Dear Husband

Dear Husband
Extra part 2



"Sean...Amanda??" serentak tatapan aneh penuh tanda tanya mewarnai seluruh keluarga Hutama yang sedang bercengkrama di ruang keluarga sambil mengawasi para petugas kebersihan yang menata dan membersihkan ulang rumah besar itu kala sepasang pengantin baru itu mengampiri mereka dengan dua koper ditangan.


"Kalian...mau bulan madu sekarang? bukannya baru besok jadwal penerbangannya?" tanya Bella mewakili keluarga itu. Fransisca memang membelikan mereka tiket bulan madu selama seminggu ke Bali, tapi baru besok jadwal keberangkatannya.


"Kami...kami mau pulang ke Australia nyonya." ujar Sean sambil menundukkan kepalanya. Mereka sudah menikah. Sekarang Amanda adalah tanggung jawabnya. Mereka tidak mungkin pulang ke Jepang karena Roy larsons sudah menghancurkan semua milik Amanda tak bersisa. Sebenarnya Seanpun sama, tak punya apa-apa. Tapi dia masih memiliki rumah kecil disana. Walau tak besar dan bagus, namun cukup nyaman ditinggali. Amanda juga tak keberatan sama sekali.


"Pulang?" kali ini Fransisca berdiri. Aura nyonya besar begitu melekat di wajah tegasnya.


"I...iya nyonya. Kami tidak ingin merepotkan keluarga ini lagi." Amanda takut-takut ikut angkat bicara. Tatapan tajam Sisca membuatnya begitu grogi.


"Kalian akan pulang kesana, tapi tidak sekarang. Kembali ke kamarmu dan ikuti jadwal yang ditentukan keluarga kami." kata sang nyonya besar datar.


"Mom...duduklah. Kalian juga." perintah Teguh hutama tiba-tiba, membuat Fransisca mengikutinya tanpa bantahan. Suaminya itu mirip Nando. Tak ingin dibantah.


"Ada yang ingin Nando sampaikan." ujar pria paruh baya itu setelah pegantin baru itu duduk di ujung sofa.


"Bagini Sean..aku tau cepat atau lambat kau akan membawa Amanda ke Australia. Tapi kurasa itu ide buruk. Karena itu aku mulai berpikir sesuatu. Akan lebih baik jika kalian ke Jepang saja." Nando yang masih menimang putra tersayangnya mulai bicara.


"Tapi tuan muda...."


"Ada anak cabang perusahaan Hutama yang membutuhkanmu disana karena CEO nya baru meninggal karena serangan jantung. Sean..kau harus kesana. Pernikahan kalian ini tidak gratis. Maaf dari kami juga bukan hal murah. Kami perlu imbalan dari semua ini. Seminggu setelah dari Bali, kalian harus kembali ke Jepang. Mulai bekerja untuk kami. Ini perintah sean!" ujar sang pewaris Hutama itu amat tegas namun dengan wajah datar dan ritme suara yang sempurna.


Bintang Hutama yang terkenal saat dia benar-benar butuh pekerjaan untuk menghidupi keluarga barunya..apa ini mimpi?


"Saya serius Sean. Dan kami tidak menerima penolakan." Sean benar-benar terharu. Amandalah yang lebih dulu berdiri dan membungkuk hormat mengucapkan terimakasih disusul Sean. Adalah Sofia yang juga ikut berdiri dan memeluk Amanda, disusul Bella dibelakangnya.


"Sofia, Bella terimakasih..." bisik Amanda terisak. Dia mungkin anak yang tak pernah beruntung dari kecil. Tapi sekarang dia merasa beruntung hidup diantara keluarga yang baik dan ramah.


"Tuan muda..tuan Besar...nyonya..terimakasih." ucap keduanya berbarengan.


"Sayang, sepertinya kau harus ke kamar Putraku sangat mengantuk dan butuh tidur." Sela Nando saat melihat Rafa sudah menguap beberapa kali. Sofia segera mengambil alih putranya dari gedongan dady tampannya dan menimangnya. Sofia berpamitan lebih dulu sebelum kembali ke kamar.


"Lho mas...kok ikut masuk?" tanya Sofia lirih saat Nando sudah menutup pintu kamar mereka lirih, takut menganggu Rafa yang baru terlelap. Bibir mungilnya masih asyik menghisap asi momynya.


"Hmmm...aku capek." gumamnya sambil melepas jasnya bersamaan dengan Rafa yang melepas asinya. Nando bergerak mengendongnya menuju box bayi disamping tempat tidur mereka.


"Mas...mau apa?" tanya Sofia kaget saat tangan kekar Nando menahannya merapikan kancing kebayanya. Firasatnya langsung tidak enak.


"Aku juga butuh asupan asi sayang." desisnya panas dengan tatapan berkabut gairah. Belum sempat menjawab, tubuh Sofia sudah dibuat tegang kala Nando sudah rebahan dengan kepala berada di pangkuannya. Tangannya bergerak nakal membuka kancing kebaya Sofia yang hanya bisa pasrah. Lagi-lagi mata dokter cantik itu membola. Nando benar-benar menirukan baby Rafa.


"Apa ini berarti sekarang aku punya dua bayi?" kekeh Sofia sambil membelai lembut kepala suami tersayangnya.