
Tak ada malam pertama yang romantis diantara keduanya.Malam itu terlewati begitu saja.Pagi itupun berlalu tanpa drama bangun saling berpelukan atau terpekik kaget satu sama lain.Mereka berdua acuh saja.Sofia beranjak lebih dulu dari ranjang dan menuju kamar mandi.Dia harus cepat takut waktu subuh berlalu.
Sekembali dari kamar mandi,dia menatap Fernando yang masih tertidur pulas diranjang.Dalam hati dia mengeluh panjang,kenapa bisa terjebak pernikahan gila dengan seorang lelaki yang sama sekali tidak agamis?padahal dia sangat berharap bisa berbagi hidup dengan pria sholeh,membangun keluarga sakinah,mawadah,warohmah walau hidup sederhana dan menikah dengan pria yang biasa-biasa saja.Tapi kembali lagi pada ketetapan Tuhan bahwa hidup,mati,rejeki dan jodoh adalah haq Nya.
Sofia meraih mukena dari tas kecilnya lalu memulai sholat subuh dengan khusyuk dengan sajadah yang dia pinjam dari Maria kemarin.Awalnya dia ingin membeli sendiri,tapi ternyata rumah itu jauh dari mana-mana.Terpaksa dia menebalkan muka meminjam.Namun reaksi Maria malah diluar ekpektasinya.Dia terlihat gembira dan bersemangat hingga menawarkan sholat berjamaah dengan beberapa pekerja muslim dirumah itu.Tapi Maria buru-buru menutup mulutnya dan meminta maaf saat sadar kalau yang dia ajak sholat jamaah adalah majikannya.Nyonya muda Hutama.Tak pantas saja rasanya seorang nyonya muda sholat bersama pembantu walau dalam ajaran islam semua manusia itu dipandang sama,hanya akhlak dan perbuatannya saja yang berbeda.
Baru saja mengucap salam,ekor mata Sofia melirik Nando yang sudah bangun dari tidurnya dan bersandar dikepala ranjang.Mata birunya memincing kearah Sofia,heran.
"Kau ...sholat?" tanyanya ragu.Sofia menoleh dan melepas mukenanya.
"ya,apa anda juga mau sholat?" tanyannya balik.Nando menggaruk lehernya salah tingkah,namun sekejap kemudian memasang wajah datar.
"Lain kali jangan sholat dibelakang rumah.Aku tidak mengijinkan!" ujarnya ketus.Sofia berjengkit.
"Kenapa?bagaimana anda tau saya sholat disana?" tanyanya heran.Padahal saat itu Nando masih diruang kerjanya.Ta menjawab,Nando malah meraih ponsel mahalnya dan mendekat.
"Kau lihat??semua sudut rumah ini terpasang cctv yang langsung terhubung di laptop dan ponselku.Sangat mudah bagiku untuk mengetahui apa yang kau lakukan.Dan jika kau ingin tau kenapa aku tidak mengijinkanmu sholat dibelakang adalah karena mulai kemarin kau sudah punya seseorang yang akan menjadi imam sholatmu setiap hari.Aku,bukan orang lain nyonya Fernando satria hutama." katanya datar namun sedingin bongkahan es.Belum sempat menjawab,Nando sudah lebih dulu beranjak ke kamar mandi.
Sofia bangkit dan merapikan tempat tidur yang walau tidak terlalu berantakan namun perlu ditata ulang.Rupanya Fernando adalah tipe pria yang tidak banyak bergerak saat tidur,bisa dibilang dia pria anteng hingga tak begitu membuat ranjang besar itu berantakan.Sedang dia??hampir sama.Bukan karena dia tipe anteng seperti sang tuan muda,tapi karena dia sudah mengambil tempat paling tepi agar Nando tidak bisa menjangkaunya.
Baru saja selesai,Nando sudah ada dibelakangnya.Pria itu mengambil sesuatu dari lemari paling ujung.Ya Tuhan ....sarung,kopyah dan sajadah besar yang pasti harganya mahal mengingat label yang menempel padanya adalah merk import.
"Lain kali jika kau butuh sesuatu,bertanyalah padaku.Kau pikir apa?aku hanya muslim diatas kertas?kau salah nyonya.Orang tuaku adalah muslim yang taat,kami anak-anaknya sudah diajarkan ilmu agama sejak kecil.don't judge the book from the cover madam." ujarnya lalu melenggang menjauhi Sofia,menuju tempat istrinya sholat tadi.
Mata Sofia bagai terpaku pada sosok tegap dan gagah dihadapannya.Ketampanan pria yang tadinya sudah tampan itu malah naik berkali-kali lipat dimatanya.Bagaimana pria itu sangat khusyuk dalam sholatnya,bibir seksinya terus komat-kamit membaca doa dinaungi hidung mancung,mata elang dan alis tebal yang membuatnya sangat istimewa.Postur tinggi dan kulit pucat khas Eropanya begitu mendominasi hingga membuat mata Sofia enggan beralih ke arah lain.Dada bidang itu....ahhh....alangkah hangat dan nyamannya kala dia berada disana.Bergelayut manja dan mengelusnya.
"ehhhmmm...belum puas melihatku?" sontak Sofia tersadar dari lamunan liarnya.Lagi-lagi dia ingin memukul kepalanya yang dipenuhi otak yang sangat senang traveling setelah menikah.Ada yang aneh dalam dirinya.Dia seorang dokter yang sudah melihat tubuh banyak pasien pria ataupun wanita,tampan atau yang biasa.Tapi pikirnnya tidak pernah mengarah kesana.Dia hanya menolong,mengobati dan memeriksa.Tidak seperti sekarang ini,melihat tubuh berbalut kaos saja sudah membuat jantungnya olah raga marathon.Sofiiiiaaaaa....apa yang terjadi padamuuuuuu...
"ya"
"kenapa diam?jangan-jangan kau mulai terpesona padaku." serang Nando tapi terkesan mengejeknya.Sofia kembali diam.
"Selera saya bukan anda tuan Fernando." balasnya sengit.Nando terkekeh pelan.
"Ayo."
"kemana?" Nando yang sudah melepaskan kopyahnya menoleh.
"Bukanya kemarin aku sudah bilang kita akan ke rumah orang tuamu dokter?" balasnya dingin.
"sekarang?"
"ya.Bersiaplah karena kita akan berangkat setengah jam lagi.Jangan bawa apapun karena Maria dan Alex sudah menyiapkannya di mobil." Tanpa mengatakan apapun Nando segera mengambil celana jeans panjang dan menanggalkan celana pendeknya dihadapan Sofia yang langsung memekik kaget,tak mengira Nando akan berganti celana di depannya.
"Kenapa teriak-teriak?kau ini seperti anak perawan yang belum pernah melihat pria telanjang." gerutu Nando kesal.Tangannya meraih blazer hitam untuk melapisi kaosnya.Ya Tuhaann....perfect.Sangat tampan!Rambutnya yang disisir rapi menambah pesona sang tuan muda.
"Hey nyonya....sampai kapan kau akan tetap bengong menatapku?dasar kampungan." Hardik Nando.Sedikit tesinggung,Sofia segera mengambil pakaian yang tergantung dilemari,sedang Nando sudah akan keluar kamar.
"jangan lama-lama.Tidak usah dandan.Wajahmu akan tetap kampungan. Didandani atau tidak tidak akan ada bedanya.Buang-buang waktu saja." Hati Sofia miris.Kata-kata Nando selalu saja tajam dan menusuk.Tapi pikiran akan pulang ke rumah lebih mendominasi dirinya.Saat pulang nanti dia akan mencari seribu alasan agar bisa tetap tinggal dan mencari jalan keluar agar bisa bebas dari pernikahan gila ini.Segera dia mengganti pakaian dengan gaun sederhana model v-neck panjang dengan lengan sesiku motif polkadot yang sangat pas membalut tubuh tinggi langsingnya.Rambut hitam legamnya dikuncir ekor kuda yang memamerkan leher jenjangnya.Tanpa mengindahkan perkataan Nando,dia berjalan ke meja rias,mematut dirinya didepan cermin hingga dirasa sempurna lalu menjinjing tas kecilnya keluar kamar.
"Sofiiaaaa..." panggil Nando keras.Sofia bergegas turun dan menuju sumber suara yang ternyata dari ruang makan.