Dear Husband

Dear Husband
Richard



Rasa mulas yang luar biasa mendera perut Sofia yang langsung mengrenyit sakit. Dia sudah berusaha menahannya agar suaminya tidak terbangun atau terganggu karenanya. Ditatapnya wajah lelah sang suami yang masih tertidur nyenyak di sisinya. Wajah tampan itu bahkan berada tepat disisi wajahnya. Nafas teratur berhembus dari hidung mancung nan menawan miliknya. Beberapa hari ini suaminya memang sangat sibuk memulihkan perushaan hingga baru di rumah tiba diatas pukul sembilan malam. Nando benar-benar menepati janjinya untuk berusaha keras. Siang malam dia bekerja, hanya sedikit waktu yang dia manfaatkan. Jangankan Sofia, Rafapun mengeluh karena sudah tak bisa lagi bermain dengan dadynya. Mereka hanya bertemu selepas subuh hingga jam delapan saja setiap harinya. Setelahnya ...rumah jadi hampa seperti semula.


"mm...maass...." desisnya lirih sambil mengigit bibir bawahnya. Ditahanpun percuma, dia sangat kesakitan. Apalagi saat merasakan ada air yang mengalir disela-sela pahanya. Tangan Sofia bergerak lembut menyentuh pipi sang suami yang refleks membuka mata.


"Sayang...kau..kenapa??" terbata Fernando yang masih mengumpulkan nyawa terduduk. Secara spontan dia memegangi perut sang istri yang terus merintih.


"Aku ....sudah saatnya aku melahirkan mas. Tolong bawa aku ke rumah sakit segera." lirih Sofia yang langsung direspon cepat oleh lelakinya. Fernando segera menelepon sopir pribadinya untuk bersiap, tak lupa menyalakan alarm darurat agar Sarla dan dua temannya yang masih tinggal dan dipekerjakan dirumah besar itu siaga. Dan disinilah sang tuan muda berada. Di dalam mobil mewah miliknya seraya memeluk dan membelai istrinya. Bayangan kelahiran Rafael yang silih berganti membayangi pelupuk matanya benar-benar membuatnya gundah. Dia tak ingin kejadian serupa terulang. Dia takut kehilangan istrinya.


"Mas...masih lama sampainya? rasanya aku sudah buka delapan." Fernando yang tak mengerti istilah buka pada masa lahiran hanya menyuruh sang sopir menambah kecepatan meski Sofia memarahinya agar tak membentak siapapun. Tapi Nando sudah terlanjur panik.


Tiba di lobi, suami tampannya itu juga tak kalah panik saat Sofia sudah beberapa kali mengejan diatas brangkar yang membawanya ke tempat bersalin. Dokter kandungan yang dia telepon beberapa saat sebelum berangkat menuju rumah sakit milik keluarganya bahkan masih dalam perjalanan karena rumahnya yang berjarak cukup jauh dari rumah sakit.


"Maasss....." Sofia mengenggam erat tangan Fernando yang terus setia mengenggamnya sejak tadi walau harus berlari kecil mengikuti jalannya brangkar. Pintu ruang bersalin baru saja ditutup seorang perawat saat suara tangis bayi terdengar kencang, membuat seluruh petugas panik ketakutan. Bidan jaga segera mengambil tindakan tanpa sempat menempatkan brankar Sofia secara benar. Tak ada lagi waktu menunggu sang dokter. Bayinya sudah lahir tanpa bantuan medis. Tangannya bergerak cepat meraih sang bayi, memotong tali pusarnya dan membersihkannya. Sedang Nando? pria itu malah dibuat lemas tak berdaya melihat sang istri yang mengeluarkan banyak darah. Pria itu juga melihat secara langsung saat proses panjahitan hingga usai.


"Selamat tuan, nyonya bayi anda laki-laki." ucap sang bidan dengan senyum lebarnya. Bayi mungil itu baru saja dibersihkan dan diserahakan pada Nando yang menerimanya dengan tangan bergetar. Berlahan diciumnya pipi bayi yang masih merah itu lalu diadzani dan di doakan secara islami. Lagi dan lagi Nando menciumi pipinya hingga bayi itu Menggeliat. Bidan segera membantunya meletakkan sang bayi disisi ibunya.


"Dia laki-laki. Maafkan aku yang belum bisa memberi anak perempuan seperti yang kau ingiinkan Sofia." desisnya sambil mengecupi kening istri cantiknya yang masih mengeluarkan peluh. Iris biru lautnya berkaca. Sofia memegang pipi kirinya dan tersenyum.


"Untuk apa minta maaf? bagiku sama saja mas. Banyak orang diluar sana yang amat mendambakan bayi laki-laki, kita harus bersyukur mendapatkannya bukan?" Nando mengangguk.


"Kenapa semua anak kita selalu mirip dirimu?" lirih Sofia, tersenyum bahagia. Ternyata bayi keduanya juga sangat mirip dadynya. Hanya kulitnya berwarna kuning langsat seperti miliknya yang membedakan dirinya dengan Rafa yang mewarisi kulit putih dadynya. Selebihnya...Duplikat Rafael.


"Sayang apa kau sudah menyiapkan nama untuknya?"


"Aku? kenapa aku? kau dadynya, berikan nama terbaik baginya."


"Maaf tuan muda, sudah saatnya nyonya dibawa ke ruang perawatan." kata seorang perawat sopan menginterupsi percakapan pasangan suami istri yang sedang berbahagia itu. Nando menatapnya tajam, tak suka pada perkataan perawat yang dinilainya tidak sopan. Dia belum minta dipindahkan, berani sekali perawat itu menyela. Mengetahui tatapan tak bersahabat suaminya dan rona ketakutan sang perawat memaksa Sofia bertindak.


"Hmmm baiklah." ujarnya lalu memberi jalan pada perawat dan seorang rekannya untuk memindahkan Sofia dan bayi mereka ke kamar VVIP.


Benar kata Sofia, berada di kamar itu jauh membuat perasaannya lebih baik. Ranjang ukuran besar, box bayi juga satu set sofa sudah berada disana. Ac, tv juga kulkas merupakan fasilitas penunjang lainnya. Kadang Sofia menyebutnya hotelnya rumah sakit kala sedang bercanda.


"Jadi bagaimana?" Fernando masih menimang bayinya, tapi matanya tak lepas menatap Sofia mesra.


"Apanya mas?"


"Kau harus memberinya nama agar adil sayang." desaknya lagi.


"Adil?"


"Ya, aku yang memberikan nama pada Rafa. Sekarang giliranmu. Atau kau...tak menyukai putra tampanku ini karena dia tak sesuai keinginanmu hingga tak mau memberinya nama?" Sofia sontak menggeleng kuat. Dia amat menyayangi anak-anaknya.


"Kalau begitu berikan dia nama." Sofia terdiam. Sedikitpun dia tak punya rencana memberikan nama pada anaknya karena berharap dadynya yang anak memberi nama.


"Richard...aku ingin memberinya nama Richard." ungkap Sofia tersenyum tipis.


"Richard...jangan-jangan kau terinspirasi dari sang eksekutor yang baru saja divonis hakim siang tadi." sergah Nando. Semua orang tau siapa Richard yang tiba-tiba jadi idola emak-emak juga.


"Apa tidak boleh?"


"Tak ada yang melarangmu sayang. Terserah kau mau memberinya nama siapa." hibur Nando saat melihat wajah istrinya gamang.


"Baiklah. Kau memberinya nama Richard bukan? aku akan menambahkan namanya. Richard hamza putra Hutama. Karena hamza adalah huruf ke dua puluh sembilan hijaiyah. Dia bukan yang terakhir, tapi punya kesamaan dengan alif walau membutuhkan harokat. Biarkan putra kita juga begitu. Seperti yang pertama, tapi juga butuh kasih sayang yang lainnya."