
"Alhamdulilah ya Allah." entah berapa kali kalimat syukur itu keluar dari bibir Sofia. Benar ...pasti ada kemudahan dibalik semua kesusahan. Dia yang sudah membayangkan betapa beratnya jalan dan beban yang akan dia pikul nantinya untuk pendidikan kedua adiknya mendapatkan jalan terbaik dengan begitu mudahnya. Semua masalah memang datang dari Allah, kita hanya perlu mendekat dan memohon pada Nya karena DIA juga yang bisa menyelesaikan masalah kita.
"Kapan kau berangkat ke asrama Di?" tanya Sofia antusias. Ribuan kebahagiaan membuncah dihatinya.
"Tanggal 25 nanti kak. Doakan semuanya lancar agar aku bisa lulus dan bekerja. Aldo juga akan mulai masuk ke club minggu depan. Kita saling mendoakan ya kak agar nantinya aku juga bisa seperti kakak. Kita akan sama-sama membahagiakan bapk ibuk dihari tuanya." Aldi tak kalah antusias dari sang kakak. Selama ini dia juga tau jika Sofia sudah banting tulang untuk membantu menyekolahkan dirinya dan adiknya hingga tak punya waktu untuk mengurus diri.
"Ammmiinn Di. Hari ini kakak bahagia sekali." Sofia menyeka air mata yang luruh dari kedua matanya.
" Nanti kakak akan menelepon Aldo juga."
"Kak...tuh Aldo pulang. Do...Aldoo...kakak telepon. Cepat kemari." teriak Aldi memanggil kembarannya yang barusan datang. Terdengar jelas bunyi motornya ditelepon. Aldo bergegas menghampiri Aldi yang duduk di kursi ruang tamu mereka.
Sofia tersenyum lebar melihat adik bungsunya itu. Meski wajahnya dan Aldi sama persis, namun orang-orang terdekat mereka pasti tau dan bisa membedakan mana Aldi dan mana Aldo. Ya...adik bungsunya itu lebih modis dan murah senyum. Bahasa kerennya tebar pesona.
"Assalamualaikum kak. Bagaimana kabarmu?" seketika dia merebut ponsel dari tangan kembarannya.
"Walaikumslam...kakak baik Do. Kakak dengar ada yang barusan dapat kontrak nih? Wah..wah...nantinya adik bungsu kakak ini pasti deh punya banyak uang dibanding saudara-saudaranya. Palingan nanti kakak sama Aldi yang hmmm...miskin sendiri ha...haa..." goda Sofia. Semua sudah hafal jika si bungsu memang hobi bercanda dan sangat santai. Mungkin dia lebih banyak bergaul dan bersosialisasi diluar sana hingga menjadi lebih berbeda dari kedua kakaknya.
"Hmmm...siapa dulu dong...Aldo...haa...ha... tapi kakak harus tetap mendoakan aku dan Aldi lho ya. Kita berdua ini baru mulai berjuang kak. Harus ada doa dari yang lebih tua. Siapa tau nanti dapat jodoh milyarder kayak kakak ha..ha...."
"Aduuhh." teriak Aldo keras saat kembaranya tiba-tiba menonyor kepalanya hingga terhempas dan memelototkan mata padanya. Dia langsung merasa ada yang tidak beres pada kakak sulungnya itu. Kini wajah keduanya muncul dilayar ponsel dengan tampang serius.
"Kak...apa kau bahagia disana?" tanya Aldo dengan suara berat. Sofia terkesiap. Andai mereka didepannya sekarang, pasti dia akan memeluk mereka berdua dan berkata jika dirinya sekarang bagai raga tak bernyawa. Dia sungguh merasa sendirian.
"Kak...katakan pada kami yang sebenarnya." kini Aldi yang memang dari lahir selalu serius semakin menekannya. Tak tau mengapa, adiknya itu selalu punya firasat yang mengarah pada kebenaran pada siapapun. Bukan indigo seperti yang lagi booming memang, tapi dia sangat peka pada sesuatu.
"Kakak baik-baik saja. Sekarangkan kakak lagi tugas di kota kecil menggantikan teman yang suaminya sakit untuk jadi kepala puskesmas. Mungkin kakak jadi melow karena jauh dari mas Nando dan Elle." katanya seriang mungkin. Aldo menarik nafas lega, mungkin percaya perkataannya. Tapi tidak dengan Aldi yang memang sensitif dan amat mengenalnya. Dahinya mengernyit heran. Tidak biasanya kakan perempuan satu-satunya dalam keluarga mereka itu terlihat seceria itu. Biasanya Sofia cenderung tenang dan tak berekspresi berlebihan. Saat dia banyak tertawa, maka saat itu pula dia menyembunyikan tangis dan kesedihannya sendiri.
"Katakan yang sebenarnya kak. Mumpung bapak ibuk tidak ada." tekan Aldi dengan tatapan tajam. Aldo sampai terkesiap memandang wajah kakak kembarnya itu. Berati benar, ada yang tidak beres pada sang kakak. Air mata Sofia luruh. Tanpa menjawabpun Aldi tau apa yang terjadi pada kakaknya.
"Kakak jangan khawatir. Nanti setelah aku dan Aldo bekerja, kami akan datang pada kak Nando untuk mengembalikan uangnya. Jadi kakak ataupun keluarga kita tidak ada yang berhutang budi padanya. Kakak fokus saja pada cita-cita awal kakak. Kuliah lagi." Nasihat adiknya itu bijak. Aldi memang lebih cepat dewasa dari usianya.
"ya...Aldi benar kak. Kontrak pertamaku dan seterusnya akan kutabung untuk mengembalikan uang kak Nando. Kami hanya ingin kakak bahagia. Itu saja." Kali ini Sofia benar-benar tersedu. Kedua adiknya cepat tumbuh dewasa dan bertanggung jawab. Kini ketakutannya pada masa depan keduanya sudah sirna.
"Kalian membuat kakak terharu. Kakak jadi kangen kalian." isaknya. Namun bibirnya tersenyum lebar.
"Kakak harus janji pada kami agar tetap kuat seperti dulu. Kakak harus kuliah lagi. Jangan pikirkan kami dan bapak ibu. Kami disini tidak kekurangan kak. Bapak bahkan sudah punya sedikit simpanan saat panen cabe kemarin. Sapi kurus kita sudah dijual dan dipakai modal ibu jualan sayur keliling." Kali ini Sofia sungguh terkejut akan datangnya nikmat Tuhan yang datang bersamaan padanya. Berkali-kali kalimat tahmid kembali terucap dari bibirnya. Rasa syukur itu begitu besar.
Panggilan berakhir saat suara adzan terdengar. Celotehan adik-adiknya membuatnya sungguh merasa terhibur. Tak ketinggalan dirinya mewanti-wanti keduanya agar merahasiakan keadaannya pada kedua orang tuanya. Biarkan orang tuanya tak tau apa-apa dan menganggapnya sangat bahagia diperistri pria kaya raya. Cukup adik-adiknya saja yang tau hingga nanti dia siap mengatakan yang sebenarnya dan tak membuat keduanya orang tuanya kecewa. Nantinya dia juga akan punya tempat berkeluh kesah jika lelah itu datang mendera batinnya.
Fokus! itu yang harus dia lakukan. Dia harus menatap masa depan dan mewujudkan cita-citanya yang terbengkalai. Kuliah lagi, mengambil spesialis. Perlu kerja keras dan perjuangan memang, mengingat betapa besarnya biaya yang akan dia keluarkan nanti. Tapi dia tidak ingin menyerah. Dia harus berjuang seperti kata si kembar. Wanita harus mandiri jika ingin dihargai. Menjadi seorang istri bukan berarti kita hanya diam, mengurus anak dan suami. Ini jaman modern bukan? tak ada diskiriminasi antara perempuan dan laki-laki tapi jangan melangkah lebih jauh dari kodratmu sebagai seorang istri yang harus taat pada suami. Taatlah pada yang patut ditaati dan jangan takut pergi jika kita sudah taat tapi malah dihianati.