hatiku...aku harus menata hatiku."


"Tapi jangan terlalu lama Sofia. Semakin lama akan semakin berbahaya bagimu. Lebih cepat lebih baik. Ohh ya..dimana kamu tinggal sekarang?" Sofia menyebutkan alamat rumah Maya dengan lancar.


"Itu...bukannya kompleks perumahan pak Shandy dosen kita yang tadi ya?"


"pak Shandy?" Sofia membeo. Pikirannya kembali kacau mencari benang merah dari setiap kejadian yang dia alami kemarin.


"Iya. Pak Shandy Yusuf Hanggara, dosen tampan tadi."


deg...Shandy Yusuf Hanggara.....apa dia benar-benar Yusuf??