Dear Husband

Dear Husband
Perjalanan



Senyum lebar masih setia terukir dibibir tipis Sofia yang terlihat penuh pagi itu. Bukan penuh, tapi bengkak. Bagaimana tidak? mantan duda keren yang sekarang jadi suaminya itu terus merengek meminta haknya walai tak sampai melakukan KDRT seperti pasangan artis yang baru-baru ini mondar-mandir di layar kaca. Ya, Nando melakukannya dengan sangat lembut dan hati-hati karena menyadari janin yang berkembang dalam perut sang istri. Tapi entah mengapa akhir-akhir ini dia begitu menggebu saat berada di dekat istrinya itu.


Mobil yang membawa mereka dari bandara menuju rumah orang tua Sofia yang terletak berpuluh kilometer dari sana bergerak stabil. Sang sopir yang memang ditugaskan perusahaan cabang Surabaya untuk mengantar bos besar mereka duduk berdampingan dengan Maria di jok depan. Gadis itu juga terlihat amat menikmati perjalanannya. Terbukti dia selalu berdecak kagum pada sesuatu yang menurutnya aneh padahal biasa saja bagi orang lain. Maria memang jarang berinteraksi dengan dunia luar karena sibuk bekerja di kediaman Hutama. Jatah liburpun tak pernah diambilnya. Seluruh hidupnya dihabiskan untuk fokus bekerja agar bisa membantu perekonomian ibunya yang harus menyekolahkan dua adiknya di kampung.


"Sayang, kemarikan Rafa." Nando mengulurkan tangannya hendak mengambil si kecil dari dekapan momynya setelah putra pertama mereka itu terlelap.


"Biarkan saja mas." tolak Sofia. Dia memang sangat menyayangi Rafa sehingga moment-moment kecil seperti ini sudah membuatnya bahagia.


"Sayang..biar Rafa bersamaku saja. Kasihan dedek bayi di dalam sana jika tertekan karena kau memangku kakaknya. Duduklah dengan nyaman. Bukannya kau masih bisa mengelus Rafa meski berada dalam gendonganku?" ungkapnya minta pengertian. Sungguh, Rafa yang gembul sudah membuatnya khawatir.


"Bukannya semalam kau juga menindih tubuhku? mana aku tau jika kau juga menekan perutku?" celetuk Sofia asal. Nando dibuat melotot karenanya. Walau lirih, tak menutup kemungkinan jika sopir atau Maria bisa mendenganya.


"Sayang ....kenapa membahasnya disini sih?" bisik Fernando dengan wajah bersemu. Bergegas dia menurunkan tirai pembatas hingga membuat Sofia diam seketika. Tangan kekarnya menarik box bayi khusus yang ditempatkan didepan mereka lalu meraih lembut tubuh Rafa dan meletakkannya disana.


"Begini lebih baik bukan? kemarilah!" Sofia hanya menurut, merapatkan tubuhnya pada sang suami, bersandar di dadanya.


"Ehm...soal menindih...maafkan aku." ujar pria tampan itu kaku. Sofia hampir tergelak karenanya.


"Aku hanya bercanda mas." balasnya terkekeh.


"Bercanda?" ulang Nando tak mengerti. Sofia bangkit dari pelukannya, menatap lelakinya mesra. Tangannya terangkat membelai pipi sang suami yang refleks memegang dan mengecupnya penuh kasih.


"Kau tak pernah menindih atau menekannya hubby. Untuk urusan itu aku yakin kau sangat profesional. Tapi....."


"Apa hemm??" kali ini Nando masih saja dibuat penasaran. Sofia mendekati telinganya dan berbisik amat lirih disana.


"Entah kenapa akhir-akhir ini aku...nyaman diatas?" Sebuah rengkuhan langsung membuat Sofia terkaget. Belum sempat menguasai keadaan, sebuah ciuman dalam sudah singgah di bibirnya. Lelakinya itu...aahh...selalu saja cepat panas jika menyangkut hal begituan. Dia yang dulunya hanya ikut alur juga ikut-ikutan mesum karena hormon kehamilan. Nafas keduanya terengah.


"Apa kita perlu mampir ke hotel terdekat agar kau bisa segera diatas?" desis Nando sensual dengan nafas memburu dan wajah merah padam. Bayangan liukan tubuh telanjang penuh keringat Sofia yang berpacu diatas tubuhnya terus membayang. Sangat seksi.


"Tidak hubby. Kita harus kerumahku." tolak Sofia sambil mengelap ujung bibir suaminya. Sebuah senyum memohon lengkap dengan pupyeye nya sudah membuat Fernando melemah dan kehilangan hasratnya. Pernikahan bukan semata-mata soal urusan ranjang dan kepuasan, dia hanya ingin wanitanya bahagia dan nyaman disampingnya. Pria itu kembali meraih istri tercintanya kedalam pelukan hangatnya. Membelai kepalanya dan mengecupi puncak kepalanya.


"Rasanya aku sangat kangen rumah hubby." lirih Sofia, membuat Nando merasa amat bersalah. Sejak menikah dan melahirkan Rafa hingga sekarang mengandung anak kedua mereka, dia baru dua kali mengunjungi mertunya. Selebihnya dia hanya memantau laporan orang suruhannya dan mencukupi kebutuhan mereka dari jauh tanpa berniat mempertemukan Sofia dengan orang tuanya. Apa dia terlalu egois??


"Maaf."


"Maaf...untuk apa hubby?"


"Untuk aku yang tak pernah mengerti perasaanmu." ujarnya penuh sesal. Sofia mendongak, menatap iris biru itu penuh cinta.


"Itu tidak perlu hubby. Kau amat mengerti aku. Tak ada alasan bagimu untuk minta maaf. Semua yang kau lakukan sudah cukup bagiku." mata coklat itu berbinar walau sedikit berkaca. Sofia terharu. Fernando sudah banyak berubah.


"Mulai sekarang kau tak perlu menyimpan apapun. Katakan padaku apa yang kau inginkan. Suamimu ini akan berusaha mengabulkannya."


"Aku tau itu."


"Tau tapi kau tak pernah meminta apapun dariku." gerutu Fernando. Dia yang dulunya heran dengan kepribadian hemat Sofia dan berubah jadi ketularan menjadi takjub dengan jalan pikiran wanitanya. Sofia tak pernah berbelanja barang mewah, ikut geng sosialita atau banyak gaya meski sudah menjadi istri milyarder sepertinya seolah kehidupan kelas atas tak menyentuh dinding kehidupannya. Dia tetap sederhana walau tak menghilangkan kesan elegan dari dirinya. Anehnya, Fransisca dan Karin juga ketularan virus dokter cantik itu secara akut. Mama dan kakaknya itu jadi malas belanja dan memilih ikut kegiatan sosial. Tentu saja Teguh hutama dan suami Karin dibuat bertanya-tanya dan ingn tau jawaban perubahan drastis dikeluarga tersebut.


"Kau sudah mencukupi semua kebutuhanku hubby."


"Semuanya?"


''Ya. Termasuk urusan ranjang." bisik Sofia nakal. Lagi-lagi Fernando mengeram kasar. Jika saja ini dirumah, mungkin dia akan langsung menerkam Sofia saat itu juga. Wanitanya terlalu menggoda.


"Bersabarlah hubby, satu jam lagi kita sampai dirumah." ungkap sofia seakan mengerti perasaan sang suami.


🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴


Selamat pagi readers....bagaimana kabar kalian? Maafkan author yang kena sindrom malas update ya. Meski tidak dibalas, saya baca keluh kesah dan permintaan kalian kok. Terimakasih sudah mendorong dan menyemangati saya ya. Salam sayang selalu😘😘😘