
Adzan zubuh berkumandang saat Nando terjaga, mandi dan menunaikan kewajibannya. Berdzikir beberapa saat sebelum menyelesaikan doa paginya. Ada yang membuatnya tenang dari segala kegundahan. Saat menghadap pada Rabbnyalah dia bisa mengadu dan tersedu.
Dilewatinya tumpukan berkas yang belum dia sentuh karena kegalauan semalam. Langkah panjang membawanya membuka korden jendela, membukanya dan membaui aroma tanah basah yang menyegarkan hati dan perasaannya. Sesaat dia terpana. Disebuah bangku menghadap kolam renang, beberapa meter dari tempatnya berdiri, sesosok wanita terduduk dengan pakaian basah sambil menutup matanya.
"Astaga Sofia!! apa yang dia lakukan sepagi ini disana? pagi?bahkan baju yang dia kenakan masih baju tidur semalam. Apa mungkin dia....ahhhh...****!!" gumam Nando sambil berlari kencang menjangkau pintu dan menuju taman samping yang berseberangan dengan jendela ruang kerjanya.
"Sofia, apa yang kau lakukan!" sentak Nando saat tau wajah cantik itu terlihat pucat dengan bibir membiru dan gemetar kedinginan.
"Pengawal !!!!!!" teriaknya lagi hingga beberapa orang berpostur tinggi besar berlarian kearahnya dan mengangguk hormat.
"Kami tuan."
"kenapa kalian biarkan istriku kehujanan semalam? apa yang kalian lakukan!" bentak Nando garang. Wajahnya hingga memerah menahan amarah.
"Kemarin saya sudah mengingatkan nyonya agar masuk rumah tuan, tapi nyonya bilang saya disuruh pergi dan jangan mengganggu nyonya." jawab pengawal yang kemarin mendatangi Sofia. Pria itu jelas merasa ketakutan, juga kedua rekannya. Alamat tidak baik jika sang tuan marah.
"diam!!" teriak Nando keras hingga Sofia terjaga dari entah tidur atau pingsannya. Matanya yang sayu terbuka berlahan. Dia masih sempat melihat kemarahan Nando pada para pengawalnya.
"Aku yang menyuruh mereka pergi mas. Jangan marahi mereka. Kalian...pergilah. Aku baik-baik saja." kata Sofia dengan suara lemah. Sang bodyguard masih saling pandang, namun bisa sedikit merasa lega karena nyonya mereka mengatakan hal yang sebenarnya juga sedikit banyak menolong mereka dari amukan Fernando.
"kalian tidak dengar perintah istriku? pergi! lain kali dengarkan dia karena dia punya hak penuh memerintah kalian semua selain diriku." ada perasaan hangat yang menelusup direlung hati Sofia saat mendengar Nando berkata demikian. Namun semuanya berlahan pupus saat teringat kejadian semalam. Hatinya kembali seperti ditusuk sembilu.
"Baik, permisi tuan." pamit mereka lalu segera berbalik pergi sedikit tergesa, takut sang tuan berubah pikiran dan menghukum mereka walau itu bukan murni kesalahan mereka.
"Sofia kau....." ucapan yang tergantung karena Sofia sudah tidak ada disana saat Nando menoleh kembali kebangku panjang tadi. pria tampan itu masih sempat menatap siluet wanitanya yang masuk kepintu samping dengan langkah gontai. Dia berlari memburunya.
"Sofia...berhenti!" teriaknya. Siluet itu berhenti beberapa langkah dari tangga. Saat Nando akan menggapai tangannya, tubuh itu luruh ke lantai. Pingsan.
"Jangan sentuh istriku!" lagi, teriakan itu bergema saat dua pengawal samping bergerak akan membantunya mengangkat tubuh lemah itu. Spontan dua orang tadi mundur teratur dan kembali ketempat jaganya. Nando membopong tubuh dingin dan basah itu ke ruang kerjanya yang hanya hanya beberapa meter dari sana. Tak mungkin dia membawa Sofia kekamar mereka karena air yang masih banyak menetes dari pakaiannya.
"Apa yang kau lakukan hingga seperti ini?" dengus Nando kesal. Bergegas dia melepaskan seluruh pakaian basah Sofia dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal. Diambilnya minyak kayu putih dikotak obat dan mengoleskannya diarea perut, kaki dan hidungnya. Tangannya juga masih mengelapkan handuk dirambut Sofia yang sengaja dia bentangkan sebagai alas diatas bantal.
"m...maas?" katanya pelan sambil menarik tangannya yang masih dalam genggaman Nando lalu berusaha bangun.
"Tetaplah disini Sofia. Tubuhmu masih lemah."
"Ini ranjangmu bukan? aku tidak boleh ada disini." bisiknyan pelan sambil terus beringsut dari sana. Kejadian semalam saat dia dijatuhkan dari ranjang itu juga masih membekas jelas diingatannya.
"Aku bisa menukarnya dengan yang baru." balas sang pria enteng namun membuat darah sofia tersirap.
"Apa aku sebegitu menjijikkan bagimu hingga bekaskupun akan kau buang?" air mata kembali jatuh membasahi pipi mulus sang dokter. Sungguh dia merasa sangat buruk saat ini. Bahkan pengidap virus dan penyakit mematikan saja masih diperlakukan lebih baik darinya. Tidak ada insiden buang tempat tidur bagi mereka. Tiba-tiba wanita muda itu nelangsa.
"Apa yang kau katakan Sofia?"
"Sekarang aku tau dimana tempatku mas." Sergah Sofia disela isak tangisnya. Secepat yang dia bisa dokter cantik itu beringsut turun dari sana. Tak mempedulikan tangan Nando yang masih menghalanginya. hingga....
"Aaaahhhhh...." Pekik Sofia saat menyadari tubuhnya telanjang bulat tanpa sehelai benangpun. Cepat dia kembali kedalam selimut dan berlindung disana. Nando sampai terpingkal melihat kelakuan istri anehnya itu.
" Kau...kenapa aku..."
"Jangan berpikir aneh-aneh Sofia. Aku tak mungkin melakukan apapun padamu."
"Karena aku bukan tipemu dan kau tak tertarik pada tubuhku. Aku bahkan sudah hafal diluar kepala." ungkap Sofia getir. Berkali-kali dia sudah mendengarnya dari bibir Nando dari awal mereka menikah dulu. Dia bahkan sudah kebal dengan penghinaan bernada halus seperti itu.
"Aku mungkin tak menarik bagimu mas, aku tak secantik para model yang pernah kau kencani atau kau nikahi tapi aku...."
"Karena aku tidak akan melakukannya tanpa persetujuanmu." potong Nando cepat menghentikan sesi curhat sakit hati wanitanya dengan membungkam bibir seksi itu dengan ciuman lembut namun menuntut. Tangannya juga sudah bergerak nakal didada montok sang istri yang masih terbuai dengan permainan bibirnya. Tanpa malu dia juga menuntun tangan dingin Sofia pada inti tubuhnya yang sudah berdiri tegak balik boxser hitamnya. Sofia yang masih terbuai mengelusnya berlahan hingga membuat Nando melenguh dan mengalihkan ciumannya keleher jenjang wanitanya, memyesapnya kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan disana lalu kembali mereguk bibir manis itu hingga nafas keduanya tersengal. Nando menempelkan dahinya pada dahi Sofia, sama-sama mengatur nafas mereka yang memburu.
"Kau seorang dokter Sofia..tak sulit bagimu untuk tau jika pria normal sepertiku sangat menginginkanmu wanitaku." bisiknya pelan sambil menekan tangan Sofia yang masih mengelus batangnya yang berdiri tegak dengan urat-urat yang menonjol sempurna. Sofia buru-buru menarik tangannya dengan wajah merah merona.
"Tapi aku pria sejati Sofia. Aku tak akan mengambilnya tanpa ijinmu."