Dear Husband

Dear Husband
Pagi



Sofia masih mendelik kesal kearah Fernando saat pria itu tetap menatap intens pada dirinya tanpa rasa bersalah.Terlambat bagi Sofia untuk menyadari jika Nando bukanlah perjaka pemalu yang masih akan meminta ijin pada pasangannya untuk melakukan sesuatu.Pria di depannya ini seorang duda,punya anak pula.Bagaimana bisa dia tak waspada?


"Mau apa lagi?" sentak Sofia saat tatapan mata itu tak beralih darinya.


"Aku menunggu jawabanmu dokter." sangat cool.Ahh ya Tuhan...terbuat dari apa manusia di depannya ini?yang bahkan tanpa rasa malu dan canggung masih menunggu jawabannya.


"Sekali aku bilang mau panggil mas...ya mas!kalau misalnya anda keberatan,itu bukan maslah besar bagi saya tuan...."


"diam!!baik.Kau panggil saja aku dengan apapun yang kau suka.Kampungan sekali!" gerutu Nando lalu berlalu.


"Satu lagi ....jangan memakai anda saya saat bicara seolah kita manusia tak saling kenal.Aku tidak suka!" Tambahnya lagi saat tiba diambang pintu.Sofia menghembuskan nafasnya kasar lalu menyusulnya masuk.Hari ini amat melelahkan baginya.Dia butuh segera beristirahat karena besok dia sudah harus ke rumah sakit untuk bertugas.


Berlahan dia menyusul Nando yang sudah lebih dulu berbaring disisi kanan Elle.Gadis kecil itu benar-benar tertidur pulas hingga tidak merasakan pergerakan dikanan kiri tubuhnya.Sofia merapikan selimutnya lalu berniat mengecup kening Elle sebagai ucapan selamat malam.Tapi tak dinyana Nandopun ingin melakukan hal yang sama hingga dahi mereka saling berbenturan.


"Aduh." rintih Sofia sambil memegangi keningnya yang terasa sakit karena benturan yang cukup keras tadi.Nando manetapnya dengan pandangan aneh.Tajam dan menusuk,sangat dalam.


"Kau tetap bukan seleraku Sofia." desisnya pelan,namun bisa menusuk ke dalam relung hati si wanita.


'Aku juga tidak punya ruang kosong dihatiku untuk pria sepertimu."


"aku?pria sepertiku apa yang kau maksud dokter?"


"Pria yang hanya memperalat wanita untuk kepentingannya sendiri,pria tak berperasaan yang bicara tanpa berpikir dua kali.Aku membencimu Fernando!" kilat kemarahan sangat ketara diwajah ayu Sofia.Kalau Nando bisa bicara menyakitkan,maka mulai sekarang dia juga harus belajar membalasnya.Untuk apa diam jika akan terus diinjak seolah dia sampah menjijikkan yang dipugut ditepi jalan.Sofia menjauhkan wajahnya dari Elle,memberi ruang bagi Nando untuk mencium putrinya,sedang dia??memilih bergelung manja dalam selimut tebal mereka.Mencoba melupakan perkataan tak beradap yang walau pelan bisa msmbuatnya sakit hati bukan kepalang.


Tak berapa lama,suara dengkuran halus dengan nafas teratur terdengar.Nando sudah menyusul Elle ke alam mimpi tanpa peduli jika ada wanita yang sakit hati disampingnya.Tinggal Sofia saja yang terjaga sendirian.Menatap wajah ayah dan anak itu bergantian dalam temaram cahaya malam.Untuk beberapa detik dia terpana pada pahatan sempurna sang penguasa alam semesta yang terlukis di wajah keduanya.Elle begitu mirip dengan Fernando,bak pinang dibelah duaaTak ada cela yang terdapat disana.Dia terus menatap keduanya hingga dewa tidur menjemput kesadarannya kedalam buaiannya yang membuat terlena.


Pagi datang dengan diiringi kicauan burung disaentaro jagat raya.Sinarnya yang cerah menggantikan pekatnya malam.Netra indahnya mengerjab manja lalu sejenak mengumpulkan kesadarannya.Tak ada ayah dan anak yang semalam menemaninya disana.Ranjang itu sunyi.Hampir putus asa mencari saat telinganya mendengar celotehan manja Elle dari balkon kamar.Segera dia bangkit dan menuju kesana.


"Mama kaukah itu?" Elle nampaknya mendengar langkah kakinya.Sejak kedua matanya buta,gadis kecil itu memang dikaruniai ketajaman pendengaran yang bisa luar biasa.Padahal Sofia sudah memelankan langkah kakinya saat mendekat tadi.Tapi semua itu tetap bisa dikenali Elle.


"Selamat pagi sayang...maaf mama terlambat bangun." sapa Sofia ramah.Elle tersenyum bahagia.


"Boleh Elle minta tolong dimandikan mama lagi seperti kemarin?" polosnya penuh harap.


"Tentu saja sayang,sebentar ya mama siapkan air mandimu." Sofia bergegas ke kamar mandi,mengisi bathup dengan air hangat dan meneteskan sabun aroma therapi disana.Aroma mawar kesukaanya.


"Hati-hati sayang." kata Nando dengan senyum mengejek.Sofia juga balas menyeringai.


"Nah Elle,ayo mandi." Elle turun ke bak mandi dan mulai dimandikan oleh Sofia.Fernando memilih keluar dari sana untuk memeriksa laptopnya.


"Papa mandilah,mama sudah menyiapkan air untukmu.Apa kalian akan mandi bersama seperti biasa?" kata Elle ceria saat keluar dari kamar mandi dituntun oleh Sofia.Nando tersedak,sekilas melirik Sofia yang memasang wajah datar sambil menyisir rambut panjang Elle yang berwarna kecoklatan.


Tanpa kata,Nando menuju kamar mandi dan memulai ritual mandinya.Dia baru keluar tiga puluh menit kemudian.Tak ada siapapun disana,pasti Sofia dan Elle sudah turun ke bawah.Matanya terpaku saat melihat kemeja,celana,jas dan dasinya sudah tertata rapi di atas tempat tidur.Tak ketinggalan ikat pinggang,sepatu dan kaos kakinya.Mungkinkah Sofia yang melakukannya?tidak mungkin ada orng lain yang berani masuk ke kamar pribadinya selain Elle dan Sofia.


Bukannya memakai pakaian yang disiapkan sang istri,Nando memilih setelan lain dari lemari besarnya.Bukan setelan resmi seperti yang dipilihkan Sofia,namun semi formal karena dia memilih celana jeans hitam,kaos putih dan blazer untuk oautfitnya kali ini.Tinggal mengambil jam tangan dan menyisir rambutnya maka selesailah rutinitas paginya.


Langah panjang Fernando sampai di meja makan dan duduk dikursi favoritnya diujung meja.Disebelah kanannya Elle sudah tampil cantik dengan poninya.Sofia masih sibuk menata meja makan dengan menu oseng kangkung dan ayam kecap saat dia datang.


"Kenapa ada dua gelas disini?" tunjuknya pada susu dan kopi pada gelas berbeda di depannya.Sofia menatapnya.Ada sedikit kecewa kala tau Nando tidak memakai pakaian yang dia pilihkan.


"Aku tidak tau apa minuman pagi harimu mas.Kubuatkan dua menu agar kau memilihnya." sahut Sofia pelan tanpa ekspresi.


"Martha...kemari!" panggilnya keras.Sesosok wanita paruh baya yang bertugas mengurus dapur datang tergesa.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?"


"Singkirkan minuman dan makanan tak berguna ini.Aku mau menu sarapanku seperti biasa.Tidak ada perubahan." katanya ketus.Martha meraih cangkir-cangkir itu dengan gerakan cepat.


"Tunggu!biarkan tetap disini."


"tapi nyonya..."


"Letakkan ditempatku bi Martha.Aku akan menghabiskannya,juga makanan.Nanti aku akan membereskannya sendiri." ucapnya halus hingga mau tidak mau Martha mengangguk dan menaruh kedua cangkir itu di seberang meja,tempat yang dipilih Sofia pagi itu.Wanita paruh baya itu langsung menuju dapur dan membuatkan jus apel untuk tuan mudanya.


"Papa,kenapa bentak mama?" tanya Elle setelah suasana hening.


"Tak apa sayang...mama yang salah.Sejak kecelakaan itu mama jadi pelupa." potong Sofia berargumentasi.Elle menganggukkan kepalanya.


"Silahkan tuan." Martha meletakkan jus dan roti selai coklat dihadapan Nando.Pria itu mulai mengunyah makanannya.Menu yang sama dengan Elle.