Dear Husband

Dear Husband
Andre lagi



"Sayang bangun...." Nando mengecup kening istrinya lembut. Setitik air dari rambutnya yang basah karena habis keramas menetes membasahi pipi halus Sofia yang langsung membuka matanya. Nando menahan lengan wanitanya yang mungkin sudah melonjak bangun dan pergi dari kamar mereka.


"Mas, maaf aku kesiangan.Kenapa tidak membangunkanku tadi?" sungguh Sofia tidak enak hati. Tidak biasanya dia bangun kesiangan hingga separah ini. Jam tujuh lewat. Hebaaaattt ...ini rekor bangun kesiangan pertama dalam hidupnya.


"Aku tidak tega. Kau terlihat sangat lelah sayang." Benar kata Nando, dia sangat lelah karena seharian mengerjakan tugas salah satu dosen killer yang harus selesai esok. Untung Shandy bersedia membantunya saat Sofia berkonsultasi dengannya. Belum lagi poli jantung tempatnya magang dirumah sakit Hutama juga penuh antrian pasien diakhir pekan.


"Engg...bisa minggir mas?" Sofia menjadi tidak enak hati melihat suami tampannya masih mengungkungnya. Jangan sampai ada ronde susulan karena semalam saja Nando sudah sangat menguras tenaganya dengan menggempurnya tiada henti.


"Mau kemana hmmm?"


"Mandi lalu meyiapkan makan pagi untuk kita." Kali ini Nando menyingkirkan tubuhnya, memberi jalan pada Sofia untuk turun dari ranjang.


"Itu tidak perlu sayang. Suami tampanmu ini sudah memasak sarapan untuk kita."


"Benarkah?"


"Ya, anda tinggal mandi dan menyeduh kopi untuk pria tampan ini nyonya muda Hutama." Sofia terkekeh dan membalikkan tubuhnya.


" Tampaknya kau lupa jika sekarang kau bukan lagi seorang tuan muda tuan Fernando satria Hutama."


"Siapa bilang? aku hanya bangkrut...bukan dicoret dari daftar warisan dad." protes Nando


sengit. Namun Sofia yang masih terkekeh tak ambil peduli. Dia memilih pergi dari sana dan menuju kamar mandi sambil menenteng pakaian gantinya.


Bau harum masakan tercium di dapur mereka. Sofia buru-buru keluar dari kamar mandi dan menuju meja makan. Benar, steak daging porsi besar sudah terhidang disana dengan bau dan hiasan yang mengundang selera. Sofia hingga harus menelan ludahnya melihat masakan itu.


"Bagaimana? kau suka? cobalah." Nando yang sudah melingkarkan tangannya di pinggang sang istri menjangkau pisau dan memotong stiknya. Dengan gerakan lembut, dia menyuapkan daging itu memakai garpu. Sedikit tersipu, Sofia membuka mulut dan memakannya.


" Ahh..ya Tuhan...ini sangat lezat. Sungguhkah kau yang memasaknya?" Nando tertawa ringan dan menunjuk tumpukan wajan dan peralatan dapur lain yang baru saja dicuci pertanda dia benar-benar memasaknya.


"Ayo duduk, kita makan dulu." Nando menarik kursi bersisihan karena meja makan menghadap jendela itu memang sudah disetting hanya untuk dua orang saja.


"Duduk saja dulu mas. Aku bikinkan kopi dulu." Tanpa aba-aba, dokter cantik itu menuju meja dapur dan mulai menyeduh kopi. Entah sejak kapan bule tampan itu suka kopi.


"Ternyata kau sangat jago masak mas. Aku jadi malu karena kalah darimu." ujar sofia tulus sambil mengelap sudut bibir Nando dengan tissu.


"Tidak juga. Kau sangat pandai memasak menu tradisional, sedang aku hanya bisa memasak western food. Sama seperti kau yang menyukai masakanku, aku juga menyukai masakanmu sayang."


"Apa bisa kukatakan jika kita ini saling melengkapi?"


"maybe." keduanya tertawa bersama. Ternyata bahagia tak harus berada diatas sana, punya segalanya atau berkuasa. Bahagia hanyalah bagaimana kita bersyukur dan menikmati kehidupan dengan hati yang tenang dan dewasa.


"Kau ada rencana liburan?" membersihkan meja makan dan mencuci piring adalah kegiatan mereka selanjutnya. Mereka begitu menikmati tiap momet bersama karena hanya pada hari minggu mereka bisa bertemu seharian.


"Aku ingin menanam beberapa tanaman disamping rumah. Kelihatannya kita perlu memanfaatkan lahan kosong disana mas."


"Sayang, nanti kau capek, kepanasan." cegah Nando. Menanam dalam pandangannya adalah tangan yang kotor, keringat bercucuran dan capek. Dia tidak ingin Sofia kecapekan. Berlahan wanita muda itu mendekat padanya dan mencium pipinya lembut.


"Itu tidak akan terjadi."


"Tapi sayang...."


"Mas disini saja sambil minum kopi.Aku akan kesana sebentar. Janji nggak lama." Melihat roman wajah istrinya yang lucu membuat Nando tidak tahan dan terpaksa mengijinkannya.


Sofia yang memang anak petani begitu terampil menanam berbagai bibit sayur yang sudah dia pesan kemarin dengan posisi berderet rapi. Tak hanya tanah, sang dokter juga menggantungkan beberapa jenis sayuran pada pot tempel di dinding. Nantinya dia akan betah berlama-lama disana sambil menatap kebun kecilnya.


Buru-buru dia mencuci tangannya di kran, bersamaan dengan bunyi pagar rumah samping yang terbuka. Hmmm...akhirnya mereka punya tetangga juga, batinnya. Tak terasa dia menyembulkan kepala pada tembok depan yang sedikit lebih pendek. Ingin tau.


"Ohh...haii ..hallo..." Seorang pria yang baru saja mengunci pintu rumah dan akan keluar pagar mendekat padanya. Sofia juga balas melambai.


"Hey. ..kau bukanya nona Sofia." sapanya ramah. Seketika Sofia mengingat-ingat siapa pria bule dibdepannya itu.


"Apa kau lupa? aku Andre. Kita pernah bertemu ditaman dekat kampusmu." Sofia menepuk keningnya. Benar, pria itu Andre. Mereka bahkan sempat ngobrol beberapa saat waktu itu.


"Owh...ya Tuhan, maafkan saya yang pelupa tuan." Sofia tertawa dan menyambut baik uluran tangan pria itu.


" Jadi rumahmu disini? wah...hebat. Lihat aku jadi bersemangat karena punya tetangga secantik dirimu nona Sofia." jika itu wanita lain, mungkin dia akan langsung meleleh mendengar rayuan sang bule, namun bagi Sofia itu tak lebih dari sikap ramah tamah saja.


"Sayang...siapa disana?" Sofia menoleh kesamping, suaminya datang menghampirinya.


"Kemarilah..kita punya tetangga baru."


"Ohh ya?"


" Mas, kenalkan ini....."


"Andreas Marseden!!" dengus Nando dengan mata berkilat tajam. Tatapan membunuh kentara disana.


" Fernando." gumam pria tadi.


" Kalian saling kenal?" tanya Sofia lirih sambil bergantian menatap keduanya bergantian. dua pria itu terus saling menatap penuh dendam hingga Nando meraih pinggang Sofia dan mengajaknya masuk ke dalam.


"mas...kenapa..kita..."


" Diam dan masuklah Sofia." kata sang suami dingin. Mencium gelagat tidak baik membuat Sofia bergegas menutup pintu dan menyusul Nando.


"Siapa dia mas?" tanyanya tidak mengerti.


" Dia Andreas Marseden, kakak Emma, ayah kandung Elle."


.....................


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Hay readers....


pemberitahuan untuk kalian semua yang masih stay dan setia menyimak novel ini. Author membuat karya baru, silahkan mampir ya...



Jangan lupa dukung karya ini dengan menekan tabπŸ’™πŸ’™πŸ’™ dan memfavoritkan karya ini agar kalian mendapatkan notifikasi up ya. Happy reading.....