
"Bagaimana keadaannya sayang?" wajah Sofia yang awalnya biasa saja kembali memerah karena panggilan itu. Maria bahkan ikut-ikutan tersipu malu kerenanya. Tidak pernah dia mendengar sang tuan memanggil dengan sebutan itu walau pada Emma sekalipun.
"Panasnya sudah turun. Biarkan dia istirahat, mungkin setelah bangun nanti dia akan kembali normal." Sofia mencuci tangannya di wastafel setelah selesai memeriksa Elle yang mulai terlelap dibawah pengaruh obat. Sofia menyimuti tubuhnya lalu mengecup keningnya lama.
"Ayo kita ke kamar." Nando menjeda gerakan Sofia yang akan merebahkan dirinya disamping Elle.
"Aku mau disini menjaga Elle mas." hanya bantahan kecil sebagai alasan tetap disana. Yang sebenarnya Sofia enggan memasuki kamar yang sudah ditempati wanita lain. Hatinya masih terasa sakit saat membayangkan wanita itu sudah tidur diranjangnya dan mengotorinya dengan tubuh seksi namun sangat menjijikkan menurutnya.
"Mas, lepaskan!!" pekik Sofia yang kaget karena tubuhnya sudah melayang keudara, dalam gedongan seorang Fernando yang kekar. Nando memang bukan orang yang sabar menerima sebuah bantahan dan penolakan.
"Maria jaga Elle. Laporkan pada kami jika ada apa-apa." perintah Nando diangguki Maria. Wanita itu bahkan tersenyum lebar melihat kemesraan tuan dan nyonyanya. Dia bergegas menuju tempat tidur Elle dan duduk disampingnya.
"Mas...lepaskan!" Nando tak mempedulikan permintaan Sofia. Dia terus berjalan dan meletakkan tubuh Sofia ke atas ranjang.
"Kenapa? aku suamimu bukan? dan aku sudah cukup sabar menunggu saat ini tiba." sahutnya sambil melepas kaos atasnya, memperlihatkan dada bidangnya yang begitu mempesona. Mata Sofia melebar, meski berulang kali melihat dan bersentuhan langsung dengan tubuh pria dari pasien berbagai gender dan usia tapi kali ini terasa berbeda. Entah kenapa debaran didadanya begitu terasa seperti genderang mau perang. Nafasnya juga menjadi pendek-pendek dan sesak.
"Kau...kau...m...mau apa mas?" tanyanya terbata. Nando memberi isyarat dengan ekor matanya ke arah pintu yang masih sedikit terbuka karena dia memang belum sempat menguncinya. Sofia yang tanggap langsung memfokuskan matanya pada kain motif bunga yang sedikit menyembul disana. Bisa dipastikan itu adalah Clara karena seluruh pelayan disana diawajibkan memakai seragam saat bekerja. Sofia merinding saat merasakan bibir Fernando yang sudah berada di dekat telinganya. Tubuh pria itu juga menindihnya tanpa dia tau kapan mulainya karena terlalu fokus pada bayangan dibalik pintu.
"Ada Clara disana. Aku belum sempat mengunci pintunya, jadi bersikaplah sebagai istri yang baik." bisiknya lirih, namun sanggup membuat bulu kuduk Sofia meremang. Nando mulai mencium lembut bibir ranum Sofia, menelusuri leher jenjangnya dengan kecupan-kecupan yang mula-mula lembut namun berubah penuh gairah. Sentuhan intens tangannya juga sudah mendominasi *********** yang diremas-remas. Sofia melenguh pelan.
"Lepaskan saja, jangan ditahan. Biarkan dia tau kita sedang bercinta." bisik Nando sambil menggigit daun telinganya pelan.
"Aaahhhh..maaass..." lenguh Sofia keras, murni karena perasaan geli dan nafsu yang menjadi satu. Nando makin beringas, pria itu meninggalkan beberapa kissmark dilehernya tanpa disadari oleh Sofia yang makin terlena dalam cumbuan panas sang suami. Dokter cantik itu hanya fokus pada dirinya dan bayangan dibalik pintu. Ekor matanya yang awas bisa menangkap bayangan itu berlalu pergi dari sana bahkan dengan langkah keras dan tergesa. Ada senyum kemenangan di bibir Nando yang dengan segera melepaskan kungkungan dan cumbuannya pada tubuh Sofia. Pria itu melangkah menuju pintu dan menguncinya rapat.
"Rapikan tubuhmu. Jangan bersikap seolah kita pasangan yang saling mencintai dan butuh pelepasan karena aku sama sekali tidak tertarik dengan tubuh kerempengmu.'' Sofia mendengus kesal dan bangkit dari ranjangnya. Apa-apaan ini? dia seolah dipermalukan tanpa kata.
" Hey...apa yang kau lakukan!!" sentak Nando kesal seraya memegang tulang kaki depannya yang sudah ditendang dengan kekuatan penuh oleh Sofia. Pria gagah dan tampan itu bahkan nyaris terjengkang dan mundur beberapa langkah kebelakang untuk menyeimbangkan diri karena kaget dan rasa sakit yang tiba-tiba menderanya.
"Kau pikir aku ini apa tuan Fernando? wanita belian? berulang kali kau mengatakan itu tanpa kubalas sedikitpun. Sekarang dengar....kau juga bukan tipeku karena aku sama sekali, tidak tertarik dengan pria kebulean. Harap kau tau itu." sergah Sofia cepat lalu beranjak ke kamar mandi. Wanita itu menutupnya keras hingga Nando terlonjak kaget.
"Dasar wanita bar-bar!" makinya lalu membanting tubuhnya di sofa, menyalakan televisi dan duduk manis disana.
"Fernando sialaannnn!!" hardik Sofia keras sambil membuka pintu kasar. Nando sama sekali tak bereaksi karenanya. Pria itu bersikap cuek dengan pura-pura sibuk dengan remote tv ditangannya. Sofia yang kesal merebutnya kasar.
"Apa yang kau lakukan padaku!" katanya sambil menyibakkan rambut panjangnya. Disana, beberapa kissmark tercetak jelas dileher jenjangnya. Nando melengos.
"Aku melakukan apa yang seharusnya dilakukan suami istri Sofia. Kau ini sudah dewasa, dokter lagi. Begitu saja pakai bertanya."
"Apa kau bilang?? Hellooo tuan muda...siapa yang tadi bilang aku bukan seleramu?"
"Baiklah kalau itu dirimu."
"Tunggu!" Nando menghentikan langkah Sofia yang akan keluar kamar.
"Apalagi?" balasnya sedingin es.
"Ikuti kemauanku."
"Aku tidak mau!"
"Kau harus mau!"
"terserah kau." Sofia bertambah kesal dengan perkataan Nando. Dia sudah tidak ingin berdebat lagi. Toh dia tidak akan terlalu pusing karena bekas kissmark itu karena bisa menyembunyikannya dibalik hijabnya.
"Berpura-puralah menjadi istri terbaik saat Clara disini."
"Aku tidak punya alasan untuk itu."
"Kau istriku."
"diatas kertas."
"diam Sofia!" Sofia hanya tersenyum mengejek. Ejekan untuk dirinya sendiri yang terlalu berharap bisa memilik hati seorang Fernando.
"Sebenarnya apa hubunganmu dengan wanita itu?"
"Dia mantan pacarku saat kuliah di London."
"hmmmmm."
"Entah siapa yang memberitahunya jika Emma sudah tiada. Dia datang untuk kembali padaku. Dan terus terang aku tidak bisa menolaknya. Dia cinta pertamaku." Ada rasa sakit yang menyerang dada Sofia. Bagaimana bisa Nando mengatakan itu dengan sangat enteng padanya, tanpa memperhatikan perasaanya.
"Dia cantik, menarik, master dan kaya raya. Kembali saja padanya jika kau mau. Aku akan mundur dengan suka rela jika kau minta." Tak ada nada gentar disana. Sofia tidak ingin terlihat lemah. Kalaupun mundur, dia ingin mundur secara terhormat. Dari awal dia tau, jalan mempertahankan pernikahannya akan sangat sulit. Satu yang dia tau...Nando bersikap mesra padanya hanya untuk membuat Clara cemburu.
"Elle membutuhkamu dan aku tidak bisa menolak kehadiran Clara. Kuharap kau tidak keberatan jika aku....."
"Menikah lagi? maaf tuan Fernando, aku tidak suka dimadu. Ceraikan saja aku...tapi sebelum itu, aku akan membuat perhitungan dengan wanita itu!"