Dear Husband

Dear Husband
Dewasa



Tangan Fernando masih menggenggam erat jemari istrinya kala mereka berjalan menuju ruang tunggu bandara yang amat ramai. Berkali-kali Sofia harus menghadapi tatapan aneh para kaum hawa yang kebetulan berpapasan dengan mereka. Tatapan penuh kekaguman mereka pada Fernando sudah amat membuatnya jengah. Dia tau Nando memang tampan, tapi kenapa mereka memperhatikan hingga sedetail itu? Seolah suaminya seorang aktor terkenal saja.


"Dad...mom...!" Secara spontan pasangan paruh baya yang masih terlihat muda itu menoleh. Yang pertama berdiri dari duduknya adalah sang pria paruh baya yang langsung merentangkan tangannya dan membuat sang putra setengah berlari memeluknya penuh kerinduan. Pantas saja Fernando sangat tampan. Lihatlah dadynya yang berwajah elok walau sudah berusia setengah abad. Tubuhnya kekar dengan kulit eksotis seperti Sofia. Jangan lupakan wajah khas Jawa yang membingkai senyum menawannya. Pantas saja momy Sisca begitu tergila-gila padanya hingga memaksa opa Nando menikahkannya walau masih berstatus mahasiswa kala itu. Pria ini benar-benar penuh wibawa.


"Sayang apa yang kau lihat hem? jangan bilang kau tertarik dengan dady." bisik Nando dengan wajah masam saat tau dari tadi istrinya memandang dadynya tak berkedip. Apa setampan itu dadynya hingga seorang Sofia yang sama-sama orang pribumi begitu tertarik dengannya? Sedangkan dadynya itu idola para wanita bule yang selalu membuat Fransisca harus ekstra hati-hati menjaga miliknya.


"Mas!!" protes Sofia dengan hati dongkol. Bisa-bisanya suaminya berkata begitu padanya. Apa salah jika seseorang merasa kagum pada orang lain saat pertama kali bertemu? apalagi Sofia adalah menantunya. Jangan pernah membandingkan Fernando dan dadynya. Keduanya punya ketampanan yang berbeda. Nando dengan wajah kebulean dari momynya dan Teguh Hutama dengan pesona khas Asianya. Tapi bagi Sofia, hanya Nando pria terbaik dimatanya.


"Kalau begitu jangan menatap dady lama-lama. Kau milikku dan hanya boleh menatapku, bukan pria lain." kritiknya tegas. Kedua tangan besarnya membingkai wajah istrinya agar menatap lurus padanya. Sofia hanya memilih menganggukkan kepalanya. Tak lucu bukan jika pada moment bertemu mertua untuk pertama kalinya mereka harus ribut karena alasan yang menggelikan?


"Bagus." bisiknya sebelum Sofia memeluk momy Sisca dan memindahkan si kecil Rafa dalam gendongan grandma cantiknya. Moment lucu kembali terjadi saat dady Teguh akan memeluk Sofia. Nando bersikeras tak memperbolehkan dadynya menyentuh istrinya selain salaman. Kekanakan sekali.


Dady Teguh yang memang sudah hafal watak putranya hanya tertawa ringan, sifat posesif Nando semakin parah saat sudah beristri. Anak lelakinya itu memang selalu bersikap begitu pada sesuatu yang sudah jadi miliknya dan amat disukainya.


"Maafkan suami saya dad." lirih Sofia salah tingkah karena ulah Nando. Beberapa kali bahkan dia sudah memberi kode keras berupa cubitan dipinggang sang suami. Tapi hasinya zonk. Lelakinya itu hanya punya satu prinsip...'Jangan sentuh milikku.'


"Sudahlah. Dad sudah terbiasa dengan sifatnya. Kau yang harus banyak bersabar menghadapinya nak." balas Teguh penuh kesabaran. Anak bungsunya itu memang kekanakan akut. Anak Mama yang manja.


"Sayang lihat ..cucu kita tampan seperti dadynya." pekik Fransisca seraya mengajak bercanda cucunya.


"Itu artinya dia mirip dirimu mom." timpal Teguh Hutama yang juga ikut menimang cucunya. Tawa hangat mewarnai perjumpaan keluarga kecil itu.


"Tapi kau juga harus tau jika bola matanya kecoklatan sepertimu dad." spontan semua mata menatap pada baby Rafa yang sedang mengembangkan senyum dan memamerkan lesung pipinya.


"Oohh...dia juga punya lesung pipi sepertimu dad. Aahhh manisnyaa...." Fransisca yang gemas seketika menciumi cucunya.


"Apa momy dan dady akan tetap disini?" sengit Nando yang jengah melihat kedua orang tuanya seolah kembali ke masa kanak-kanaknya dan jadi perhatian pengunjung bandara yang kebetulan lewat disana.


"Ooh tentu saja kami akan pulang anak nakal." balas Frransisca galak. Sedang Nando hanya melengos menatapnya. Momynya malah dengan sengaja menarik tangan Sofia agar mengikutinya, membiarkan duo tampan beda usia itu menggerutu karena merasa tak diacuhkan.


"mom...mas Nando...." Sofia sempat menghentikan langkahnya kala menoleh dan mendapati suami dan ayah mertuanya masih terpaku ditempatnya berusaha menahan langkah momy Sisca.


"Sudahlah. Suamimu itu sudah dewasa, sudah tau arah jalan pulang. Nanti juga dia menyusul. Jangan terlalu memanjakannya." omeh Momy Sisca sambil terus berjalan. Nando yang melihat kekhawatiran istrinya bergegas mengajak dadynya menyusul.


"Dad ayolah!"


"Dad, istriku mengkhawatirkan aku."


"Khawatir apanya? dia hanya menoleh dan memastikanmu tak hilang disambar orang lain."


"Yang ada dia yang akan disambar orang dad." pungkas Nando gemas. Tumben-tumbenan dadynya itu bersikap amat lamban. Biasanya juga tegas dan tepat sasaran.


"Biarkan saja jika dia mau. Paling juga yang nyambar cleaning servise."


"Dad!! aahhh!!!! Kenapa dady jadi menyebalkan begini sih? Istriku itu ...."


"Apa?" kali ini Teguh Hutama malah memilih duduk di deretan kursi tunggu, membuat Nando makin geram.


"Istriku seorang dokter, oke jika menurut dady dia tidak cantik..aku juga menganggapnya tak cantik."


"Lalu apa yang kau khawatirkan hmmm??"


"Karena dia istriku dad. Dia tanggung jawabku, ibu anak-anakku. Dan aku...aku sangat mencintai istriku."


"Benarkah???" tanya Teguh Hutama sambil memainkan ponselnya tak peduli.


"Aku bahkan tak pernah mencintai siapapun sebesar cintaku padanya." balas Nando lirih. Teguh Hutama menatapnya tajam. Putranya sudah banyak berubah.


"Seperti kau mencintai perempuan itu?" tanya sang papa dengan menekan kata perempuan di belakangnya. Dia hanya ingin memastikan perasaan Fernando pada Sofia karena anak bungsunya itu pasti akan marah jika dia menyebut Emma dengan kata itu. Tapi kali ini Fernando tak bereaksi. Wajahnya tetap tenang tanpa emosi


"Ya. Aku dan Emma sudah selesai dad." ungkapnya tegas. Sebuah senyum mengembang di bibir Teguh Hutama. Ditepuknya pundak putra tampannya.


"Dad senang kau sudah lebih dewasa son. Jadilah suami yang baik. Jangan pernah mengecewakan wanitamu. Ayo susul mereka." Lanjutnya sambil menarik tangan putranya itu.


Sampai diparkiran, keduanya disambut omelan panjang Fransisca karena harus berdiri lama menunggu ayah dan anak itu sampai. Kedua wanita itu lupa jika Nando yang memegang kunci mobil yang membuat keduanya harus lelah berdiri menunggu. Apalagi matahari mulai terik. Kasihan baby Rafa yang pasti merasa gerah dan kepanasan.


"Kalian ini dari mana saja sih? kelamaan!" semprot sang mama penuh amarah. Tapi baik Teguh ataupun Nando bersikap cuek saja. Nando bahkan melawati mamanya yang terus mengomel untuk membuka pintu mobil dan menyuruh semua masuk. Pria itu menggelengkan kepalanya kala momy Sisca memaksa Sofia duduk bersamanya di kursi penumpang.