Dear Husband

Dear Husband
Dadynya Rafa



Tangan Nando terkepal kuat saat melihat interaksi Sofia dengan seorang pria di depannya. Pria itu bahkan berani mencium tangan istrinya, tertawa bersama, juga menggoda Rafa yang juga terlihat tertawa di dalam strollernya. Tentu saja hal itu membuatnya geram sekali. Pantas saja Sofia keluar rumah tanpa ijinnya, pasti istrinya itu sudah ada janji dengan pria muda berbadan kekar itu.


Tanpa banyak kata pria tampan itu mendekat lalu meraih pinggang istrinya agar dekat dengannya. Terlihat posesif dan kekanakan memang, namun begitulah sifat Fernando yang sebenarnya. Terlahir sebagai tuan muda dikeluarga kaya dan menjadi anak laki-laki satu-satunya menjadikannya manja dan arogan. Semua yang dimilikinya adalah mutlak. Tak ada yang boleh menganggu atau merebutnya jika tak ingin nasibnya berubah tragis penuh luka.


"Sayang ayo pulang!" katanya tegas. Sesaat Sofia menegang. Tatapannya malah tertuju pada pria muda yang sedang mengajak Rafa bercanda. Mendengar suara Nando, pria muda itu segera berdiri dari posisi jongkoknya. Sayangnya Nando sama sekali tak ingin melihat atau sekedar melirik keberadaannya. Moodnya sedang buruk pagi ini. Belum lagi tubuhnya yang merasa meriang karena efek masuk angin semalam. Jangan tanya betapa pusingnya kepalanya karena terus didiamkan oleh Sofia. Yang terpikir dikepalanya hanyalah bagaimana membuat Sofia luluh dan bersikap manis padanya. Fokusnya hanya Sofia.


"Kakak...." sapa sang pria muda padanya. Bukannya bersikap baik,Nando malah mendelik marah padanya. Egonya terganggu.


"Siapa yang kau panggil kakak?" sengitnya kesal. Tentu saja pria muda itu terkejut karena reaksi Nando yang galak. Sofia hingga harus meremas tangan suaminya. Bukannya berhenti, Nando malah makin kesal dan melotot padanya.


"Tentu saja kau kak." balasnya lagi. Tangan kekarnya meraih tangan halus Nando lalu menciumnya takzim.


"Apa yang kau lakukan?? hentikan!!" sentaknya karena sangat kaget.


"Mas!!" sarkas Sofia dengan mimik tidak suka.


"Sayang..kau membelanya?? apa hebatnya dia hem??"


"Kakak....."


"Diam!!" sergah Nando. Pemuda itu terus memanggilnya kakak, membuat telinga dan hatinya sakit saja. Sofia meradang saat sang pemuda menatapnya sedih.


"Hentikan mas!! dia ini Aldi. Bagus Renaldi, adikku. Kambarannya Aldo!"


"Aldi?? Ohh ya Tuhannn.....maafkan kakak Di. Kau banyak berubah. Kakak bahkan tak mengenalimu." Nando memeluk Aldi erat, menepuk bahunya bangga. Sungguh dia lupa pada sosok Aldi. Perubahan fisik yang sangat signifikan hingga membuatnya sangat athletis. Pendidikan di camp militer tampaknya sudah mencetaknya jadi seperti sekarang.


"Sayang ayo pulang. Kita bawa Aldi ke rumah." ajak Nando penuh semangat. Matanya berbinar bahagia. Dia segera meraih baby Rafa dan menggendongnya lalu membawanya ke mobil.


"Tunggu kak..." Nando menghentikan gerakannya membuka pintu mobil.


"Ada apa?" tanya Nando penasaran.


"Maaf kak...tapi aku tidak bisa berkunjung ke rumah kakak." ujar Aldi dengan wajah sedih. Sofia mengenggam tangan adiknya erat. Terlihat sekali wanita itu amat merindukan saudara laki-lakinya.


"Tidak kak...aku, Aldo, kak Sofia, ayah, Ibu semuanya bisa begini karena kebaikan kakak. Bagaimana mungkin...."


"Kalau begitu mampirlah. Anggap ini permintaan pertama kakak iparmu." bujuk Nando bersikeras. Apapun jalannya dia harus bisa membawa Aldi pulang agar Sofia tenang dan punya banyak waktu dengan kakaknya.


"Tapi kak...."


"Hubby, Aldi kesini untuk bertugas. Dia sudah ditempatkan sebagai ajudan dikediaman jenderal Tom. Hari ini kami kebetulan bertemu karena atasannya sedang berada disekitar sini." panggilan sayang dan suara lembut Sofia menyadarkan Nando.


"Siapa tadi? Jendral Tom?" tanya Nando memastikan. Sofia mengangguk.


"Dimana dia?"


"Dia disana kak." tujuk Aldi pada dangau buatan diseberang taman. Ada beberapa lelaki yang bercakap-cakap disana.


"Tolong pegang Rafa sayang." Nando mengulurkan putranya pada Sofia.


"Mas mau kemana?"


"Ada yang harus kukerjakan. Tunggulah di mobil, aku tidak lama." bisik Nando menatap mesra istri tercintanya. Sofia mengangguk lemah lalu masuk ke dalam sesuai instruksi suaminya.


"Ayo Di." ajak Nando, berjalan lebih dulu diikuti adik iparnya.


"Apa kita akan menemui atasanku kak?" Nando hanya menepuk bahu adiknya seraya tersenyum.


"Ya. Aku akan memintakan libur sehari untukmu. Aku pastikan atasanmu ini bukanlah jendral X yang membunuh ajudannya itu."


"Tapi kak...apa bisa? aku baru seminggu ini dialih tugaskan. Beliau sangat disiplin."


"Kau hanya harus melihat apa yang bisa dilakukan dadynya Rafa oke????"