
Sofia menarik nafas lega saat sekantong darah yang didonorkan Fransisca memasuki tubuh lemah Elle. Sebagai seorang dokter dia cukup tau jika Elle berangsur membaik. Digengamnya tangan mungil si gadis kecil yang mulai bisa bernafas sendiri tanpa alat bantu pernafasannya.
Sebuah tangan besar menyentuh bahunya. Tanpa menolehpun dia tau jika itu milik suaminya. Berlahan dielusnya tangan kekar itu dan mengecupnya sekilas.
"Sebaiknya kita pulang. Kau harus istirahat sayang." Fernando mengelus kepala istrinya lembut. Sofia mendongakkan kepalanya, tersenyum.
"Kita tunggu Elle sadar dulu mas." Keduanya serempak menoleh ke pintu yang terbuka lebar. Disana, Alex mendorong kursi roda Fransisca yang memasang wajah datar memasuki kamar perawatan Elle.
"Mama harusnya janga kemana-mana dulu." ujar Sofia. Memang seseorang yang baru mendonorkan darahnya harus lebih banyak istirahat dan makan makanan bergizi agar tenaganya cepat pulih. Fransisca menatapnya tajam.
"Aku sudah menolong anak haram itu. Sekarang kalian harus membayarnya." katanya ketus.
"Membayar?" tanya Nando dan Sofia hampir bersamaan. Pasangan suami istri itu saling pandang, tak mengerti arah pembicaraan sang nyonya besar. Jangankan Sofia, Fernando saja sampai dibuat bertanya-tanya dengan pemikiran sang mama yang berubah nyleneh.
"Ya. Tak ada satu halpun yang gratis di dunia ini Fernando satria hutama.". Tegas Fransisca lagi.
"Membayar dengan apa maksudmu mom?" Fransisca tertawa sumbang mendengar pertanyaan sang putra.
"Buang anak itu dari kehidupan kalian."
"Mama....Elle itu anak manusia, bukan barang yang bisa dibuang seperti sampah. Dia hanya tau jika kamilah orang tuanya. Bagaimana bisa mama menyuruh kami membuangnya?" Sofia yang sejak tadi terdiam jadi naik pintam. Wajah sang dokter memerah menahan amarah. Siapa yang ingin terlahir menjadi Elle? anak itu juga tak ingin dilahirkan dari rahim Emma sebagai hasil hubungan incest. Pada dasarnya siapapun tak bisa memilih asal usul orang tuanya bukan? lalu apa salah Elle?
"Kau terlalu banyak bicara Sofia! apa kau tak tau jika menantu dalam keluarga kami dilarang banyak bicara dalam urusan keluarga suaminya?" ketus Fransisca dengan tatapan nyalang. Andai dia dalam kondisi fit, pasti aura berkuasanya akan muncul sempurna.
"Mom..jangan menghardik Sofia." tegas Nando tak suka. Saat Sofia disalahkan, dia juga merasa tersakiti karenanya.
"Setidaknya beri kami alasan logis atas permintaan mama membuang Elle. Dia yatim piatu ma, juga sama sekali tak ada keluarganya yang masih hidup dan mau mengurusnya." pinta Sofia lembut. Dokter cantik itu masih berusaha mengotrol emosinya dan bersikap tenang.
"Dia terlahir dari hubungan menyimpang Sofia. Kau tau faktor genetis bukan? lagipula dia tak ada hubungan apa-apa dengan Fernando dan dirimu. Wanita tua ini hanya ingin rumah tangga kalian langgeng selamanya. Ingat Sofia, beberapa tahun kedepan anak ini akan beranjak dewasa. Siapa yang bisa menjamin dia tak akan menggoda suamimu atau anak-anakmu dimasa depan? Jangan biarkan bibit pelakor hidup diantara kalian."
"Jangan berasumsi tak logis ma, semua belum tentu terjadi. Kami akan mendidik Elle dengan baik." desah Sofia kehabisan kata. Sesungguhnya yang dikatakan sang mertua ada benarnya. Tapi sungguh, dia sudah terlanjur sayang pada Elle.
"Lalu apa maumu mom?" Fernando menyerah. Terlalu lama berdebat dengan sang mama malah akan menambah beban istrinya saja. Lebih baik mengalah jika itu bisa membuat segalanya baik-baik saja.
"Biarkan Elle ikut aku ke London."
"London?"
"Ya. Anak ini akan disana bersama aku dan dadymu."
"Untuk menyiksanya?" sarkas Nando tepat sasaran. Fransisca tersenyum smirk.
"Apa momymu ini terlihat seperti Fir'aun yang kejam?" Nando dan Sofia menggeleng. Fransisca memang tegas dan tak ingin dibantah. Tapi sisi kemanusiaan wanita itu sama sekali tak bisa diragukan. Dia donatur tetap beberapa panti asuhan di dalam ataupun luar negeri yang punya empati berlebih pada anak-anak kurang beruntung di dunia.
"Jika begitu serahkan dia pada mom."
"Apa mama berjanji akan menjaganya?" tanya sofia ragu. Sungguh dia tak ikhlas jika Elle jauh darinya.
"Semua yang menjadi milikku akan tetap terjaga Sofia. Jangan meremehkan mertuamu ini." Sofia menundukkan kepalanya dalam. Salah jika dia melawan kemauan sang nyonya besar.
"Maafkan saya ma, tapi...."
"Kau seorang nyonya muda Hutama Sofia. Mulai sekarang kau harus bertindak realistis. Putraku hanya akan punya satu istri saja selama hidupnya, jadi belajarlah menjadi seorang nyonya besar mulai dari sekarang."
"Mom...jangan samakan istriku denganmu. Apa mom lupa jika dia tidak berasal dari golongan kita?" lirih Nando memohon.
"Jangan sebut soal strata sosial tuan muda. Siapapun bisa masuk golongan kita jika dia mau dan diberi kesempatan. Tanggung jawab menjadi pewaris Hutama sangat berat. Sofia harus memulai segalanya sejak sekarang."
"Ma....saya bukan Kate midelton bukan? saya hanya ingin menjadi diri sendiri. Apa seorang seperti saya terlalu lemah untuk mas Nando?" Sekarang Fransiscalah yang terdiam. Tak ada yang salah dari menantunya. Semua pekerja tetap patuh dan menaruh rasa hormat walau dia tak pernah bersikap dingin dan jaga image dihadapan semua orang. Sofia tetap sederhana dan murah senyum.
"Ma, saya berjanji akan memperbaiki diri agar pantas mendampingi mas Nando. Dan soal Elle, saya tidak akan turut campur lagi karena semua adalah tanggung jawab mas Nando sepenuhnya."