Dear Husband

Dear Husband
Galau



"Apa ponsel nyonya masih tidak bisa dihubungi?" tanya Nando sesaat setelah Alex memarkirkan kendaraannya di halaman parkir rumah sakit. Sekretaris berbadan tegap dengan rambut cepak itu bergegas meraih ponselnya, mendial nomer Sofia. Beberapa kali mencoba, tapi hasilnya sia-sia. Panggilannya tetap hanya di jawab opeator saja. Pesannya diaplikasi warna hijaupun tetap hanya bertanda centang satu dari tadi pagi.


"Tidak bisa tuan." ujarnya setelah beberapa kali mencoba. Sekretaris Alex diam, menunggu perintah sang tuan muda yang masih termenung ditempatnya.


"Masuklah ke dalam." perintah pria blasteran itu dengan suara berat. Nafas kasar terhembus dari hidungnya.


"Kenapa bukan anda sendiri tuan?bukannya anda suaminya?" Nando langsung geram mendengar perkataan Alex yang memasang wajah tak berdosa andalannya.


"Kau kan sekretarisku. Kewajibanmu melayani dan menuruti perintahku. Apa ada peraturan seorang Sofia harus dijemput suaminya?" kata tajam yang dilontarkan Nando tak membuat nyali Alex menciut saat ini.


"Tapi jika ada orang yang mengira saya suaminya bagaimana tuan?" mencoba bersikukuh pada pendiriannya membuat Alex makin berani menjawab.


"kau mau mati heh??!!" Teriak Nando penuh penekanan. Nada kesal makin mendominasi suaranya. Bagaimana bisa orang menduga jika Alex adalah suami Sofia? bukankah dia lebih tampan dan keren?jauh lebih kaya pula. Orang kurang ajar mana yang akan membandingkan dia dengan seorang sekretaris sekelas Alex.


"tidak tuan." balas Alex singkat. Kali ini lebih baik menurut dari pada berurusan dengan sang majikan yang terlihat galau. Bisa panjang urusannya.


"kalau begitu cepatlah! susul dia. Hari ini Sofia bertugas di ICU."


"Bagaimana anda tau tuan?"


"Karena aku suaminya. Tutup mulutmu dan jangan bertanya lagi Lex!" sarkas Nando dibatas kesabaranya. Dia tidak tau kenapa Alex sebawel sekarang. Biasanya dia tak banyak bicara dan patuh padanya. Saat dia banyak pikiran, kenapa Alex juga banyak mulut? menyebalkan!


"Itu berati anda sangat perhatian pada nyonya tuan muda. Saya sangat mengenal anda. Tak banyak hal yang akan anda tau secara mendetail kecuali anda tertarik padanya."


Deg....


hati Nando miris. Yang dikatakan Alex benar. Dia bukan tipe pria ingin tau yang selalu mengurusi orang lain termasuk soal wanita. Dimatanya, wanita hanya mahkhluk yang merepotkan. Hanya Emma satu-satunya wanita yang selalu membuatnya ingin tau. Tapi kenapa sekarang dia jadi tau jam kerja dan dimana Sofia bertugas? apa benar jika dia sudah tertarik pada wanita yang biasa-biasa saja seperti Sofia? aahh...Nando bergidik. Sofia sama sekali bukan tipenya. Dia hanya ingin Sofia hadir untuk memenuhi permintaan Elle. Dia juga memperhatikan Sofia agar dia bisa menjawab pertanyaanya saat anak itu bertanya. Tidak lebih.


Alex turun dari mobil, tak menunggu diperintah untuk kedua kali,dia memasuki lobi rumah sakit itu. Umpannya sudah termakan. Dia sudah cukup tau apa yang dirasakan Nando setelah melihat ekspresinya. Majikannya itu mulai menaruh perhartian pada istrinya. sinyal bagus, tuannya akan membuka hati pada wanita selain Emma yang menurutnya terlalu sempurna padahal sebenarnya tidak. Tuan mudanya itu terlalu dibutakan oleh cinta yang membuatnya tertipu hingga sekian tahun lamanya.


"Permisi, bisakah saya bertemu nyonya muda Hutama?" tanyanya pada seorang perawat yang kebetulan baru membuka pintu ruang ICU itu. Wanita tinggi semampai layaknya postur Sofia. Tapi wanita ini lebih kurus dari nyonya mudanya. Mata beningnya mengerjab.


"Nyonya muda Hutama?" beo wanita muda itu seraya mencoba mengingat sesuatu. Keningnya berkerut menelisik kembali daftar nama pasiennya atau para medis yang bertugas disana.


"Ahh..maksud saya dokter Sofia. Maaf." Alex benar-benar lupa jika dia bukan berada dikediaman Hutama ataupun ditempat kerja. Mana tau mereka tentang nyonya Hutama?


"Owhh ...dokter Sofia rupanya. Hari ini beliau tidak bertugas karena ada tugas mendadak."


"tugas?" kali ini Alex yang membeo mengulangi perkataan wanita dengan name tag Airin di dadanya.


"Apa dokter Sofia tidak memberitau anda jika hari ini dia dikirim keperbatasan Kalimantan?"


" Padahal perintah itu dari kemarin." keluh Airin nyaris berbisik.


"Apa yang dia lakukan disana? sepenting apa tugasnya hingga tidak memberitau suaminya?" kepala perawat tadi terangkat, mengamati sosok pria di depannya yang memang mempunyai postur layaknya seorang prajurit. Bedanya pria ini berkulit bersih dan memakai setelan kerja formal yang membuat sosoknya menjadi sempurna, setidaknya dimatanya.


"Ada wabah yang perlu penanganan serius disana. Beberapa dokter dan perawat juga dikirim kesana hari ini pak." jelasnya lagi.


"Pak? apa aku setua itu?owhh baiklah Airin....ehm...namamu Airin kan? katakan berapa lama dokter Sofia bertugas kesana?"


"Tergantung pak ehh tuan. Bisa satu minggu sampai satu bulan."


"ooohh ya Tuhan!"


"kenapa? apa anda sangat merindukannya?owhh....itu saya maklum, anda pengantin baru." kata Airin mengulum senyum simpul. Mata Alex membola. Apa yang dia takutkan menjadi kenyataan. Dia benar-benar diduga sebagai suami dokter Sofia. Padahal kenyataanya, diusianya yang berkepala tiga, dia masih berstatus lajang. Alex maju selangkah hingga membuat Airin mendur selagkah.


"Airin, saya bukan suami nyonya Sofia karena saya ini lajang. Terimakasih infonya, lain kali jika kita bertemu lagi akan saya pikirkan ide untuk melamarmu."


bluuss....


Seketika pipi Airin merona. Pria tadi...pria yang bahkan tidak dia tau siapa namanya bicara tentang lamar-melamar di depannya? ini terlalu berlebihan, tapi sungguh..hatinya berbunga. Andai ucapannya adalah sebuah keseriusan? tentu dia akan dengan senang hati membawa pria itu menemui kedua orang tuanya. Pasti bapak ibunya akan senang melihat calon mantunya yang pefect itu. Segera Airin menggelengkan kepalanya. Itu hanya impian baginya.


Lain halnya dengan Nando, pria tegap itu menemui tuannya dan melaporkan semuanya yang dia tau tentang Sofia. Fernando langsung diam tanpa berkata. Apa yang bisa dia lakukakan sekarang? sedang ponsel istrinya tidak bisa dihubungi. Membawanya pulang juga hal yang tidak mungkin karena walau ia tau dimana Sofia berada, wanita itu sedang melakukan tugas negara. Yang dia pikirkan sekarang adalah cara mengatakan semuanya agar Elle mau mengerti.


"Kita pulang." putusnya kemudian.


"Baik tuan." Alex segera menjalankan mobil mewah itu keluar dari parkiran. Sedang Nando? pria itu meraih laptopnya dan mulai berselancar tentang wabah diperbatasan.


"Apa Sofia akan baik-baik saja?” gumamnya lirih, namun masih dapat ditangkap dengan baik oleh indera pendengaran Alex yang sangat tajam.


" nyonya pasti baik-baik saja tuan."


"kenapa kau seyakin itu Lex?"


"Karena nyonya harus tau ekspresi galau anda saat memikirkan dia."


" Kau mulai lagi sekretaris tak tau diri!"


"Maaf tuan, tapi itu kenyataannya. Anda terlihat resah. Dan terus terang saya suka semua perubahan pada diri anda." ungkap Alex jujur.