Dear Husband

Dear Husband
Seseorang



Melahirkan normal membuat Sofia hanya beberapa jam saja berada di rumah sakit. Setelah keadannya membaik, dokter sudah memperbolehkan dia dan baby Richard pulang malam itu. Nando yang sebelumnya masih khawatir karena masih terbayang pada kelahiran Rafael yang dahulu bermasalah sebenarnya memaksa sang dokter untuk mengijinkan Sofia tetap tinggal hingga pulih benar, namun Sofia terus memberinya pengertian jika begitulah aturannya pada kelahiran secara normal. Dia sangat sehat tidak seperti saat melahirkan Rafa dulu. Setengah hati Nando menyetujui.


Mereka dalam perjalanan pulang saat Sofia memangku putra tampannya yang masih terjaga. Iris biru lautnya membuatnya benar-benar terlihat tampan laksana dadynya. Lihatlah bibir mungil itu terus bergerak.


"Dia nampak haus." lirih Sofia lalu bermaksud menyusuinya. Fernando buru-buru menurunkan penyekat mobil sebelum istrinya benar-benar membuka kancing atasnya. Gerakan refleks yang amat baik.


"Maaf." tukas Sofia berbisik. Nando hanya mengangguk kecil. Pandangannya tak luput dari putra keduanya yang memang sudah besar saat dilahirkan. Bibir kecilnya langsung mengikuti instingnya untuk menyusu. Untunglah produk ASI Sofia sudah lumayan lancar atas bantuan dokter spesialis tadi hingga mereka tak perlu kesusahan memberinya ASI.


"Rafa pasti gembira sayang." kali ini Nando mengelus pipi putranya yang tentu saja masih sibuk menyusu meski mata kecilnya mulai terpejam.


"Hmmm..." gumam Sofia. Nando tiba-tiba menegakkan tubuhnya dan mencium singkat pipi kanan Sofia yang masih tertunduk mengamati putranya.


"Jawab kalau aku bicara." Sofia hanya menengadah sebentar kemudian kembali menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah. Gemas rasanya melihat sang istri saat itu. Andai mereka sudah baikan seperti dulu kala pasti dia sudah mengecup bibir seksi Sofia. Sayangnya Sofia belum memaafkannya, dan dia tak akan memaksa.


"Ya." hanya jawaban pendek yang lagi-lagi membuat Nando gemas. Baru akan kembali mengecup pipi istrinya, mobil sudah memasuki halaman rumah. Mereka melewati beberapa menit perjalanan tanpa terasa.


Ada tiga mobil yang sudah terparkir di halaman rumahnya. Nando tau pasti jika mobil hitam yang dikiri adalah milik Alex, lalu yang ditengah adalah mobil milik momynya, tapi tak tau satu lagi yang berwarna putih susu punya siapa. Yang jelas mobil itu masuk dalam jajaran mobil mewah di kelasnya. Berlahan dia turun lebih dulu, kemudian bergegas mengitari mobil untuk membantu istrinya turun.


"Asalamualaikum." Nando mengucapkan salam. Seketika sahutan dari dalam terdengar kompak bersamaan. Belum sempat mengamati dengan benar siapa tamu-tamunya, Bella sudah lebih dulu menghambur mengambil Richard dari pelukannya.


"Wwaaahh..tampan sekali. Benar-benar mirip kak Nando. Hay Rafa...lihat, adik barumu amat mirip dirimu." Bella seketika membawa sang keponakan mendekat pada kakaknya. Tentu saja Rafa yang tadinya asyik duduk di pangkuan omanya seketika turun dan merasa penasaran. Bella membiarkannya menyapa adik barunya.


Sofia segera menyalami Alex, momy Fransisca, dady Teguh juga Karin yang datang bersama suaminya, tentu saja bersama anak-anak mereka juga hingga rumah Nando terlihat amat ramai malam itu. Benar-benar kejutan karena jarang-jarang keluarga mereka bisa berkumpul seperti sekarang. Euforia kebahagiaan begitu terasa diantara gelak tawa dan candaan yang sama sekali tak mengusik tidur Richard.


"Kapan ya aku bisa punya anak laki-laki seperti Richard?" Kata Bella sambil tak henti mengagumi baby yang sekarang berada dalam gendongan Karin yang juga menimangnya dengan mata berkaca. Sang suami segera mengelus pundaknya. Karin memandangnya lalu menganggukkan kepalanya. Bella mungkin masih bisa berandai-andai, tapi tidak dirinya. Karin sudah di vonis tak bisa hamil lagi karena kandungannya lemah dan bisa membahayakan nyawanya. Alhasil dia hanya puas dengan kelahiran dua putrinya walau semua orang tau dia amat mendambakan bayi laki-laki ditengah pernikahannya.


"Ehmmm..maafkan aku kak." Bella yang melihat ekspresi Karina menjadi merasa bersalah. Berlahan dia melepaskan tangannya yang tadi mengelus pipi Richard gemas.


"Tak apa Bel." ucap Karin namun masih membuat Bella tak enak hati.


"Ya, aku dan Karin sudah belajar menerima karunia Tuhan. Dua putri kami juga akan memberi kami anak lelaki jika sudah menikah nanti. Iya kan sayang?" Suami Bella segera menyahut untuk mengurai kecanggungan yang tiba-tiba terjadi.


"Anak lelaki atau perempuan itu sama saja Bel. Dad juga menyayangimu seperti Nando. Tapi jika ditimbang, dad malah lebih menyayangimu dari bocah nakal itu." dady Teguh juga ikut bersuara menghibur putri sulungnya yang terlihat sedih.


"Mom juga, apa hebatnya punya anak lelaki jika jiwanya perempuan. Laki-laki kok tidak tegas." sindir mom Fransisca sambil menatap Nando galak. Nando yang merasa tersindir hanya menarik nafas panjang, mencoba bersabar atau meminimalisir keributan di moment bahagia keluarganya.


"Ya...bela terus adikmu itu." Fransisca memilih mengalah jika Karin sudah bersuara karena akhirnya pasti anak sulungnya itu akan mengungkit masa kecil mereka yang kurang kasih sayang.


"Kau selalu jadi yang terbaik, kak." puji Nando sambil menyentuh pundak kakaknya. Satu tangan Karin mengelus tangannya penuh kasih sayang.


"Kau juga membeli mobil baru tanpa sepengetahuanku. Apa mentang-mentang aku sudah miskin hingga kau tak mau memberitahuku?" Mata Karina membola. Tangannya dengan cepat memberikan Richard pada Fransisca yang ada disampingnya.


"Sini kau bocah nakal!!" Nando terpaksa mengikuti tarikan kakaknya memutari sofa.


"Dengar..mobil itu hadiah dari keluargaku pada Sofia sebagai ucapan selamat atas kelahiran anak kedua kalian. Dan menyinggung soal miskin...apa kau tak ingat jika kakakmu ini memang tidak suka jika adiknya jadi miskin? aaaaahh Fer...jangan buat aku seperti kakak yang tak punya persaan yang bersenang-senang diatas penderitaanmu." ketus Karin sambil menghempaskan tubuh tinggi besar Nando disamping Sofia. Pria itu tersenyum sinis.


"Kenyataannya sekarang aku berubah miskin bukan? apa sekarang kau tak mau mengakuiku sebagai adikmu?" tantang Nando membuat Karin makin mendelikkan matanya.


"Siapa yang tak mau mengakuimu bodoh! jika kau miskin, maka kakakmu ini akan membantumua agar kehidupannya menjadi seperti semula. Tapi baiklah, kuberi tau kau jika aku sudah menandatangani kerja sama dengan perusahaanmu." Karin meraih salinan kontrak dari tangan Alex lalu menyerahkannya pada Nando yang langsung membacanya. Tubuh sang tuan muda menegang manakala mendapati Karin sudah menginvestasikan dana dalam jumlah besar pada perusahaannya.


"Kau serius kak?"


"Sangat serius." Nando langsung memeluk Karin bahagia. Sang kakak hingga harus menyeka air mata yang jatuh karena rasa harunya. Nando tak menyangka Karin akan melakukaknnya mengingat basic usaha mereka yang berbeda dan Karin sama sekali tak tertarik dengan bisnisnya dari awal.


"Ingatlah jika kakakmu ini tak akan tinggal diam jika kau terluka." bisiknya.


"Sudah pelukannya? kapan kau akan memeluk pria tua ini bocah tengil? Pria ini bahkan sudah berinvestasi melebihi kakak galakmu itu." Kali ini Teguh hutama berkata tegas dengan wajah masamnya. Nando terkaget seketika.


"Dad...itu tidak perlu." tolak Nando sopan. Namun Teguh sudah lebih dulu memotongnya.


"Aku melakukannya demi dua cucuku. Aku tak ingin mereka kurang kasih sayang seperti kau dan Karin karena dadynya yang sibuk mengurus bisnisnya yang jatuh bangun."


"Tapi dad....."


"Kembalilah menjadi tuan muda Hutama karena ada seseorang yang memohon padaku untuk mengembalikan dirimu yang dulu." timpal Fransisca.


"Seseorang?? siapa?"