
"Aku membencimu Fernando satria hutama!!" teriak Sofia keras dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Wanita itu menangis hingga sesenggukan dan membuat Fernando panik lalu sontak mendekat dan memeluknya.
"Lepaskan aku Fernando. Kau menyakitiku mas...kau memilih dia bukan? jadi lepaskan aku." teriak Sofia kalap. Nando sampai harus membekap mulutnya agar tak terus berteriak. Dia tak yakin kamar itu kedap suara meski sudah VIP karena hotel di daerah itu hanya setara penginapan biasa di kota. Bisa bahaya kalau sampai ada orang yang mendengar dan dia dikira melakukan KDRT atau lebih horornya melakukan perkosaan atau pembunuhan.
"Sayang bangun...Sofia...Sofia bangun." panggilnya lirih sambil menepuk-nepuk pipi istri tercintanya. Sofia yang baru membuka matanya secara spontan mendorong Nando hingga hampir terjungkal dari ranjang hotel yang mereka tempati. Pria itu hingga harus mengelus dada karena hampir marah karena kelakuan sang istri yang menurutnya terlalu arogan. Tak ada hujan tak ada badai, tapi wanita lemah lembut yang menjadi istrinya itu malah mengamuk dan mengatakan jika dirinya jahat. Whats wrong?
"Pergi!! bawa perempuan itu pergi mas. Aku tidak mau melihatnya." pekik Sofia keras tetap dengan air mata yang terus berjatuhan. Nando menggaruk lehernya bingung. Berlahan dia turun mengambil boxer yang berserakan dilantai karena sesi percintaan panas mereka beberapa jam lalu.
"Perempuan siapa yang kau maksud Sofia?" tanyanya lembut, tak mau terpancing emosi karena tuduhan maupun perilaku sang istri yang entah kenapa jadi galak dan sensitif.
"Emma! untuk apa kau pulang? temani saja mantan istrimu itu di hotel sana. Aku tidak mau dimadu mas. Jika kau masih mencintai dia maka ceraikan aku. Biar anak-anak bersamaku. Kau bebas bahagia dengan wanitamu." Nando menyipitkan matanya. Mencerna setiap kalimat yang keluar dari bibir istrinya dalam diam. Kenapa ada lagi nama Emma dalam pernikahan mereka? nama yang bahkan sudah dia kubur dalam sejarah masa lalu yang mungkin sudah hangus saat Bandung lautan api dikumandangkan.
Nando merengkuh bahu istrinya yang terus meronta dalam tangisan. Hanya perlu sedikit tenaga agar Sofia berhenti meronta. Tubuh langsingnya sudah pasti bukan tandingannya jika urusan duel. Direbahkannya kepala Sofia dalam pelukannya. Menyatukan dada telanjan mereka yang bahkan lupa ditutupi karena mimpi buruk sang belahan hati.
"Sayang lihat....kita masih di hotel berdua. Tidak ada Emma, hanya kita berdua." bisiknya sambil menunjuk sekelilingnya. Sofia diam, mencoba berpikir jernih. Nando dengan sigap meraih botol air mineral lalu menyerahkannya pada Sofia yang masih bengong. Wanita itu meraihnya lalu menegukknya sebagian.
"Apa aku...."
"Ya, kau bermimpi." sahut Nando cepat. Dalam hati juga bertanya-tanya, mimpi apa yang hadir dalam tidur istrinya hingga terlihat sedih dan marah seperti tadi. Yang jelas semua ada hubungannya dengan mantan istrinya karena Sofia menyebut nama Emma dengan jelas.
"Mas....." dan Sofia kembali meringkuk dalam pelukan suaminya dan memeluknya amat erat, seolah takut kehilangan.
"Kau mimpi apa sayang?"
"Apa...apa kau masih mencintai Emma hubby?" tanya Sofia dengan suara bergetar, takut kejadian dalam mimpinya jadi kenyataan. Tak ada sahutan, Nando membatu.
"Apa diammu....." dan sebuah ciuman membungkam bibir Sofia hingga tak bisa berkata. Nando bahkan mengigit kecil bibir seksi Sofia hingga pemiliknya mengerang tertahan.
"Harus berapa kali kukatakan jika cintaku hanya untukmu dan anak-anak kita nanti Sofia." jelas Fernando tepat diatas bibirnya yang sedikit terbuka.
"Bagaimana jika dia kembali?" Nando menggelengkan kepalanya.
"Orang mati tak bisa kembali Sofia." tegasnya masih dengan sikap heran. Sofia terus memeluknya erat hingga Nando susah bernafas.
"Tapi barusan dia kembali mas." isaknya kemudian. Nando yang gemas segera menarik tubuh itu, mendudukannya dipangkuannya dan memegang kedua pipinya.
"Itu hanya mimpi Sofia. Jika dia kembalipun aku akan tetap memilihmu dan anak-anak. Kau tau bukan jika keluargaku amat menyayangimu? Jadi jangan berpikir yang tidak perlu." ucap Nando memberi pengertian. Sofia masih menundukkan kepalanya.
"Apa yang kau takutkan Sofia? Everythings is oke." hibur Nando sambil membelai pipinya penuh kasih. Dipeluknya sang istri. Bisa dia rasakan degup jantung Sofia yang tak beraturan saat dada polos mereka bersatu.
"Aku takut kau meninggalkan aku hubby." isaknya membuat hati Fernando teriris. Menjalani pernikahan bersama dokter cantik itu dari tahun ketahun tak membuatnya hafal perangai sang istri. Sofia bak lembaran buku yang terbuka di hadapannya. Dia harus membacanya agar tau makna dan keindahannya.
"Sssttt...jangan bicara yang tidak-tidak sayang. Jika ada yang akan memisahkan kita maka itu adalah Izrail yang diutus Allah untuk mencabut nyawa kita." Sebuah kecupan hangat menerpa kening Sofia. Entah berapa lama Nando menghibur wanitanya, berusaha membuat mood bumil itu membaik dan tak memikirkan mimpi buruknya tadi.
"Sudah hampir jam delapan. Kita harus segera pulang sebelum El membuat keributan." Nando menggendong istrinya ke kamar mandi bak bayi kanguru lalu meletakkannya diatas bathub dengan hati-hati. Tangannya dengan cekatan memandikan istrinya dengan air hangat, bergantian membersihkan diri lalu keluar bersamaan dari sana. Nando segera mengenakan pakaiannya, demikian pula Sofia.
"Tidak usah berdandan." kata Nando cepat. Sofia menatapnya tidak mengerti.
"Dandan? kau bahkan membuatku tak membawa apapun kemari hubby." bisiknya dengan wajah kesal. Nando hanya tersenyum simpul dibuatnya.
"Ayo check out." ajaknya seraya menggandeng tangan sang istri keluar kamar.
Seorang pengawal yang sejak tadi menunggu mereka segera berlari membukakan pintu mobil yang memang sudah disiapkan di depan lobi begitu majikannya terlihat keluar dari dalam hotel. Sofia masuk disusul Nando yang langsung menutup pintunya. Mobil melaju menuju kediaman pak Arif.
Pak Arif yang masih duduk di beranda segera berdiri begitu anak perempuan dan menantunya datang. Dahi pria paruh baya itu berkerut melihat mata putrinya yang sembab dan bibir yang terlihat pucat.
"Apa...apa kalian bertengkar?" tanya sang mertua hati-hati. Takut anak mantunya tersinggung karena dikira ikut campur masalah keluarga sang anak.
"Tidak yah." balas Sofia pendek. Tentu saja jawaban itu malah membuat pak Arif penasaran.
"Nak Nando...ayah hanya..."
"Semua ini hanya salah paham yah. Sofia bermimpi bertemu mendiang istri saya." pungkas Nando tak ingin ayah mertuanya salah paham.
"Apa itu benar Sofia?" Sofia kembali meneteskan air matanya, tapi langsung memeluk Nando erat hingga pak Arif melongo dibuatnya.
"Ayah..jangan biarkan mas Nando menduakanku."
"sssttt...sayang....jangan begini. Malu dilihat orang." bisik Nando bingung menghadapi sang istri yang berubah aneh.
"Kalau begitu berjanjilah." ujarnya memaksa. Nando seketika menaikkan tangan kanannya.
"Aku bersumpah tidak akan pernah meninggalkanmu Sofia." ujarnya mantap.