Dear Husband

Dear Husband
Terjerat



Nando mengandeng tangan Sofia dan menuntunnya ke pintu kamarnya. Tapi begitu melewati kamar si kembar, dia berhenti dan mencoba melepaskan tangan Nando pelan. Apa tidak sebaiknya dia belajar menjauh?


"Kenapa?" tanya Nando heran.


"Biarkan aku istirahat disini." Nando menghembuskan nafasnya kasar. Wanita memang aneh. Dijauhi mereka pergi, didekati mereka lari. Padahal semalaman dia tidak tidur karena terus memantau keadaan istrinya. Dia juga harus berangkat pagi buta ke bandara dan melalui perjalanan darat yang melelahkan hanya untuk bertemu istri nakalnya. Sofia baru akan membuka pintu saat ibunya muncul dari pintu dapur.


"Kau sudah datang Fi?" Mereka berpelukan sesaat. Sebenarnya ibunya tau jika Sofia sudah pulang, tapi dia sibuk bersih-bersih didapur tadi.


"Kenapa disini? Kamarmu sudah ibu bersihkan dari tadi. Nak Nando juga sudah istirahat sebentar tadi." Sofia gamang, tak tau harus menjawab apa pada ibunya. Nando sudah memberitau semua orang jika dirinya hamil, apa dia mesti bilang jika mereka akan berpisah? Ayah ibunya pasti tidak akan setuju dan memarahinya. Siapa yang akan percaya pada perkataannya jika melihat sikap manis Nando padanya. Apalagi pria itu pintar mencari alasan untuk menyembunyikan keretakan rumah tangga mereka. Lihatlah, suami kejamnya itu malah datang dengan berbagai oleh-oleh tak hanya untuk ayah ibunya tapi juga para tetangga. Nando juga banyak membuat perubahan pada rumah kecil mereka yang sudah dipugar hingga menyerupai rumah orang berada. Ayahnya juga tidak lagi terlalu capek disawah karena disuruh menyewakan saja oleh sang menantu. Sebagai gantinya, Nando membukakan toko pupuk dan alat pertanian di samping rumah.


"Dia kangen si kembar bu." lagi-lagi Sofia menoleh menatap suaminya yang makin lama makin pintar mencari alasan. Apalagi pria itu bersikap seolah dia suami terbaik dimuka bumi.


"Mereka belum bisa pulang Fi. Sudah, istirahat saja. Kasihan nak Nando, dia juga pasti sangat capek. Atau kau mau makan siang dulu?" Tawar sang ibu. Putri sulungnya itu hanya minum teh hangat saja tadi. Padahal jam makan siang sudah lewat.


"Tidak usah bu. Nanti saja." tolak Sofia. Perutnya masih sangat kenyang sekarang.


"Theresa sudah mengajaknya makan tadi." Bodohnya Sofia jika menganggap Theresa adalah orang baik yang kebetulan bertemu dengannya. Dia lupa jika suaminya bukan pria sembarangan. Saat menginginkan sesuatu, pria itu tinggal menjentikkan jarinya saja.


"Iya bu. Kami istirahat dulu." Pamit Sofia lalu berjalan mendahului Nando ke kamarnya.


"Kenapa mas menyusulku kemari?" Nando mengunci pintu dan berjalan mendekati istrinya.


"Aku suamimu. Sudah sepantasnya aku menyusulmu kemari."


"Maaf karena aku tak mengindahkan keinginanmu. Biarkan aku hidup tenang dan mengasuh anak ini disini. Kelak saat dia dewasapun, aku tidak akan memberitaunya tentangmu. Kau bisa melanjutkan hidupmu mas, tapi jangan paksa aku aborsi. Aku bukan wanita sejahat itu." raut wajah Nando berubah garang. Mata tajamnya seakan ingin menelan Sofia bulat-bulat.


"Kau yang menyuruhku aborsi. Kau juga sudah tak memberiku kesempatan mas." bela Sofia dengan nada lemah. Percuma melawan Nando dengan kekerasan. Lebih baik dia bersikap selembut mungkin.


Mata Nando meredup. Dilepaskannya tangan besar itu dari pundak Sofia.


"Kau salah paham Fi." Fi? dia bahkan memanggilnya dengan panggilan sayang orang-orang dekat Sofia padanya. Kembali dia membawa Sofia duduk di pinggir ranjang.


"Maafkan aku yang terlalu egois. Aku hanya memikirkan kesehatanmu dan calon anak kita dengan berhenti kuliah saja. Bukan merebut semua hal yang kau capai dengan susah payah. Aku tidak pernah menyuruhmu resign." jelas Nando dengan suara rendah.


"Kau tidak perlu takut pada kehidupannya dimasa depan karena dadynya ini akan selalu bekerja keras untuknya dan memastikannya tak kurang apapun. Aku hanya ingin kau jadi ibu yang baik, yang mengurus dirinya, aku dan rumah kita. Aku ingin punya banyak waktu luang bersama." lanjut Nando lagi. Dia memang marah dan khilaf mendengar penolakan Sofia pada permintaannya. Harga dirinya sebagai seorang suami seakan terinjak.


Kurang apa dia pada Sofia? dia bahkan mengabulkan semua permintaan istrinya, lalu apa salahnya jika dia minta sesuatu untuk kebaikan rumah tangga mereka? Dia yang seharian sibuk dikantor dan Sofia yang sibuk dengan kuliah dan pekerjaanya. Siapa yang akan mengurus anak mereka yang sangat butuh kasih sayang orang tuanya. Nando tak ingin mengulang kesalahan orang tuanya yang memasrahkan anak-anak mereka pada babysitter dan pembantu rumah tangga. Dia ingin anaknya dibesarkan dengan kasih sayang berlimpah.


"Fi?" tak ada sahutan. Sofia masih menundukkan kepalanya.


"Maaf jika perkataanku menyakitimu. Aku tau, butuh waktu untuk memaafkan aku. Sekarang istirahatlah. Aku tidak akan memaksamu untuk kembali."


"Kenapa kau semanis ini mas?" gumam Sofia pelan. Nando mengangkat dagunya dengan tangan kanannya.


"Apa aku salah berucap lagi?" Sofia menggeleng lemah. Tatapan teduh Nando ..kenapa dia sangat merindukannnya?? Begitu inginnya dia membenamkan diri dalam pelukan hangatnya. Tapi sungguh dia takut berharap banyak dari suaminya itu. Dia takut sakit dan terluka lagi.


"Aku takut terjerat dalam pesonamu."


"Kau harus begitu, kau harus terjerat padaku seperti aku yang sudah terjerat dalam ketulusanmu nyonya muda Hutama." bisik Nando yang langsung memagut bibir sang istri mesra. Wajah Sofia merona.