Dear Husband

Dear Husband
Berubah



"Tuan mana bi?" tanya Sofia pada seorang asisten rumah tangga. Sudah beberapa menit dia menunggu di meja makan. Tidak biasanya Nando telat atau selelet ini. Suami bulenya itu selalu on time.


"Masih di kamarnya nyonya."


"Bisa tolong panggilkan bi?" sang asisten rumah tangga itu mengangguk dan menuju lantai atas, mengetuk pintu kamar Nando. Lama mengetuk dan tak ada sahutan, wanita paruh baya itu memilih turun. Kena marah tuan mudanya jauh lebih parah dari istrinya.


"Maaf nyonya, sudah saya ketuk tapi tak ada sahutan. Saya...."


"Ya sudah, biar saya saja bik." kemudian Sofia beranjak ke kamar suaminya, mengetuknya beberapa kali namun seperti kata asisten rumah tangga tadi, tak ada reaksi dari dalam. Nekat, dia memutar handle pintu yang langsung terbuka. Kebiasaan seorang tuan muda. Tak pernah mengunci pintu karena tak akan ada seorangpun yang berani masuk ke kamarnya tanpa ijin.


Dahi Sofia mengrenyit karena tak mendapati suaminya di kamar. Setelah mencari ke sekeliling hingga ke balkon dan berakhir nihil, baru perhatiannya beralih ke kamar mandi. Dia mengetuk lagi...namun juga tak ada jawaban. Hampir saja dia berjingkat kaget kala pintu terbuka bersamaan dengan dirinya yang akan membukanya.


"m...mas..." pekiknya kaget melihat Nando yang keluar dengan wajah pucat. Keringat dingin membasahi keningnya. Sofia meraba dahinya, normal. Tidak panas.


"Kau kenapa?" dan tanpa disuruh tangannya menuntun Nando yang lemah menuju ranjangnya dan menyuruhnya duduk.


"Sebentar kuambil peralatan dulu." Sofia bergegas berjalan cepat menuju kamarnya, mengambil tasnya.


"Aku tidak apa-apa."


"Tidak apa-apa kok wajahmu pucat mas?" baru saja akan menempelkan stetoskopnya, Nando sudah menyingkirkan tangannya dan berlari kembali ke kamar mandi. Sofia yang panik ikut memburunya, takut terjadi sesuatu pada Nando.


'hueekk....huueeekkk' berulang kali Nando memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa cairan. perutnya memang belum terisi apa-apa karena sejak subuh tadi terus mual tak karuan. Sofia memijit tengkuknya lalu meraih pergelangan tangannya. Memeriksa nadinya.


"Ayo." katanya kemudian. Kembali dia menuntun Nando ke ranjang.


"Morning sicknes." gumamnya membuat Nando menengadahkan wajah dan menatapnya.


"Yang hamilkan kamu yank? bukan aku." protesnya dengan wajah ditekuk. Rasa mual, pusing dan lemas itu sangat menyiksanya.


"Ada beberapa kasus kehamilan yang berbeda. Dan kamu salah satunya."


"Salah satunya?"


"Iya. Morning sicknesnya beralih padamu. Sabar saja, tidak lama juga sembuh."


"Tapi sampai kapan?" tanya Nando lirih. Yang hamil siapa...yang muntah-muntah siapa? aahh siallll!!!!


"Sayang..kenapa lama sekali?" keluh Nando lagi, menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang.


"Berdoa saja tidak selama itu. Nanti aku belikan obatnya di apotik agar kamu tidak terlalu terganggu karenanya."


"Tapi sayang ...." Nando bergegas meraih tangan Sofia yang sudah akan pergi.


"Hmmm..ada apa?"


"Maukah kau menemaniku?" hampir saja tawa Sofia pecah begitu melihat wajah Nando yang memelas. Ternyata tampang sangarnya bisa berubah lucu seperti Sinchan.


"Aku harus ke rumah sakit mas. Nanti biar bi Mimi yang membantumu." tapi sekali lagi Nando menahan tangan Sofia, kali ini dengan wajah lebih melas ditambah pupy eyes nya.


"Sayang, suamimu sedang sakit. Kenapa kau masih mementingkan orang lain? apa tidak bisa libur sehari saja menemaniku?" rengeknya lagi-lagi membuat Sofia amat geli.


"Mas, aku ini abdi negara. Tidak bisa libur seenaknya." kukuh Sofia pada pendiriannya. Sebenarnya dia bisa saja libur karena memang dalam masa pengambilan gelar spesialis. Tapi orang seperti Nando harus diberi pelajaran. Sudah terlalu banyak pria didepannya itu melukai hati dan perasaannya.


"Padahal aku tidak minta banyak darimu. Apa salah jika suami minta perhatian istrinya?" lebay sekali. Tadi merengek seperti anak kecil, sekarang malah curhat sambil menuntut. Dasar aneh. Jika tak melihatnya langsung, siapapun tentu tidak percaya jika pria baperan itu adalah tuan muda Hutama yang terkenal arogan.


"Aku sedang tidak punya waktu untuk itu. Dan lagi...apa yang kau tanam, itu yang akan kau tuai mas. Anggap saja itu juga ...ahh..sudahlah. Aku harus ke rumah sakit sekarang. Asalamualaikum." dan tanpa menunggu jawaban ataupun mencium tangan suaminya, Sofia turun ke bawah meninggalkan Nando yang masih terpaku.


Berlahan pria tampan itu bangkit dari duduknya. Tak ada gunanya dirumah bukan? toh orang yang dia harapkan sudah tidak peduli padanya. Bekerja atau tiduran akan sama saja baginya. Jadi bukannya memlilih pergi kerja adalah solusi terbaik? Sofia yang dulu sudah jauh berbeda dengan yang sekarang. Wanitanya lebih banyak diam dan tak peduli padanya. Jangankan berdekatan dengannya, melihatnya saja Sofia enggan.


Hanya butuh beberapa menit baginya untuk berganti baju lalu pergi ke lantai bawah, dimana semua ruangan terlihat lengang. Tidak ada Sofia disana. Pasti istrinya akan ke rumah sakit seperti perkataannya tadi. Nando menatap meja makan yang kosong lalu duduk disalah satu kursinya. Sebuah gelas berisi kopi susu masih tersaji di meja, mungkin pelayan belum sempat membersihakannya. Tiba-tiba seulas senyum terbit dibibir Fernando.


"Selamat pagi tuan, anda ingin makan sesuatu?" tanya bi Mimi seraya mengangguk hormat padanya.


"ehhmm tidak. Saya akan sarapan dikantor. Apa ini milik nyonya?" tanyanya sambil menunjuk gelas keramik di depannya.


"i..iya tuan. Maaf saya lupa membereskannya." ujar bi Mimi salah tingkah. Selama menjadi asisten rumah tangga keluarga Hutama,, baru hari ini dia teledor. Melupakan gelas sisa minuman tetap di meja. Hal yang sama sekali tidak disukai seorang Fernando.


"Biarkan saja tetap disini."


"Ya? maaf tuan....maksud anda?"


"Pergilah." kata Nando ringan. Bi Mimi langsung membulatkan matanya saat melihat majikannya itu meminum bekas kopi Sofia tanpa rasa jijik, bahkan menarik bibirnya hingga membentuk senyuman samar. Fernando benar-benar berubah.