Dear Husband

Dear Husband
Tepat



"Sofia bilang mom mengatakan sesuatu pada Elle tentang hubungan dirinya dengan kita?" lanjut Nando usai tubuhnya mendarat di sofa ruang kerja sang papa. Kedua orang tuanya duduk di sofa panjang di depannya, menatapnya intens.


"Lalu kenapa? aku mengatakan hal yang benar." tukas Fransisca dingin. Aura pemimpinnya terlihat jelas. Dia tak suka dibantah. Dibanding Teguh Hutama, mungkin dia lebih keras. Papanya itu cenderung diam dan tak banyak bicara, berbanding terbalik dengan mamanya yang terkadang cerewet khas emak-emak semua ras dan negara.


"Apa Sofia bilang jika dia tidak suka mom berkata demikian?" lanjutnya lagi dengan tatapan menelisik. Tidak biasanya menantunya itu mengadu. Yang dia tau Sofia tipe wanita mandiri yang bijak dan bicara seperlunya meski tak bisa dikatakan pendiam.


"Bukan. Dia hanya bilang jika amat menyayangi Elle dan aku tak bisa menyalahkannya mom. Wanita memang cenderung menggunakan perasaannya jika dihadapkan pada suatu masalah."


"Tapi aku tidak." sanggah momy Sisca cepat.


"Tidak bagaimana? mom bahkan mengikutkan Elle untuk dosa yang diperbuat Emma tanpa momy sadar jika anak itu tak bersalah. Dia tidak pernah minta dilahirkan dari rahim Emma."


"Apa artinya kau masih tetap tidak bisa menghapus bayangan wanita rendah itu? apa kau masih akan mengakui bocah itu sebagai anakmu?" balas Fransisca kesal. Mengingat bayangan Emma saja sudah membuat kepalanya berdenyut sakit. Apalagi jika ingat akan penghianatan dan anak yang dia lahirkan, dia bisa sesak nafas karenanya.


"Itu yang ingin aku bicarakan pada kalian."


"hmmmm." gumam pasangan itu bersamaan. Teguh hingga harus mengelus pundak istrinya agar dia tenang. Fransisca yang meliriknya sekilas tampak menghela nafas. Dia cukup tau jika suaminya memintanya sedikit bersabar mendengar penjelasan putra mereka.


"Meski Elle bukan putri kandungku tapi dia lahir saat aku masih brstatus suami Emma mom. Secara hukum dia juga anakku."


"Tapi dia bukan anakmu Nando!!" kali ini teriakan Fransisca membahana hingga memekakkan telinga. Untung saja ruangan itu kedap suara. Jika tidak mungkin seisi rumah akan lari ketakutan mendengar teriakan sang nyonya besar yang dipenuhi amarah.


"Mom, tenanglah!" Teguh meremas jemari istrinya agar kembali tenang. Seketika Fransisca diam tapi dengan mimik tak terima.


"Lalu apa maumu?" tanya Teguh datar. Rupanya raut inilah yang diturunkannya pada diri Fernando, datar, tegas dan dingin.


"Itu yang akan kutanyakan padamu dad. Aku tidak mungkin membiarkan Elle mendapatkan hak penuh seperti Rafa. Aku akan tetap memberinya fasilitas penuh dan bertanggung jawab pada dirinya hingga dia dewasa dan bisa hidup mandiri tapi aku tetap tak bisa menjadikannya putriku. Ada perasaan istriku yang harus kujaga dad."


"Kalau begitu batalkan semua dokumen yang berkaitan tentang Elle. Sertakan bukti tes DNA yang menyatakan bahwa dia bukan anakmu dan biarkan pengadilan yang memutuskan perkaramu. Elle juga tak boleh menyandang nama Hutama dibelakang namamya karena dia bukan bagian keluarga kita." tegas Teguh hutama nyaris tanpa ekspresi. Sama seperti istrinya, pria itu juga menentang pernikahan Nando dan Emma hingga sama sekali tak ingin melihat putranya menikah atau menghubunginya lagi hingga Emma meninggal. Bisa dikatakan hubungan mereka baru membaik saat Nando menikahi Sofia.


"Apa kau tak mendengar perkataan dadymu? Segera lakukan jika kau tak ingin mom mengirim anak itu ke panti asuhan!" teriak Fransisca lagi.


"Mom..aku akan melakukannya. Tapi jangan pernah mengatakan soal panti asuhan. Sofia tak akan setuju. Istriku sangat menyayangi Elle. Jangan sakiti perasaan istriku mom, kumohon. Aku tidak bisa melihat dia marah atau bersedih. Aku sangat mencintainya."


Tubuh Fransisca yang menegang karena marah berlahan mengendur, kepalan tangannya juga memudar. Ditatapnya sang putra yang berkata amat lirih padanya. Lagi, dia meneliti wajah itu, takut jika yang di depannya bukan putranya. Terlalu banyak perubahan pada dirinya. Kemana Nando yang biasanya keras kepala, pemberontak dan ambisius? Nando yang memilih mempertahankan egonya dan keluar dari rumah besar agar bisa menikahi Emma yang sangat dicintainya kala itu. Hari ini putranya memohon padanya dengan suara yang amat lirih, satu hal yang tak pernah dilakukannya dari kecil. Dan apa yang dikatakannya tadi? demi Sofia. Ahhhh...


Beginikah yang dinamakan orang jaman sekarang budak cinta? Fransisca masih dilanda kebingungan kala Teguh Hutama menepuk bahu putranya.


"Kau anak laki-laki kami satu-satunya. Jangan bikin orang tuamu ini tak bangga padamu." tegas Teguh.


" Baik dad." waahhh....kejutan kedua. Fernando tak hanya berubah lembut, tapi juga penurut. Tipe anak yang manis. Kenapa tidak dari dulu begini? jadi Fransisca maupun suaminya tak perlu menghabiskan energi untuk mengatur putra arogan mereka. Memang benar kata pepatah kita adalah cerminan diri pasangan kita.


"Apa dokter itu yang sudah merubahmu?" gumam Sisca kemudian. Nando melirik wajah keras ibunya. Meski ibu dan anak, mereka sangat menjaga batasan. Nando sangat tau jika Sisca adalah ibu yang sangat mencintai anak-anaknya meski tak pernah dia tunjukkan di depan mereka.


"Apa momy bilang begitu?"


"Mom, jangan sakiti Sofia. Dia hidupku mom!" Kali ini bahkan wajah Nando sudah mulai mendung. Dia cukup tau bagaimana ibunya akan bersikap pada orang yang tidak disukainya. Membayangkannya saja sudah membuat Nando tak tega. Sofia sangat lembut dan penyayang dengan hati yang amat rapuh, sedang momynya wanita amat tegas, idealis dan kadang bertindak semaunya tanpa memikirkan perasaan orang lain. Nando takkan sanggup jika wanita yang melahirkannya itu akan kembali memaksanya memilih antara dirinya dan Sofia.


"hmmmm benarkah?"


"Mom!!!" pekik Nando makin memasang wajah memelasnya. Hampir saja Fransisca tertawa melihat ekspresi putranya saat itu. Apalagi suaminya sudah berulang kali mengelus bibirnya, menahan senyum juga. Nando benar-benar mirip anak kecil yang merajuk pada orang tuanya saat minta dibelikan mainan baru. Ahhh...sungguh keduanya merindukan moment itu.


"Panggil istrimu." pinta Sisca.


"Jangan libatkan Sofia mom!"


"Dia harus terlibat. Bella panggil kakak iparmu keruang kerja papa. Sekarang!" Ujar Sisca kala panggilannya tersambung ke ponsel Bella. Terlalu lama jika harus menunggu Nando memanggilnya. Bukannya dipanggil, putranya itu malah akan banyak drama.


"Mom, ini tidak benar!" sergah Nando yang sudah berdiri ditempatnya hendak keluar ruangan.


"Fernando, duduk kembali ditempatmu!!" Nando menatap dadynya lelah. Lagi-lagi pasangan suami istri itu dibuat takjub kala melihat Nando menurut. Biasanya dia memilih tak mengindahkan perintah orang tuanya.


....tok ..tok.....


Sofia muncul dari balik pintu.


"Mom memanggilku?"


"ya, duduklah." Sofia mengambil duduk di dekat sofa suaminya. Pandangannya nanar melihat suaminya yang terlihat layu. Pasti ada sesuatu yang terjadi.


"Kau sudah banyak mempengaruhi jalan pikiran putra kami hingga kami susah mengenalinya lagi. Sihir apa yang kau berikan padanya?" ungkap Sisca datar. Sikap khas nyonya keluarga kaya yang angkuh dan sombong muncul dalam dirinya. Sofia mencoba menelaah perkataan mertuanya. Dia menduga semua ada hubungannya dengan Elle tadi.


"Mom!!" pekik Nando kesal. Matanya memerah menahan marah mendengar perkataan momynya yang keterlaluan. Sofia meraih jemarinya dan tersenyum menyuruhnya tenang.


"Jangan bicara kasar atau membentak orang tua mas."


"Tapi sayang...."


"Apapun alasannya itu sama sekali tidak dibenarkan." Tuturnya halus. Fransisca dan Teguh hutama saling memeluk.


"kenapa kalian terlihat amat bahagia?" tanya Nando menahan marah.


"Karena kau sudah memilih istri yang tepat untuk jadi menantu kami."