
Sofia berjalan menuruni tangga dengan setelan semi formalnya. Pagi itu ada jadwal kuliah yang mengharuskannya datang tepat waktu. Dosen sekelas Shandy yang berlatar belakang militer pasti tidak menyukai keterlambatan. Aahhh...Shandy, memikirkan pria multi talenta itu saja sudah bisa membuatnya tersenyum kecil entah untuk alasan apa.
Suara tawa terdengar dari meja makan. Nando dan Clara tengah berbincang hangat dan saling melempar candaan ringan bertopik masa kuliah mereka dulu. Sofia mengambil duduk diujung dan langsung menyantap makanannya saat pantatnya sudah mendarat sempurna disana. Tak ada satu katapun keluar dari bibirnya. Dia hanya fokus pada makanannya.
"Hay Sofia..." sapa Clara genit, terasa dibuat-buatdi depan Nando. Tapi Sofia acuh tak acuh saja. Dia hanya berdehem dan melempar senyum kecil lalu tetap melanjutkan makannya. Clara kembali bercakap-cakap dengan Nando menghilangkan kecanggungan diantara mereka.
"Ternyata selera makan istrimu aneh ya..dia makan makanan berat dipagi hari. Porsi kuli lagi. Aku ragu kalau dia seorang fokter Fer. Jangan-jangan istrimu ini cleaning servis dirumah sakit." Nando hanya tersenyum mendengar ocehan Clara. Matanya melirik Sofia yang tetap diam, sama sekali tidak terpancing dengan ucapan Clara. Yang ada wanita itu malah menikmati sesi makan yang nyaman dengan menenggak habis segelas besar susu putihnya.
"Ohh ya Fer, hari ini aku akan ikut ke kantormu sekalian melihat-lihat tempat kerjaku." Kata Clara dengan nada manja. Mereka kembali tertawa riang dengan topik pembicaraan ringan. Lagi, ekor mata Nando mengawasi Sofia yang sudah selesai makan. Wanita itu bangkit dari kursinya, membawa piring dan gelas kotor bekas makannya lalu mencucinya. Tak dia pedulikan protes bi Mimi yang takut kena marah Nando.
"hmmm..selain bakat jadi OB ternyata istrimu ini juga pantas jadi pembantu ya Fer. Seleramu benar-benar rendah kali ini." Kali ini tawa keras menggema diruang makan itu. Para pembantu yang mendengarnya bahkan sudah memasang wajah tak suka mendengar sang nyonya dihina sedang sang tuan masih dalam mode diamnya pura-pura tak mendengar apa-apa.
Sofia menarik nafas, mengulurkan tangannya dihadapan Fernando.
"Ha...ha...ha...sudah setua ini masih minta uang saku seperti anak kecil. Orang golongan bawah memang taunya cuma uang. Hey Nona, kau bahkan tidak cukup kompeten untuk menjadi nyonya dirumah ini. Keluarga Hutama pasti akan sangat malu punya menantu sepertimu." Ejek Clara masih dengan tawa panjangnya. Sofia masih mematung disana, dia baru membungkukkan wajahnya saat Nando mengulurkan tangan kanannya dan segera dicium lembut olehnya. Setelahnya, wanita itu memutari meja dan mendekati Clara yang memang mengambil tempat disamping suaminya. Kedua tangannya ditumpukan ke meja dengan tubuh dicondongkan kedepan menghadap wanita itu tanpa rasa sungkan.
"Saya memang orang dari golongan bawah nona ehh...mungkin nyonya karena saya sungguh tidak yakin jika wanita yang sudah berani menginap dirumah pria beristri adalah seorang virgin yang layak dipanggil nyonya. Dan soal saya dokter atau bukan, saya rasa anda tidak cukup kompeten untuk menilai karena latar belakang anda saja mahasiswa DO yang menyedihkan. Mau tidak mau, suka tidak suka...saya adalah nyonya muda Hutama sekarang. Tempat yang anda duduki adalah tempat saya sebagai nyonya rumah. Kali ini saya maafkan, tapi jika saat acara makan nanti anda masih berani duduk disana, maka saya pastikan pihak imigrasi akan menangkap anda karena visa anda sudah melewati batas. Harap anda cek dokumen anda jika masih ingin selamat nyonya." Dingin, angkuh dan tegas. Bahkan Sofia dengan berani menatap kedua mata keabuan Clara yang terperangah ditempatnya. Tak mengira jika wanita yang tingginya hanya dibawah telinganya dan cenderung diam itu berani padanya. Tangan wanita itu mengepal. Dia berdiri menjulang tiba-tiba.
"Kau mengancamku?" cetusnya tak kalah tajam. Sofia tersenyum miring. Dia bergerak selangkah lebih dekat pada Clara dan meraih krah bajunya.
"Saya terlalu terpelajar hanya untuk mengancam orang seperti anda nyonya. Coba saja...dan jangan panggil namaku Sofia Hutama jika aku tidak bisa melemparmu keluar dari rumah ini....oohhh..mungkin dari negara ini." Masih saling berhadapan dengan aroma permusuhan yang kental antara dua wanita berbeda ras. Bedanya Sofia dengan kadar percaya diri dan ketengangan yang mumpuni, sedang Clara dengan emosi yang nyaris meledak. Tangannya terangkat cepat menampar pipi kanan Sofia, namun ditangkap dengan segera olehnya.
"Apa itu benar Fer?" Nando menatap tajam keduanya lalu mengangguk membenarkan.
"Anda sudah pahamkan nyonya? kalau begitu saya permisi. Masih banyak yang perlu saya kerjakan selain menggoda suami orang. Ooeehhh....satu lagi, jangan coba-coba bekerja diperusahaan suami saya dan menggodanya karena keberadan anda tidak dibutuhkan disana."
"Dengan alasan apa kau melarangku?" tanya Clara masih dengan emosi membara. Dia bahkan berani menggebrak meja makan karena terlalu marah.
"Hutama grup tidak membutuhkan lulusan SMA karena kami perusahaan bonafit. Dan lagi...kalau ingin menggoda suami orang jangan dikantornya, tapi diranjangnya. Apa kau paham nyonya?" Sofia akan beranjak saat tangan Clara bergerak cepat menarik jilbab segi empat yang dikenakannya hingga tercampak kelantai. Sofia mengeram marah. Sebuah pukulan keras dia arahkan ke pipi Clara hingga terpelanting keras kelantai.
"Beraninya kau menarik hijabku. Itu hanya sedikit pelajaran bagimu untuk berbuat sopan dinegara orang." Suara Sofia keras hingga membuat semua orang disana terkesiap. Tidak pernah Sofia terlihat semurka sekarang. Cepat dia meraih kain hijabnya dan menuju kamarnya dengan langkah panjang. Nando berdiri mengikutinya dari belakang. Lagi- lagi tak peduli pada keadaan Clara yang masih meraung disana. Wanita itu tak hanya merasakan panas dipipinya tapi juga dihatinya karena setelah hijab Sofia tanggal tadi dia melihat kissmark yang cukup banyak dileher rivalnya itu. Sedang Nando, fokusnya hanya satu...Sofia. Nando juga menahan daun pintu yang akan ditutup oleh Sofia dan ikut masuk ke dalam.
pa kau cemburu Sofia?" tanya Nando dengan mata tajam. Dalam sekali sentak tubuh Sofia sudah berada dalam pelukannya.
"Lepaskan!" teriak Sofia nyaring. Untung saja kamar itu kedap suara, jika tidak maka dapat dipastikan Claralah orang yang pertama bersorak gembira mendengar pertengkaran mereka.
"Tidak akan!" Nando semakin marah atas penolakan Sofia.
"Apa maumu sebenarnya tuan Fernando?'' kata Sofia kesal karena merasa dipermainkan oleh seorang Fernando.
" Aku mau cintamu, kesetiaanmu dan juga....tubuhmu nyonya Fernando." desisnya pelan.