
Elle memasuki rumah dengan mata berbinar. Rumah ini, masih sama seperti saat terakhir dia lihat. Bahkan semuanya masih berada ditempatnya. Nona kecil Hutama itu menyapa semua orang yang dia temui. Dia juga banyak mendapat ucapan selamat dari seluruh pekerja dirumah besar itu.
"Lho...mama mau bawa aku kemana?" seketika tangan kecil itu terlepas dari gengaman Sofia.
"Tentu saja ke kamar papa sayang. Bukankah Elle biasa tidur disana?"
"Tapi aku mau ke kamarku ma. Sekarang aku sudah bisa melihat lagi. Biar mbak Maria yang menemaniku." tolak Elle dengan wajah serius. Sepertinya bocah itu juga kangen kamarnya. Kamar yang memang didesain khusus untuk dirinya serta dipenuhi pernak-pernik khusus sang tokoh kartun Anna dan Elsa.
"Sayang, bukanya tadi om Edward sudah bilang kalau kamu masih harus belajar beradaptasi dengan penglihatanmu? selama masa pemulihan, akan lebih baik jika kau tidur bersama papa mama." Sofia mencoba menjabarkan alasannya pada Elle agar gadis kecilnya mau tidur bersamanya. Sungguh dia merasa canggung jika hanya tidur berdua dalam satu kamar bersama Nando. Sebisa mungkin, dia harus membujuk Elle untuk tidur di kamar utama.
Nando hanya diam melihat anak istrinya yang saling beradu argumen sesuai kemauan masing-masing. Pria itu malah melengos dan langsung masuk ke kamar utama, membukakan pintu untuk pak Roji yang mengatarkan koper Sofia. Setelahnya, dia memilih duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya.
'kriiieeett.....'
Pintu kamar terbuka pelan, menampilkan sosok tinggi semampai Sofia dengan tas kecil ditangannya. Tidak ada Elle disana.
.
"Apa Elle dikamarnya?" tanya Nando penuh rasa ingin tau.
"Dia mau mandi dibantu Maria mas. Katanya ingin rebahan saja, nanti akan tidur dengan kita. Kau mau mandi?"
"Nanti saja."
"Baik, aku saja yang mandi duluan."
"hmmmm" hanya deheman itu yang keluar dari bibir sang tuan muda. Selebihmya dia hanya diam sambil memejamkan matanya. Beberapa hari ini Nando memang kurang tidur dan terlihat sangat lelah karena harus menunggui Elle yang menguras pikiran dan tenaganya walau sebenarnya rasa panik dan khawatirlah yang mendominasi.
Sofia keluar dari kamar mandi setelah menghabisakan beberapa menit disana. Dia bergerak sangat pelan begitu tau Nando duduk dalam posisi tertidur. Berjingkat, di keluar dan menuruni tangga. Dapur adalah tujuan utamanya. Tangannya dengan cekatan mengerjakan sesuatu.
"nyonya."
"ehh bibik. Bikin kaget saja." Sofia sampai mengelus dadanya karena kaget mendengar suara bik Sum yang tiba-tiba ada dibelakangnya.
"Maafkan saya nyonya."
"Tidak masalah, saya hanya kaget saja."
"Nyonya sedang apa? kenapa tidak memanggil bibik? jika butuh sesuatu anda tinggal memanggil saya nyonya."
Saya hanya membuatkan sup untuk mas Nando dan Elle. Mereka melewatkan makan siang tadi. Mas Nando juga telihat sangat lelah bik. Saya takut dia sakit." jawab Sofia masih dengan aktivitasnya memotong sayuran lalu mencucinya. Memasak sup itu hanya oekerjaan mudah baginya. Sedang bik Sum? dia masih tetap bersikeras membantu mencuci bekas wadah yang dipakai sang nyonya walau sudah dilarang oleh Sofia. Namun bukannya marah, Sofia malah merasa senang karena punya teman bicara.
"Tuan sungguh beruntung punya istri seperti anda nyonya. Anda begitu menyayangi nona kecil dan perhatian padanya. Jauh berbeda dari nyonya Emma."
"Husstt...jangan membicarakan kejelekan orang yang sudah meninggal bik. Bagaimanapun kak Emma, dia adalah wanita yang sangat dicintai suami saya."
"Kamu salah bik. Saya dan mas Nando....ahh...sudahlah!" hampir saja Sofia kelepasan bicara dan menyebarkan aib pernikahannya pada orang lain. Dilihat dari sisi manapun yang dia lakukan tetaplah tidak benar. Kewajiban seorang istri adalah menjaga kehormatan seorang suami, termasuk menutupi segala kekurangannya.
"Saya ke atas dulu ya bik, terimakasih bantuannya. Ohh ya..tolong bilang pada mbak Maria agar membawakan sup untuk Elle."
"Baik nyonya."
Setelahnya Sofia beranjak naik ke atas sambil membawa nampan berisi sup dan jahe hangat untuk Nando.
Saat pintu terbuka, Nando masih tertidur dalam posisi duduknya. Andai bukan karena ingin memberikan jahe hangatnya, mungkin dia sama sekali tidak ingin membangunkan pria itu.
"Mas..bangun."
"hmmmm." Nando membuka matanya saat Sofia menguncang pelan pundaknya. Mata merah dan berairnya menunjukkan betapa lelapnya dia tertidur walau sekejap.
"Minum jahe hangatnya mas. Kau terlihat sangat lesu. ekstrak jahe bisa membuatmu lebih fit. Aku bikinkan sup ayam juga. Kau sudah melewatkan makan siangmu tadi." ucap Sofia pelan.
"Kau pikir kau ini siapa? membuatkanku sesuatu? aku tidak butuh itu Sofia! sekuat apapun kau berusaha kau tetap tidak bisa menggantikan Emma dalam hatiku!" ada yang terasa panas diwajahnya saat kata-kata itu terucap dari bibir Nando. Sofia menegakkan tubuhnya dan menarika nafas panjang.
"Tanpa kau beri taupun aku sudah tau dimana posisiku mas. Aku hanya berniat baik padamu. Tidak ada hal lain apalagi menjadi Emmamu itu.
Aku masuk dalam kehidupanmu juga atas permintaanmu. Sekarang aku juga menagih janjimu padaku. Bukankah Elle sudah bisa melihat lagi? ceraikan aku, maka aku akan secara suka rela keluar dari sini, dan tidak akan pernah menganggu kehidupanmu lagi." jawab Sofia dengan wajah datar dan tatapan dinginnya.
" Satu lagi...aku Sofia. Bukan Emma dan sungguh aku tidak mau menjadi orang lain untuk mendapatkan perhatianmu. Jangankan memiliki hatimu, aku bahkan sama sekali tidak tertarik untuk memiliki ragamu walau itu sangat mudah bagiku." ucap Sofia dengan tegas. Kesan percaya diri tergambar jelas di dirinya.
Dering ponsel terdengar memecah konsentrasi Sofia yang masih berdiri anggun dihadapan Fernando. Dokter cantik itu segera menuju meja rias dimana ponselnya berada.
"asalamualaikum....ya....harus sekarang? baik..saya kesana."
Tanpa menoleh lagi Sofia menuju lemari pakaian, mengambil setelan panjang lalu sedikit berlari ke kamar mandi. Sejurus kemudian, wanita itu keluar dengan wajah segar dan memoles wajahnya dengan lipstik tipis lalu mengambil tasnya.
"Mau kemana?"
"rumah sakit. Ada pasien korban kecelakaan beruntun. Dokter lukman ada di UGD sendirian."
"Apa tidak ada dokter lain? menurut jadwal besok kau baru masuk kerja." sahut Nando dingin. Sofia tak menyahut. Dia hanya meraih tangan kanan Nando dan mencium punggung tangannya. Bagaimanapun hubungannya dengan pria itu, Nando masih suaminya hingga saat ini. Dia tidak ingin dosa karena tidak menghormati dan tak meminta ijin suami saat keluar rumah.
"Kalau kita bisa berbuat baik sekarang kenapa menunggu besok? Bekerja untuk kemanusiaan itu tidak perlu menunggu. Aku pergi dulu. Assalamualaikum.."
"Walaikumsalam, biar sopir mengantarmu."
"Tidak perlu mas, aku bisa naik taksi." tolak Sofia halus. Dia sudah terbiasa mandiri. Dia takut terlalu manja dalam lingkungan elite lalu kaget karena harus kembali ke habitat asalnya.
"Diantar atau tidak sama sekali."