Dear Husband

Dear Husband
Tak ada maaf



"Ini laporannya kak." Alex menyerahkan beberapa lembar kertas yang diserahkan orang suruhannya saat berhenti di lampu merah tadi. Sofia segera meraihnya dan memeriksa kertas-kertas itu. Sebuah senyum kecil terkembang disudut bibirnya. Dugaannya benar, ada seseorang yang sengaja memesan racun arsenik itu ke rumahnya.


"Kita sudah sampai." Ucap Alex setelah menghentikan mobil hitamnya. Sofia segera turun dan memasuki rumah. Tatapan nanarnya beredar pada seluruh penjuru rumah yang terlihat sepi.


"Kak Nando sudah memberhentikan seluruh pengawal rumah kecuali orang yang ditempatkan untuk mengawasimu." Alex mencoba menjelaskan keadaan rumah itu pada sang kakak ipar. Dada Sofia kembali nyeri. Suaminya benar-benar dalam masalah karena dia juga. Dan pria itu sama sekali tak pernah mengeluh atau meminta belas kasihan orang tuanya. Dia juga lebih memilih mengandalkan dua orang satpam saja untuk berjaga, namun masih tetap mengaji orang orang untuk menjaganya.


"Lalu siapa saja pembantu yang masih bekerja disini?"


"Hanya empat orang saja termasuk tukang kebun dan juru bersih-bersih dari yayasan yang datang dua hari sekali. Selebihnya hanya bi Mimi dan Sarla." Alex menunjuk tumpukan kertas paling bawah yang memuat seluruh biodata pekerja disana. Sofia berhenti tepat di depan pintu sambil membaca biodata itu secara cepat. Dia tak punya banyak waktu untuk detailnya.


"Minta satpam untuk mengirimkan rekaman cctv kedalam." perintahnya tegas. Alex langsung menelepon pos satpam yang sekarang berfungsi ganda itu agar segera mendapatkan apa yang Sofia inginkan.


"Kita lewat pintu belakang saja." Tanpa menunggu jawaban Alex, dokter cantik itu berjalan cepat memutari rumah. Alex hingga dibuat geleng-geleng kepala karenanya. Kegesitan Sofia membuatnya seolah tak tampak sebagai wanita yang sedang hamil tua. Hilang sudah sikap lemah lembutnya, yang tersisa sekarang adalah Sofia yang gagah dan penuh semangat. Seseorang pasti akan melakukan apapun untuk orang yang dicintainya.


Seorang pria yang dia kenal sebagi tukang kebun segera memberi hormat saat Sofia melintas, begitupun tenaga kebersihan yang tadi dibicarakan Alex. Wanita akhir tiga puluhan itu menundukkan wajahnya saat Sofia menatapnya intens dan menghampirinya.


"Dia istri tuan muda Hutama jika kau belum mengenalnya Nurma." Alex memperkenalkan Sofia pada juru kebersihan itu. Wanita itu segera menundukkan tubuhnya, membuat Sofia terkaget karenanya.


"Selamat siang nyonya." sapanya dengan wajah takut. Sofia hingga mengerutkan keningnya. Ada apa dengan wanita ini? kenapa dia terlihat ketakutan seperti sekarang? padahal ini adalah kali pertama mereka bertemu. Ada yang janggal.


"Sejak kapan mbk Nurma kerja disini?" tanya Sofia menyelidik. Wanita bernama Nurma itu mengangkat wajahnya sekilas.


"Empat bulan yang lalu nyonya muda." balasnya gugup. Sofia menganggukkan kepalanya lalu kembali melangkah meninggalkannya.


"Apa kakak mencurigainya?" Alex menangkap sesuatu yang tidak beres dari gelagat yang ditampilkan sang nyonya.


"Berapa lama lagi Bella akan tiba kemari?" Bukanya menjawab pertanyaan iparnya, Sofia malah balik bertanya. Dia memang meminta Bella datang saat itu.


"Mungkin sepuluh menit lagi. Dia berada dua blok dari sini sekarang. Mungkin momy yang akan datang lebih dulu."


"Momy?" tanya Sofia meyakinkan.


"Ya. Apa kau pikir momy akan diam saja jika ada yang akan mencelakai putra kesayangannya? bagaimanapun caranya menyadarkan kak Nando, dia tentu tak menginginkan kematian untuk putranya."


"Hmmmm...." gumam Sofia sebelum membuka pintu dan masuk ke rumahnya. Sarla yang kebetulan berada di dapur hingga terlonjak kaget melihat kehadiran nyonya mudanya.


"Ya Tuhan...nyonya??" dan tentu saja wanita paruh baya itu langsung berlari mendekat, melemparkan celemeknya dan membungkuk memberi hormat.


"Perintahkan seluruh pekerja yang masih tersisa di rumah ini untuk berkumpul diruang tengah sekarang." perintah Sofia tegas. Alex hingga dibuat heran karena perilaku kakak iparnya itu. Tak biasanya dia memerintah bak seorang nyonya meski dia memang berkapasitas untuk itu.


''Ba...baik nyonya." Sarla segera berlalu menuju kamar bi Mimi dan memberitahunya tepat bersamaan dengan kehadiran Fransisca dari pintu depan. Mendengar salam yang diucapkan mertuanya membuat Sofia mempercepat langkahnya menuju ruang depan.


Satu persatu enam pekerja yang tersisa dirumah itu datang dan berdiri berjajar dalam diam. Melihat sorot mata Fransisca yang dipenuhi kemarahan membuat keenamnya menunduk pasrah.


"Apa kalian tau kenapa dipanggil kemari?" tanya Fransisca dingin. Keenamnya menggeleng hampir bersamaan.


"Baiklah, apa yang kalian temukan?" tanya Fransisca saat beberapa bodyguardnya muncul dari lorong berbeda.


"Ini nyonya." kata salah satu dari mereka sambil menyerahkan sebuah botol berisi cairan berwarna putih pada sang nyonya.


"Kami menemukannya di dalam tas ini." Wajah Nurma pias karena yang ada ditangan pengawal itu adalah tasnya.


"Ta...tapi itu..itu bukan milik saya nyonya." bantahnya ketakutan.


"Lalu milik siapa lagi? dirumah ini tidak ada yang membutuhkan racun seperti itu." sahut bibi Mimi cepat dengan wajah jumawa. Mendengarnya membuat Nurma makin ketakutan hingga keringat dingin membasahi seragamnya.


"Tapi demi Tuhan bukan saya pemiliknya nyonya. Saya berani bersumpah." katanya dengan suara bergetar. Air mata mulai membasahi pipinya. Semua terdiam dalam keheningan hingga suara tegas Sofia memecah keheningan itu.


"Hubungi polisi Lex." Mendengarnya Nurma segera berlutut menjatuhkan dirinya dengan berderai air mata.


"Ampuni saya nyonya...bukan saya pelakunya. Jangan tangkap saya nyonya. Siapa yang akan menghidupi anak dan suami saya?" katanya menghiba. Tapi tak ada satupun yang merespon permintaannya.


"Untuk apa minta maaf, kau sudah mencelakai tuan muda." serang bi Mimi lagi.


"Diam dan dengarkan perkataanku bi Mimi. Jangan berani melewati batasanmu di rumah ini. Aku nyonya dirumah ini, bukan kau." kata Sofia kasar dengab wajah penuh kebencian. Semua menatapnya. Mereka tak pernah melihat Sofia semarah itu hingga menudingkan jari telujuknya tepat diwajah Mimi hingga wanita itu terdiam dan bergerak mundur.


"Maafkan saya nyonya." lirihnya menundukkan kepalanya.


"Aku tidak akan pernah memaafkan orang yang mencelakai suamiku Mimi!!"


🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Asalamuialaikum readers....


Bagiamana kabar kalian hari ini? Semoga selalu sehat ya...


Author hanya mengingatkan pada kalian, jika ada yang kurang berkenan atau merasa kurang sreg dengan jalan cerita yang saya buat, cukup berikan komentar agar author berbenah kearah yang lebih baik ya. Walau tak sempat saya balas, tapi saya baca semua komentar kalian kok.


Jika kalian memang tak menyukainya, cukup skip saja. Jangan berikan rating yang buruk untuk penulis receh seperti kami. Tak semua penulis dengan level rendah seperti kami mendapatkan penghasilan dari karya yang kalian hancurkan ratingnya dengan penilaian buruk. Mari saling mendukung dengan memanusiakan manusia yang lain. Salam sayang dan terimakasih...☺☺☺