Dear Husband

Dear Husband
Pengakuan



Nando terduduk di singel sofa diruang kerjanya yang tenang. Pria itu menatap lurus pada Sofia yang masih setia berdiri ditempatnya. Tak ada niat untuk mempersilahkan istri anggunnya itu duduk atau mendekat ke arahnya. Tak ada juga yang harus dibicarakan secara pelan karena sama seperti kamar pribadinya, ruang kerja ini juga dibuat kedap suara. Jadi untuk apa Nando bicara lirih atau sekedar menyuruh Sofia mendekat?


"Apa kau ingin tau?" tanyanya masih dengan nada dingin. Sofia tak menjawab. Hanya anggukan kepalanya yang mengisyaratkan keinginan hatinya yang terlampau kuat. Kenyataan akan Elle bukanlah anak kandung Nando saja sudah membuatnya terkejut, bagaimana bisa dia bersikap biasa saja seperti yang Nando lakukan?


"Berjanjilah."


"apa?"


"Setelah kau tau semua kebenarannya kau tidak akan pernah mengungkit kata cerai di depanku karena aku tidak suka kata-kata itu. Aku juga orang yang akan memisahkan nyawamu dari ragamu jika kau pergi dariku." ketus Fernando dengan nada mengancam.


"Baik."


"Juga jangan pernah merubah sikapmu pada Elle apapun yang terjadi."


"Aku bukan tipe wanita seperti itu." balas Sofia sedikit keras. Entah berapa kali harus dia twgaskan jika kasih sayangnya pada Elle tidak akan pernah berubah walau apapun yang terjadi nantinya.


"Jawab ya atau tidak saja." pungkas Feenando tak kalah tegas.


"ya.Aku berjanji." ucap Sofia sedikit melunak. Nando menyilangkan kakinya seraya mengambil album foto dari rak disampingnya.


"kemarilah." Sofia berlahan mendekat dan mendudukkan dirinya di sofa panjang yang berada disamping kanan singel sofa yang diduduki Nando. Priaw itu membuka lembaran pertama album yang terlihat kusam itu.


"lihat baik-baik karena setelah ini aku akan membakarnya."


" Tapi kenapa?"


" karena seluruh kenangan akan wanita itu sudah kemusnahkan tanpa sisa."


"lalu album ini?"


" Orang yang menjadi istriku harus tau dulu sebelum ada kesalah pahaman nantinya."


"Salah paham? kurasa kita bukan pasangan seromantis itu." sindir Sofia telak. Nando hanya menatapnya tajam, sekejap kemudian dia mengalihkan pandangannya ke album itu.


"Dia Emma." tunjuknya pada foto perempuan cantik bermata biru dengan rambut pirang bergelombang hingga ke pinggang. Jangan lupakan hidung mancung, bibir tipis dan potongan tubuhnya yang sangat seksi bak para model majalah dewasa. Sofia meneguk ludahnya kasar. Dia memang tidak ada apa-apanya dibanding wanita sempurna dalam foto itu.


"Dan dia...Andreas marseden. Kakak kandung Emma marseden." tunjuk Nando pada foto pria tampan yang ada dilembaran lain. Lagi-lagi Sofia terperanjat. Bibirnya menganga kerena rasa terkejut yang meraja.


"ja...jangan bilang mereka...pasangan incest." ujar Sofia terbata. Kenapa semuanya penuh kejutan seperti sekarang? apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan pria di depannya? kenapa banyak sekali rahasia, luka dan air mata dalam cerita kehidupan yang dia sembunyikan dibalik wajah dinginnya?


" Tapi itu kenyataanya." ada nada getir dari jawaban Nando barusan. Pria itu benar-benar terpukul.


" aku mencintai Emma dengan segenap hatiku, tapi dia malah menghianatiku."


"aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Sofia." sentak Nando berang. Sofia hanya mampu diam dalam berjuta pemikiran.


"Wanita itu selalu punya alasan untuk berjumpa kakaknya termasuk pada malam pertama kami. Dia dan kedua orang tuanya juga sangat pintar mengelabuhi aku. Bisa kubayangkan wajah-wajah laknat itu mentertawakan kebodohanku saat itu." Nando menarik nafas dalam. Tiba-tiba matanya berkaca. Sofia...ahh....alangkah dia ingin memeluk pria didepannya untuk sekedar memberikan dukungan padanya yang harus menceritakan kembali masa lalu yang susah payah ingin dikuburnya. Sofia sangat tau bagaimana rasanya.


"Kami pasangan romantis, penuh cinta dan kebahagiaan pada masa pacaran. Tapi serasa hampa setelah menikah. Yang dilakukan Emma hanya menghabiskan uangku dengan belanja, belanja dan belanja termasuk bersenang-senang dimeja judi dan aku dengan bodohnya malah menjadi donatur suka relanya dengan mengorbankan diriku dalam lautan pekerjaan yang membuatku terperangakap di dalamnya. Hingga pada suatu pagi dia muntah-muntah dan pingsan. Dokter keluarga menyatakan dia hamil."


" Berarti Elle juga putrimu. Dalam tubuhnya masih mengalir percampuran darahmu karena kalian...."


"Aku tidak pernah menyentuh Emma." potong Nando cepat. Mata pria itu berkilat.


"Aku begitu terkejut dan memaksanya mengaku siapa ayah bayi itu. Tapi dia memilih mati dari pada buka mulut. Saat kalut, kusuruh orang-orangku mengawasinya 24 jam kemanapun dia pergi hingga dia berkunjung ke rumah orang tuanya. Aku yang sama sekali tidak curiga membiarkannya. Namun apa yang terjadi setelahnya malah menusuk hatiku. Kau tau...pembantu rumah mereka yang sudah kubayar untuk bekerja sama mengirimkan foto ini." tunjuk Nando pada lembaran berikutnya dimana pria bernama Andres marseden tadi berciuman mesra diruang tamu dengan Emma. Tangan Sofia bergetar, bersamaan dengan air mata yang luruh dari sudut mata lelakinya. Sofia bergerak cepat menghambur mendekati Nando dan memeluknya mamberikan kenyamanan pada suaminya.


"Jangan katakan lagi jika itu melukaimu. Cukup! aku tidak ingin kau terluka mas." bisik Sofia seraya mengelus punggung lebarnya. Nando menelusupkan wajahnya pada leher Sofia, merasakan ketenangan dari wangi parfum wanitanya.


" Kau harus tau semuanya."


"Aku sudah tau garis besarnya dan bisa menyimpulkan apa yang terjadi sebenarnya."


"Kau belum tau akhir cerita Emma."


"baiklah...lanjutkan." Nando menarik tubuh Sofia saat wanita itu akan kembali ke kursinya.


" Biarkan seperti ini Sofia." ujarnya tetap merebah dan menutup kelopak matanya. Terlihat sekali pria dingin itu menata hatinya yang mungkin sudah remuk redam.


"Secepat kilat aku menuju kesana dengan beberapa anak buahku. Tanpa mengetuk pintu, Alex yang sudah menggandakan kunci rumah mereka segera mengajakku masuk. Ya Tuhan...mereka keluarga gila. Kau tau...mereka berempat melakukan hubungan terlarang seperti binatang di sana." Sofia kembali mengeratkan pelukannya pada Fernando, beberapa kali bahkan tanpa sadar dia mengecup pucuk kepala suaminya dengan haru.


"Sudah...jangan diteruskan."


" Tidak. kau harus tau hingga akhir."


"tapi mas..."


"Aku menghajar mereka habis-habisan dan akan menceraikan Emma. Tapi wanita ular itu secara licik mencoba bunuh diri dan mengungkapkan ke media seolah aku ini pria tak bertanggung jawab yang melukai istrinya saat hamil. Papa dan mama yang tidak ingin repurtasi Hutama terlihat buruk membujukku untuk tetap bertahan hingga bayi itu lahir. Setelahnya kami baru akan melakukan tes DNA dan membuktikan pada publik jika bayi itu bukan darah dagingku." hening....hanya ada suara jam dinding disana.


"Bayi itu lahir dan aku memberinya nama Helena. Emma yang tidak menginginkan kehadirannya bersikap masa bodoh dan membiarkan bayi itu kritis karena kurang asi. Aku yang semula membencinya menjadi iba dan mengurusnya. Saat aku benar-benar menyayangi Elle dan menerimanya dengan sepenuh hatiku, wanita laknat itu malah berusaha membunuh Elle dan menjadikannya buta."


"Dia tidak sengaja melakukannya mas....itu kecelakaan." sanggah Sofia.


" Itu hanya rekayasa Sofia."


" Kalau begitu biarkan saja. Toh dia sudah menerima hukumannya. Tuhan sudah mengambilnya."