Dear Husband

Dear Husband
Yang lalu



"Aku....bagaimana bisa aku pergi darimu jika hidupku sudah terpusat padamu tuan Fernando?" Nando menatapnya jengah lalu mengalihkan pandangannya kembali pada pintu balkon yang masih terbuka. Semilir angin menerpa tubuh mereka. Dingin.


Sofia bergerak menutup pintu itu lalu kembali mendekati Nando yang masih menyandarkan tubuhnya di sofa. Kini pria dingin itu menatap lurus kedepan tak peduli pada Sofia yang berdiri tegak sambil memegang kedua tangan disampingnya.


"Tuan..."


"Aku bukan tuanmu Sofia." potong Nando dingin. Tangannya mencengkeram pegangan kursi kuat hingga darah merembes lagi dari lukanya, menembus kasa yang membungkusnya.


"Maaf." cicit Sofia lagi. Dia tau Nando sangat marah padanya. Entah untuk alasan apa dan yang mana, dia belum tau pasti.


"Saat itu kau hanya gadis desa dengan pakaian sederhana yang dihadapkan padaku karena lulus test akademis dengan nilai tertinggi. Tak ada yang istimewa darimu sebelum kau menjawab satu pertanyaanku."


"tentang dua prioritas dalam hidupku?" jawab Sofia menerawang mengingat kejadian bertahun lalu saat Edwardo duduk dihadapannya didampingi beberapa dosen, dekan dan rektor universitas. Pria itu menanyakan pertanyaan itu pada tiga orang terpilih yang mendapatkan donasi darinya.


Dua pria dari fakultas ekonomi menjawab hampir sama. Karier dan keberhasilan mereka. Jawaban yang tentunya sangat memuaskan bagi seorang pemberi beasiswa. Mereka tidak akan rugi karena mendapat calon karyawan seperti mereka. Pintar dan bertanggung jawab. Tapi saat Edwardo memalingkan muka dan menatap tajam dirinya, untuk menanyakan hal yang sama... Sofia malah menjawab jika prioritas utamanya adalah keluarga dan kemanusiaan.


"Keluarga bagi saya adalah rumah terbaik untuk pulang saat saya sedih atau bahagia sedang kemanusiaan adalah cara saya mengabdikan hidup dan memanusiakan manusia." ulasnya singkat saat sang dekan bertanya apa alasannya.


" Bagaimana dengan sosok suami saat kau menikah nanti?" susul Nando saat sesi tanya jawab itu akan berakhir. Sofia menengadahkan kepalanya, melirik juga dua rekannya yang juga terlihat bingung karena hanya Sofia yang mendapat pertanyaan seperti itu. Selanjutnya, Sofia hanya perlu menata hatinya dan berpikiran positif perihal pertanyaan itu. Tentu saja karena dia satu-satunya wanita disana. Wajar saja jika sang donatur bertanya demikian.


"Suami bagi saya adalah prioritas utama diantara semua hal karenan surga seorang wanita tergantung pada ridho suaminya."


"Termasuk meninggalkan kariermu?"


"ya." jawab Sofia tegas membuat sang donatur menatapnya lebih intens lalu berpamitan pergi.


Sofia menarik nafas panjang. Kenangan itu masih bisa dia ingat dengan jelas.


"Aku tau pernikahan itu bukan atas kemauanmu dokter. Maka itu sekarang aku tidak akan memaksamu tetap tinggal disisiku. Pikirkan keputusanmu, berikan jawabanmu dan temui aku dimeja makan besok pagi." Gumam Nando yang sudah melewati Sofia menuju pintu kamar dan meninggalkannya seorang diri menuju ruang kerjanya.


Sofia terduduk lemas dilantai berlaskan karpet tebal. Hatinya bergejolak. Semuanya terjadi begitu tiba-tiba. Terlintas dalam pikirannya akan jasa seorang Edwardo yang ternyata adalah Fernando. Tanpa jasa dan pertolongan pria itu dia tak akan bisa jadi dokter. Adik-adik dan orang tuanya juga mungkin akan tetap mengalami kesulitan hingga sekarang. Benar kata Bella...tidak sulit mencintai seorang Fernando yang bukan hanya tampan rupa, tapi juga hatinya. Tapi sungguh....Sofia takut jatuh cinta dan sakit hati seperti pungguk yang merindukan bulan.


Menatap dirinya, wanita muda itu baru sadar jika dia belum sempat mandi dan ganti pakaian dari tadi. Dia begegas ke kamar mandi dan beganti pakaian dengan baju tidur. Sesaat kemudian, pikirannya kembali menerawang.


Hampir tengah malam saat sang dokter tersadar dari lamunan dan pikiran beratnya. Berulang kali dia mondar-mandir tidak jelas, mengusap kasar wajahnya hingga memutuskan keluar kamar, menuju lantai bawah...ruang kerja suaminya.


.......tok...tok...tok ....


Tak berapa lama pintu itu terbuka. Fernando muncul dari balik pintu dengan rambut basah.


"Aku...aku....."


"Boleh aku..masuk?"


"Besok saja. Aku lelah." Ada semburat kekecewaan pada wajah Sofia. Tapi kata hatinya selalu menyuruh terus dan terus bertahan.


"Kalau begitu ayo tidur ke kamar." ini sudah kedua kalinya dia menjemput sang suami untuk tidur dikamar mereka dilantai atas.


"Aku akan tidur disini." Tangan kuat Sofia menghalangi Nando yang ingin menutup pintu. Sedikit memaksa, wanita muda itu mendorong kuat tubuh Nando lalu masuk ke dalam.


"Berhenti Sofia. Aku tidak suka ada orang yang masuk ke kamar tidurku diruangan ini tanpa ijinku!" teriak Nando lantang, namun tak dihiraukan oleh sofia yang langsung menuju ranjang dan membaringkan tubuhnya disana.


"Turun!" bentak Nando kasar.


"Aku tidak mau!" balas Sofia tak kalah kerasnya membuat Nando meradang. Dia menarik kasar kaki kiri Sofia agar pergi dari ranjang ukuran queen itu.


"Lepaskan!" teriak Sofia. Kakinya menendang penuh perlawanan, namun bisa ditangkap dengan mudah oleh Nando yang langsung membantingnya kelantai tanpa perasaan. Terlihat sekali jika pria itu sangat marah.


"Kau keterlaluan mas!" sentak Sofia berang, mengelus pinggangnya yang terasa sangat sakit karena terjatuh tadi.


" Jangan sekali-kali naik ke ranjangku Sofia. Karena ranjang ini belum pernah ditempati seorang wanitapun!" sarkas Nando sambil memelototkan matanya galak.


"Aku istrimu dan berhak tidur disini." Jawab Sofia ngeyel berat seraya kembali menangkau ranjang. Ingin kembali tidur disana.


"Hantikan Sofia!!" bentak Nando membuat Sofia terpaku beku. Cengkeraman tangannya melemah. Berlahan di bangkit, menghadap tepat pada Fernando.


"Siapa kau hingga berani melawanku. Kau hanya hidup dari belas kasihku. Jangan bersikap seolah kau seorang ratu!" sentak Nando keras.


"Maaf." katanya singkat. Ada yang terasa sakit disudut hatinya mendengar perkataan Nando.


"Harusnya aku tau jika aku tidak dibutuhkan disini." katanya kemudian.


"Kembali ke kamarmu dan tidurlah!" Tak ada jawaban. Sofia membungkam rapat mulutnya dan berjalan lambat, seperti menahan beban berat dalam dirinya lalu pergi dari sana. Langkah kaki tk berarah membawanya menuju taman samping rumah. Disana...sang dokter duduk dibangku panjang disamping lampu bulat yang menerangi taman. Merenung. Meresapi setiap kata yang terucap dari bibir suaminya.


"Selamat malam nyonya...Sudah tengah malam, kenapa anda masih diluar? sebentar lagi hujan nyonya." sapa seorang pengawal yang kebetulan memperhatikan sang nyonya muda dari tadi. Mendung memang terlihat sangat pekat menutupi bulan dan gugusan bintang dilangit sana. Kilatan petir juga beberapa kali membelah kelamnya malam.


"Tinggalkan saya pak. Jangan ganggu saya." balas Sofia dengan tatapan kosong.


" Tapi hujan akan segera turun nyonya."


"Biarkan saya sendiri pak." sambungnya lagi. Sang pengawal hanya sanggup mengangguk hormat lalu meninggalkan sang nyonya yang sepersekian menit kemudian basah kuyup dibawah guyuran hujan deras yang membasahi bumi.