
Langit gelap Jakarta menyambut kedatangan Fernando dan Alex serta dua pengawal yang berjalan tegap dibelakang mereka. Sebuah mobil mewah sudah menunggu mereka. Tanpa menunggu lagi, Nando masuk diikuti Alex yang duduk di samping seorang sopir muda lalu pergi dari sana. Entah bagaimana nasib dua pengawal tadi😂
"Kau tergesa-gesa pulang hingga lupa membelikan kak sofia oleh-oleh kak." Tegur Alex kala mereka sudah hampir tiba di kawasan rumah mewah Fernando.
"Suatu saat aku akan membawanya kesana dan membeli apapun yang dia minta." Mendengar jawaban sang ipar, Alex terkekeh geli.
"Untung saja istrimu sekarang adalah kak sofia, andai masih Emma marseden...kau tampaknya harus bersiap menguras kantong dan membayar kartu kredit yang jumlahnya bisa ratusan juta kak." cibir Alex lagi. Nando hanya terdiam. Yang dikatakan Alex benar. Andai sekarang istrinya masih Emma..bisa dipastikan dia tidak akan seperti sekarang. Pasti dia akan kewalahan menghadapi sifat boros dan doyan belanjanya. Emma bahkan bisa menghabiskan ratusan juta hanya untuk membeli satu outfit saja. Benar-benar benalu berwujud istri idaman. Untung saja saat itu dia banyak disokong oleh momy dan dadynya. Jika tidak, mungkin Hutama grup sudah tinggal nama karena mengalami devisit dana. Dan Nando...dia adalah pria bodoh yang pernah terperdaya oleh wanita sampah yang hanya mengandalkan kecantikannya saja.
"Aku bersyukur memiliki dirinya dan Rafa." sebuah senyuman terbit di bibir padat Nando saat mengucapkan kata itu. Bayangan Sofia melintas di pelupuk matanya. Wanita yang sudah membuat banyak perubahan pada dirinya. Belum genap satu hari meninggalkannya saja, pikirannya sudah resah. Apalagi membayangkan jika wanitanya mendapatkan teror tentang foto itu ...ahh ..memikirkannya saja sudah membuatnya ingin cepat pulang menemuinya.
"Semoga kalian selalu bahagia." timpal Alex diamini sopir yang sedari tadi hanya berani menyimak pembicaraan keduanya.
Mobil memasuki pagar rumah, melintasi halaman yang luas dan berhenti di depan pintu utama. Dahi Nando mengrenyit saat mendapati semua lampu rumahnya masih menyala. Belum terlalu malam memang, namun biasanya Sofia sudah mematikan lampu besar diruangan yang jarang digunakan dan menggantinya dengan lampu kecil dengan alasan hemat. Kebiasaan yang menurut Nando aneh, untuk apa hemat jika dia sanggup membayar lebih bahkan membeli tenaga listrik sendiri? tapi itulah Sofia. Wanitanya telah membuat aturan baru yang bijak, dengan cara lembut, namun sulit di tolak. Dan anehnya semua patuh padanya, termasuk dirinya yang tak pernah menuruti siapapun.
"Ada tamu tampaknya." gumam Alex. Dalam hati dia berdoa jika tamunya bukan seorang pria, apalagi tadi Nando pulang mendadak tanpa pemberitahuan. Bisa habis kakak iparnya itu menghadapi amarah Nando yang kadang diluar nalar.
"Asalamualaikum."
"Walaikumsalam." suara lembut Sofia membalas salam suaminya. Hampir saja Nando berjingkat saat tau siapa tamunya.
"Amanda Larsons." bisik Alex lagi. Tangannya terkepal berbarengan dengan sang tuan muda yang mengeraskan rahangnya. Mau apa wanita itu menemui istrinya malam-malam.
Nando menghampiri Sofia yang masih duduk diatas kursi rodanya. Tangannya terulur dan disambut Sofia dengan kecupan dipunggung tangan. Moment mesra yang jarang terlewatkan. Nando merasa dihargai sebagai seorang suami hanya karena moment kecil ini. Tangan kirinya bergerak mengusap kepala sang istri sebelum Nando duduk di singel Sofa disamping istrinya dengan ekspresi datarnya.
"Kau sudah pulang honey?" Jantung Nando tersirap saat mendengarnya. Mata elangnya menatap tajam dengan pandangan membunuh pada sumber suara itu. Pun Alex juga berang mendengarnya.
"Siapa kau?" tanya Nando sinis. Tapi senyuman amat manis malah tersungging diwajah Amanda larsons.
"Aahh...aku lupa memperkenalkan diriku baby. Kita terlalu bersemangat menghabiskan hari bersama hingga lupa semuanya. Aku Amanda larsons, putri Roy larsons mitra bisnismu." Amanda sudah mengulurkan tangannya untuk bersalaman namun diacuhkan oleh Nando. Membayangkan wanita ini mencuri ciumannya saja sudah membuatnya amat kesal.
"ehmmm baiklah, ternyata kau lebih suka menyapaku diranjang dari pada cuma sekedar bersalaman. Ohh baby, kau...hot sekali." komentar Amanda tak tau malu dengan ekspresi genitnya.
"Astaghfirullahaladziim." ujar Sofia beristighfar. Nando menoleh pada istrinya yang mengelus dadanya tanpa mengalihkan pandangan dari Amanda yang tampak sangat percaya diri dengan setelan semi formal yang melekat pas ditubuh seksinya. Alangkah berbedanya dia dari wanita cantik itu. Cantik....ya, dalam hati Nando mengakui jika wanita di depannya itu memang jauh lebih cantik dari istrinya. Tapi entah kenapa dia malah merasa jijik dan sama sekali tidak tertarik. Lihat istrinya...wanitanya itu lebih sopan dengan gamis dan jilbabnya yang membuat semua bagian tubuhnya tertutup. Hanya dirinya yang bisa melihat bagian tubuhnya.
"Ekh...tapi yang kukatakan itu benar Sofia. Suamimu ini begitu ahhh ....nakal. Dia seperti kuda liar yang menyentuhku disini...sini dan sini."
"Tutup mulutmu!!" teriak Nando dengan suara menggelegar. Tangannya sudah terkepal kuat. Andai yang didepannya itu bukan perempuan, pasti sudah dia hajar hingga mati ditempat. Amarahnya memuncak saat Amanda menunjuk dan membuka daerah yang ditunjuknya dengan jari. Ada beberapa kissmark disana.
"Kenapa honey...istrimu harus tau jika dia harus bisa melayanimu sepertiku. Dia bahkan tak bisa berjalan dengan benar, mana bisa dia meladeni hasratmu yang menggebu?"
"Dasar perempuan sial!!!"
"Hentikan mas!" Sofia menahan tangan Nando yang akan memukul Amanda dengan cekalan kuat lalu menyuruhnya kembali duduk tenang. Kedua bola mata Amanda terbelalak kaget saat melihat Sofia bisa berdiri dan menahan tangan suaminya dengan gerakan cepat dan langkah lebarnya.
"ekh nyonya ..ehh maaf nona Amanda Larsons..apa anda sudah cukup bicara? Jika belum silahkan anda lanjutkan karena saya akan menunggu dan mendengarkannya. Jika sudah maka saya yang akan bicara." Nando menelisik wajah istrinya yang tetap tenang saat mengatakan hal itu. Seolah tak terjadi masalah apa-apa diantara mereka.
"Ohh tentu saja aku tak perlu menjelaskan lagi, kau tinggal melihat videonya dan....kuharap kau masih punya hati untuk menyuruh suamimu bertanggung jawab dan menikahiku."
"menikahimu?" ulang Sofia
"Ya..aku bukan pelacur yang bisa dia tiduri semaunya. Apalagi dia terus mengeluh tak puas bermain denganmu. Kau juga sangay payah dan monoton di ranjang. Ahhh...kau ini payah!! Aku ingin dia menikahiku." ujar Amanda tegas. Lagi-lagi Sofia menahan tangan suaminya yang sudah akan berdiri dan menghajar Amanda. Tentu saja Nando marah dan tidak terima.
"Begini nona, dari tadi anda terus menyinggung aktivitas ranjang kami. Dan maaf, itu hal tabu menurut saya."
"Tabu??ahh kau kampungan sekali." ejek Amanda.
"Bukan kampungan, tapi ketimuran. Kami masih punya etika dan budaya. Entah jika anda. Bahkan pelacur saja masih punya malu. Setidaknya mereka hanya menjual diri, bukan mau merebut orang yang sudah menikah. Mereka juga tidak pernah datang jika tak diundang, apalagi melabrak istri sahnya. Lha anda??? Wanita keluarga kaya yang bahkan bertingkah melebihi pelacur jalanan." sindir Sofia membuat Amanda meradang. Wanita ini..jarang bicara tapi mulutnya pedas juga. Batinnya.
"Suamimu butuh pelacur untuk memuaskan hasratnya." tudingnya lagi. Sekali lagi Sofia tersenyum. Perangkapnya sudah mengenai mangsa.
"Dengan begitu anda mengakui jika profesi anda juga sebagai pelacur bukan?"
"Tutup mulutmu Sofia!!" sentaknya penuh emosi.
"Sssssttt ...apa teriakanmu juga sekeras ini diranjang?? anda harus tau jika dia tak suka berisik karena bisa membangunkan putra kami. Harusnya kau hanya meneleponnya jika dia lupa membayar pelayananmu, tak perlu datang dan menemui istrinya seperti ini. Ahh aku lupa bertanya nona...berapa tarifmu perjam???" Balas Sofia tetap tenang.
"Sofia sialaan!!" Amanda bergerak cepat menerjang tubuh langsing Sofia, membuat Nando dan Alex yang ada disana hanya melotot tajam karena tak mengira Amanda akan senekat itu.
"Bugh"
"Sayang......." desis Nando saat melihat istrinya sudah memelintir tangan Amanda kuat dan membantingnya ke lantai dengan keras. Siapa menyangka jika wanitanya yang lembut, sopan dan anggun juga punya sisi arogan dalam dirinya. Lihatlah sekarang...istrinya yang biasa menaruh kasihan pada orang lain malah berdiri dengan kepala tegak penuh keangkuhan dan sorot mata dingin mematikan menatap Amanda yang tersungkur dibawahnya sinis.
"Kau...kau tidak lumpuh?" desis Amanda tak percaya. Dia masih berusaha bangkit.
"Seperti yang kau lihat. Aku sehat, jadi jangan berpikir jika aku tidak mampu melayani suamiku. Pelacur sepertimu bahkan tak pantas menyentuh tangannya, apalagi naik ke ranjangnya. Kuperingatkan padamu agar tak pernah mendekati atau melakukan fitnah murahan seperti ini padanya atau...kupastikan tanganmu akan patah tanpa bisa disambung lagi." dingin ..hanya aura itu yang nampak diwajah ayu sang nyonya muda Hutama. Jangankan Alex dan Amanda, Fernando yang suaminya saja terkaget karenanya. Belum lagi deretan pelayan yang hanya bisa diam dan sedikit menarik bibirnya membentuk senyum samar melihat aksi sang nyonya.
"Pengawal!! bawa wanita ini keluar dan pastikan dia tidak kembali lagi kemari!!" perintahnya tegas.
"ba..baik nyonya." lihat saja, pengawal juga dibuat terkejut karena ini pertama kalinya nyonya muda mereka memerintah dengan nada jumawa. Biasanya juga cuma minta tolong.
Dengan sigap pria berotot itu menarik lengan Amanda yang terus mengeluarkan sumpah serapah keluar. Niat hati ingin mengacaukan rumah tangga Fernando-Sofia, yang ada malah dia dipermalukan dan diusir seperti pelacur sesungguhnya.
"Keren." puji Alex setelah Amanda dibawa pergi. Para pelayan juga membisikkan kata yang sama. Namun Sofia seakan tak peduli dan langsung masuk ke kamarnya.