
Sebuah mobil sudah terparkir rapi di pintu keluar bersamaan dengan seorang pria berpakaian formal yang membuka pintu dan mempersilakan pasangan pengantin baru itu untuk masuk.Sofia menatapnya sekilas sebelum pria itu mengangguk hormat padanya dan Fernando.Pria yang menarik dengan kulit sawo matang namun terkesan bersih dan seksi.Rambutnya yang hitam legam disisir rapi ke kebelakang dengan kumis tipis yang bertengger di bibirnya.Ahh...Sofia jadi ingat seseorang.
"Selamat datang tuan muda." sapanya seraya mengulurkan tangannya yang disambut oleh Fernando dengan senyum tipis namun penuh wibawa.
"Bagaimana kabarmu Her?" Sofia mengernyit heran.Ternyata manusia batu disebelahnya ini bisa basa-basi juga.
"Saya baik tuan muda." balasnya singkat.
"Ini Sofia istriku,dan...sayang,ini Herman.Pimpinan Hutama corp cabang Surabaya." kata Nando memperkanalkan Sofia yang langsung mengulurkan tangannya seraya tersenyum ramah.Sesaat Herman melirik pada sang presedir yang berubah menatapnya dengan tatapan dingin.Herman tau,Nando tidak mengijinkan dirinya bersentuhan tangan dengan istrinya walaupun itu sebuah salaman untuk formalitas.
"Salam kenal nyonya.Senang berkenalan dengan anda." jawabnya kemudian sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.Dia membalas senyum Sofia agar tidak terkesan menolak atau menyakiti hati sang nyonya muda.Sofia menarik tangannya lalu mengangguk.Disampingnya,Nando menarik nafas lega lalu mendorong tubuh tinggi semampai Sofia berlahan untuk memasuki mobil.
Sofia menyandarkan tubuh lelahnya ke jok mobil lalu melemparkan pandangan ke luar jendela saat Nando masuk dan duduk disampingnya.
"Bagaimana kondisi umum cabang Surabaya Her?" tanya Nando sesaat setelah pria tadi masuk ke dalam mobil dan mengemudikan mobil yang masuk jajaran mewah itu menuju alamat yang sudah dikirimkan sekretaris Frans tadi pagi.
"Semuanya terkendali dengan baik sesuai arahan anda tuan muda." jawabnya santun tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya.Baginya keselamatan sang presedir adalah hal utama.Setelahnya tidak ada lagi percakapan karena Nando menyalakan hpnya untuk membalas beberapa pesan yang masuk.
Tanpa terasa,mobil memasuki rumah sederhana dengan pekarangan luas yang mengelilinginya.Terlihat asri dan bersih.Mata Nando yang jeli juga sempat menikmati beberapa pohon buah yang berjajar rapi,juga hamparan sayur-mayur yang tumbuh subur di pekarangan.Sejauh mata memandang hanya kesejukan yang dirasa.
"Apa anda perlu membangunkan nyonya tuan muda?" tanya Herman yang sudah selesai memarkirkan kendaraan mereka dibawah pohon mangga yang berukuran besar dan rindang.Nando menggelengkan kepalanya.
"Turun dan beritahu keluarga istriku jika kami sudah sampai." perintah Nando.Herman berjalan cepat ke arah pintu masuk dan mengucapkan salam.Seorang wanita paruh baya muncul dari arah dapur sambil mengelap tangannya dengan kain kecil.
"Siapa bu?" tanya suara berat dari kamar belakang.Seorang pria yang mirip dengan Sofia.
"entahlah pak,ayo kesana!" keduanya lalu beriringan menuju pintu.
"Permisi pak,saya Herman.Tuan muda kami sudah tiba bersama nyonya Sofia.Tapi saat ini nyonya sedang tertidur dan tuan tidak mau menganggu tidurnya.Bisakah kalian menunjukkan dimana kamar nyonya?sepertinya tuan muda sendiri yang akan mengantarnya kesana." ucap Herman sopan.Pasangan suami istri itu tersenyum sumringah.Sang istri lalu menunjukkan kamar putrinya dengan antusias bersamaan dengan sesosok tubuh tinggi kekar yang tiba diambang pintu rumah mereka dengan menggendong putri kesayangannya yang tertidur pulas dalam dekapannya.Seolah Sofia adalah gadis kecil dalam pelukan nyaman ayahnya.
"Selamat sore ayah,saya Fernando Satria hutama,suami Sofia.Maaf jika baru sekarang saya bisa mengunjungi ayah.Dan maaf juga karena saya menikahi putri ayah tanpa ijin dan pemberitahuan pada ayah dan ibu sebelumnya.Kami saling mencintai ayah,tapi Sofia selalu bersikeras menyembunyikan hubungan kami dari kalian.Jadilah saya memaksa putri kalian untuk menikah secara tiba-tiba.Sekali lagi maafkan saya." Tutur Fernando dengan mimik wajah meyakinkan dan terlihat tulus.Hati orang tua mana yang tidak tersentuh melihat dan mendengar pengakuannya?pria nyaris sempurna yang bisa dibilang Sofia sangat beruntung mendapatkannya.Mata Arif berkaca.Putrinya yang sering jadi bahan gunjingan tetangga karena sudah berusia matang tapi belum menikah juga sekarang telah menjadi seorang istri.Bukan hanya istri pria biasa,tapi seorang tuan muda yang punya banyak pengaruh diluar sana.Belum pernah dia melihat pria setampan dan seelok menantunya ini diseatero kampung.Bisa dibilang mendekati sempurna.
"Saya bisa maklum nak." jawab Arif pendek.Bingung akan mengatakan apa di depan menantunya yang punya wibawa tersendiri di matanya.
"Ayah,saya datang kemari untuk meminta restu ayah,ibu dan seluruh keluarga juga untuk mengurus surat-surat Sofia agar bisa dipindah tugaskan ke Jakarta mengikuti saya." Arif masih termangu,menyimak tiap kata yang meluncur dari bibir menantu barunya tersebut seiring dengan munculnya sang istri dari arah dapur sambil membawa nampan berisi minuman hangat untuk mereka.
"Silahkan diminum tuan." ujarnya lirih cenderung sungkan walau tak menghilangkan kesan ramah dari wajahnya.Fernando langsung menatapnya tajam.
"Ibu,saya menantu anda.Jangan panggil saya tuan.Nama saya Fernando.Ibu bisa memanggil saya Nando." ulasnya.
"hmmm baiklah,silahkan diminum nak.Mumpung masih hangat." balasnya kemudian lalu mengambil tempat duduk disamping suaminya.Fernando langsung mengambil gelas berisi teh hangat lalu meminumnya tanpa ragu.Hermanpun melakukan hal yang sama dengannya.
"Mulai saat ini ayah dan ibu tidak perlu memikirkan biaya pendidikan adik-adik.Saya akan menanggung biaya pendidikan mereka hingga lulus kuliah nanti."
"I...itu...ahh...jangan nak Nando.Kami tidak ingin merepotkanmu.Kami masih sanggup bekerja dan menyekolahkan mereka." Arif seketika merasa tidak enak pada Nando yang menurutnya terlalu baik.
"Ayah,dulu Sofia yang membantu pendidikan mereka bukan?sekarang Sofia sudah menjadi istri saya,bukankah sekarang saya adalah putra anda juga?jadi biarkan saya yang menanggung kewajiban Sofia.Ayah tenang saja,semua akan baik-baik saja."
"Apa ini tidak terlalu berlebihan nak?"
"Tidak ayah."
"Bagaimana ayah dan ibu akan berterima kasih padamu nak?" tanya ibu Sofia penuh haru.Menyekolahkan anak kembar adalah hal berat bagi mereka yang memang termasuk golongan menengah kebawah.
"Ayah dan ibu tidak perlu melakukannya.Anggap saja ini adalah tanda terimakasih saya karena kalian sudah menjaga jodoh saya." kata Fernando mantap