Dear Husband

Dear Husband
Curhat author



Sofia meletakkan bungkusan berisi obat yang baru saja diberikan oleh seorang perawat padanya. Obat untuk Nando. Sejengkel apapun dia pada suami tampannya itu, dalam hati dia tetap merasa tidak tega. Apalagi melihat wajah pucat dan lemasnya tadi pagi. Sungguh dalam hati dia sangat khawatir.


"Dokter, ini hasil pemeriksaan pasien Emily." perawat lain datang membawa beberapa lembar kertas yang sudah disatukan dihadapan Sofia yang langsung membacanya dengan teliti.


"Sebenarnya dia belum boleh pulang." gumam Sofia sambil terus menatap lembaran hasil pemeriksaan.


"Tapi suaminya ingin nyonya Emily pulang paksa dok."


"Suaminya?" Sofia mengangkat alisnya, merasa terkejut.


"Ya, tuan Moraima."


"Apa dia ada disini?"


"ya."


"Kita kesana." Sofia lalu bangkit dari duduknya. Perawat tadi langsung mengambil berkas dan menyusul dokter cantik itu menuju brankar Emily yang hanya disekat oleh korden warna hijau muda pada setiap pasien. Sofia menyingkapnya perlahan, memunculkan wajah Moraima yang sedikit kusut.


"Selamat pagi tuan Moraima." sapa Sofia lembut. Nyonya muda Hutama itu berusaha bersikap biasa saja, berbeda dengan Sean yang terlihat sedikit kikuk karena kembali bertemu dengan Sofia yang pagi itu benar-benar terlihat mempesona dengan seragamnya yang dilapisi jas putih bersih ala dokter.


"Pagi nyonya muda Hutama." pria gagah berkulit pucat itu menghormat dengan menundukkan tubuhnya. Terasa sekali dia sangat menghormati Sofia.


"Jadi dia...istri Fernando?" tanya Emily dengan suara pelan. Wajahnya masih pucat dengan bibir yang masih terlihat pecah-pecah.


"Saya dokter Sofia jika berada disini." tukas Sofia seraya tersenyum tulus. Sean hanya menanggukkan kepalanya. Sedang Emily? Wanita muda itu hanya memalingkan wajahnya ke jendela enggan bersitatap dengan Sofia.


"Menurut hasil pemeriksaan ini, nyonya Emily belum diperbolehkan pulang karena ada sedikit gangguan pada katup jatungnya yang dinilai bisa memicu hal buruk pada dirinya. Kenapa tak membiarkan dia disini dulu?"


"Saya ingin membawanya berobat ke Singapura." tegas Sean.


"Singapura? dalam kondisi belum stabil seperti sekarang?" tanya Sofia meyakinkan.


"Tidak punya? apa itu karena saya? jika ya, maka saya beritau jika dokter seperti saya harus profesional dalam bekerja. Kami tidak akan membenci atau mencelakai pasien karena terikat aturan dan sumpah jabatan. Dan jika anda benar-benar tidak ingin nyonya Emily dibawah perawatan saya, maka saya akan memindahkannya di ruang perawatan. Kalian tidak akan lagi bertemu dengan saya." jelas Sofia panjang lebar, berharap baik Sean ataupun Emily akan berubah pikiran dan tetap disana hingga sembuh total. Sean masih diam tanpa jawaban.


"Tapi disini Emily tidak ada kemajuan." lanjutnya kemudian.


'' Tidak ada kemajuan?"


"Ya."


"Nyonya Emily datang dalam keadaan tidak sadarkan diri kesini. Kami yang merawatnya hingga mengakhiri masa kritis. Apa itu bukan kemajuan? dokter juga manusia tuan Sean. Kesembuhan juga butuh proses. Kami bukan Tuhan." lagi-lagi sepasang suami istri itu tetap diam.


"Satu lagi ....janganlah masalah kita anda sangkut pautkan dengan kesehatan nyonya Emily. Tapi jika memang anda ingin membawanya pergi...saya tidak bisa memaksa." kali ini Sofia mencoba memgerti keadaan Sean dan Emily.


"Emily tetap akan saya bawa pulang." tegas Sean tanpa ragu. Sofia mengangguk. Dia tau pasti semua akan berakhir begitu. Keputusan awal Sean. Pulang.


"Baik, saya akan buatkan pengantarnya." Balas Sofia. Dia lalu mengambil berkas dari tangan suster yang mengikutinya dan menandatangi beberapa lembar disana.


"Anda tinggal menuju loket untuk menyelesaikan administrasinya tuan Sean. Semoga nyonya Emily cepat sembuh." Sofia menyalami Sean dan mengangguk sopan pada Emily yang menatapnya aneh.


"Dokter tunggu...biarkan saya tetap disini."


💙💙💙💙💙💙💙💙💙


Hai readers.....


Kali ini author mau curhat saking jengkelnya. Hari ini saya lihat level karya saya turun dua tingkat tanpa pemberitahuan, padahal sya tetap berusaha update sebelum batas 3 hari libur seperti aturan platfrom. Dukungan dari kalian juga tak henti-hentinya mengalir untuk karya saya. Sebenarnya dimana salahnya ya? Kok sepertinya sya sebagai author level rendah merasa nggak dihargai sama sekali. Bukannya tidak bertanggung jawab, kami para author juga punya kesibukan di dunia nyata, kadang juga kehabisan inspirasi utk melanjutkan cerita.Sungguh sya ingin menyelesaikan karya ini, tapi sya juga manusia biasa yg punya rasa kecewa. Akhirnya dgn berat hati saya akan menghentikan karya ini dalam waktu yang tk terbatas. Mohon maaf jika selama menjadi author sya pernah menyinggung dan membuat kalian kecewa.


Terimakasih sudah mendukung sya...I LOVE U All readers...😘😘😘😘😘😘😘


👋👋👋👋👋👋👋