
Baby Rafa menangis kencang hingga wajahnya memerah saat sang dady terlelap dalam tidurnya. Tak ada siapapun disana karena selama Nando yang berjaga disana, perawat hanya akan datang jika dipanggil. Selebihnya mereka hanya berjaga diujung lorong. Lain halnya jika Bella atau yang lain berjaga, Nando akan menyuruh mereka datang tiap satu jam sekali. Takut jika mereka butuh sesuatu.
Sebuah gerakan lemah menimpa kepala Nando yang duduk sambil menangkupkan kepalanya diatas brankar. Baby Rafa berada disisi lainnya karena dia harus super waspada menjaga putranya yang masih merah. Satu jam sekali juga dia harus memberi minum atau memeriksa popoknya. Sungguh, bayi ini menjadi penyemangat dan hiburan pengobat lelah baginya.
"Ahh ya Tuhan." pekik Nando saat merasakan sesatu yang berat menimpa kepalanya. Tanpa memeriksanya, dia mendekat ke arah box putranya dan memeriksanya. Ternyata popoknya penuh. Dengan gerakan hati-hati Fernando mengganti popoknya dengan yang baru lalu menimang putranya agar bisa tidur kembali. Saat tanpa sengaja matanya menatap ranjang pasien, dia melihat iris mata kecoklatan istrinya terbuka.
"Sa...sayang..kau...kau..." gemetar tangannya memencet tombol disamping tempat tidur kuat-kuat agar perawat atau dokter jaga segera tiba. Masih menggendong bayinya, Nando mendekati sang istri yang beberapa kali mengedipkan matanya.
Suara pintu diketuk lalu dibuka membuat Nando mengubah fokusnya. Dokter Sam yang memamg diutus memantau Sofia masuk diikuti seorang perawat dibelakangnya.
"Periksa istriku Sam. Dia sudah sadar." ujar Nando dengan kebahagiaan yang membuncah di dadanya. Dokter Sam memeriksa keadaan Sofia, melepaskan alat bantu pernafasannya lalu beberapa alat lain yang menempel padanya lalu memeriksa kesehatan Sofia.
"Titip istri sebentar Sam, aku akan memanggil Alex diluar." lalu Nando melangkah lebar kearah pintu. Terlalu bahagia membuatnya berbagi dengan sang ipar. Dia ingin Alex turut menyaksikannya.
"Selamat malam dokter Sofia, apa anda mendengar saya?" tanya Sam memastikan.
"Ya." meski lemah, suara Sofia bisa di dengar dengan baik oleh dokter Sam.
"Anda sadar lebih cepat dari pada perkiraan saya dokter. Lihatlah suami maupun putra anda yang setia menemani hingga tiga hari ini." Mata Sofia berkaca begitu melihat bayi kecil dalam gendongan suaminya yang belum sempat dia lihat karena sudah dibawa Nando keluar tadi. Dia ingin bangkit, namun tubuhnya terasa amat lemah dan kepala yang masih sakit dan berat.
Sebentar kemudian Nando kembali masuk dengan menggendong baby Rafa dalam dekapannya. Lihatlah bayi itu begitu nyaman dalam pelukan dady tampannya.
"Lihatlah, dia sangat mirip aku, sesuai keinginanmu sayang." bisik Nando seraya mendekat dan meletakkan baby Rafa disamping Sofia , tampaknya dia masih dalam suasana haru karena akhirnya istrinya kembali.
"Maaf tuan muda, sepertinya anda harus tau ini." Seketika Nando mengalihkan pandangannya pada dokter Sam yang terlihat amat serius.
"Ada apa Sam?"
"Nyonya Sofia mengalami gangguan pada syaraf kakinya. Nantinya dia akan...."
"Apa kau bilang?? Kau..kau jangan bilang istriku lumpuh Sam!!?" sergah Nando tidak terima. Dia sudah bergerak mendekati dokter Sam dengan emosi membuncah.
"Anda tau itu kan dokter?" tanya Sam. Sofia mengangguk.
"Saya tau dok."
"Anda juga tau bukan apa yang harus anda lakukan?" lagi-lagi dia mengangguk. Harusnya memang Sam tak boleh membicarakan kondisi pasien di depan mereka. Tapi pasiennya kali ini beda...sangat beda. Dia istri pemilik rumah sakit besar tempatnya bekerja dan juga seorang dokter potensial yang sangat tau bagaimana menyikapi sakit yang di deritanya.
"Sampai kapan dia akan begitu Sam?" keluh Nando lirih. Emosi itu berganti dengan rasa iba akan nasib sang istri.
"Untuk itu saya kurang tau tuan muda. Ada beberapa kasus yang bisa sembuh dalam hitungan hari, ada pula yang hingga satu tahun, atau bahkan lebih.Sebaiknya anda berkonsultasi dengan dokter syaraf." Nando meremas rambutnya kasar. Baru saja dia merasa amat sangat bahagia karena kembalinya sang istri, cobaan itu datang lagi.
"Carikan aku dokter terbaik Sam. Kalau perlu ke luar negeri. Aku ingin istriku kembali seperti sedia kala." perintah Nando tegas. Bagaimana dia tega melihat istrinya menjadi seperti orang linglung seperti itu?
" Baik tuan. Jika sudah tidak ada lagi yang bisa saya kerjakan, kami mohon diri tuan muda." Dokter Sam cukup tau diri untuk tidak menganggu momet bahagia keluarga kecil itu. Urusannya memeriksa kondisi pasien sudah usai, sekarang dia sudah bisa bernafas lega karenanya. Walau belum sadar sepenuhnya, minimal Sofia tidak terus koma.
"Pergilah Sam, terimakasih sudah memeriksa istriku."
"Sama-sama tuan muda, kami permisi." setelahnya terdengar pintu kembali tertutup.
" Mas, aku haus." Ujar Sofia pelan, namun masih di dengar jelas oleh Nando yang bergegas meraih teko didekatnya lalu menuangkan air untuk minum istrinya. Dibantunya Sofia duduk hingga menenggak habis minumannya. Setelahnya Sofia kembali berbaring, tangannya mengelus mesra sang putra yang entah kenapa masih setia terjaga disamping momynya. Mata bulatnya mengerjab jenaka dan menggerakkan tangan dan kakinya dengan lincah.
"Aku memberinya nama Rafael sayang."
"hmmmm."
" Kok Hem? kamu tidak suka? Jika tidak maka gantilah namanya semaumu sayang. Dia putramu."
"Putramu juga mas. Sudahlah, tidak perlu diganti. Aku suka nama itu."
"Syukurlah sayang." bisik Nando.