Dear Husband

Dear Husband
Suapan pertama



Jemari Sofia sedikit bergetar saat suapan pertamanya disambut Nando. Pria itu awalnya mengunyah sangat hati-hati karena khawatir pada duri ikannya walau Sofia sudah memastikan nasi yang dia suapkan bebas duri, namun sikap waspada Nando memang patut diacungi jempol. Suaminya itu tidak bisa serta merta mempercayai orang lain meski berstatus sebagai pasangannya.


Sofia yang awalnya hanya akan menyuap beberapa kali saja menjadi terhipotis dan lupa niat awalnya. Suapan itu baru berhenti saat nasi dalam box itu habis tak bersisa. Tatapan mata Nando yang mematri wajahnya seakan membuatnya lupa semua hal. Wajah itu terlihat bgitu sempurna, tubuh itu terlihat begitu istimewa dalam balutan kemeja hitam dan celana jeans hitamnya. Sangat kontras dengan warna kulitnya.


"eehhmmm...lanjutkan makanmu!" ujar Nando sembari berdehem begitu makannya usai. Sang tuan muda meraih tissun dan mengelap bibirnya. Di juga mengambil minuman dingin dan langsung meminumnya,sedang Sofia? meski sempat sedikit grogi karena ketahuan memperhatikan Nando tadi..wanita muda itu memilih melanjutkan makannya juga tanpa mencuci tangan bekas menyuapi Nando. Hal yang tidak biasanya dia lakukan. Sebagai seorang dokter, Sofia cenderung berhati-hati dan menjaga kesehatannya dengan sering mencuci tangan.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Nando memecah kebisuan usai Sofia makan dan duduk manis disampingnya. Ada merk minuman teh terkenal ditangannya.


"Seperti yang kau lihat." jawab Sofia pendek. Matanya sesekali memindai Elle yang masih tertidur pulas.


"Istirahatlah."


"Aku belum mengantuk."


"Setidaknya baringkan tubuhmu."


"Aku baru makan mas, perutku masih sesak."


"Tapi kau lelah." Sofia menarik nafas panjang. Tak ada gunanya melawan ucapan suaminya. Pria itu selalu mampu menekan lawan bicaranya walau dengan kalimat-kalimat pendek seperlunya. Sofia baru akan beranjak saat matanya menangkap rona lelah diwajah Nando. Pria itu terlihat sangat mengantuk dengan mata merahnya.


"Sebaiknya mas Nando saja yang tidur. Aku tidak biasa tidur setelah makan." Tanpa kata, Nando meraih tangan Sofia hingga terduduk disampingnya. Hal berikutnya membuat mata Sofia membelalak kaget, sang tuan muda meletakkan kepala pada pangkuannya. Sama seperti Nando yang enggan berdebat, Sofia juga enggan bertanya lagi. Nando terlihat begitu capek hingga dia merasa tak tega mengeluarkan pertanyaan. Yang Sofia lakukan hanya mengendurkan otot dan duduk lebih rileks. Tanpa sadar, naluri keibuan dalam dirinya bekerja dengan mengangkat tangannya berlahan membelai kepala suaminya.


Nando mengerjabkan matanya, entah berapa lama dia tertidur pada pangkuan Sofia yang terasa nyaman.Tangan wanitanya masih berada dipucuk kepalanya sekarang. Saat Nando menengok ke atas, baru dia sadari Sofia tertidur dalam posisi duduk memangkunya. Berlahan Nando menyingkirkan tangan lembut itu lalu duduk dengan sangat hati-hati. Sedikit meregangkan otot tubuhnya, pria tampan itu mengangkat tubuh istrinya ke ranjang khusus yang disediakan rumah sakitnya untuk keluarga disudut ruangan. Nando berhenti sejenak saat merasakan Sofia mengeliat, namun dokter cantik itu lalu tertidur lagi hingga Nando menyelimutinya.


Dipandanginya wajah Sofia yang tertidur pulas. Tangan kekarnya menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya. Tak ada kecantikan sempurna seperti milik Emma disana. Wanita ini terlalu biasa saja untuknya, bahkan bisa dibilang tidak pantas untuk mendampinginya. Nando memang bentukan yang terlalu sempurna untuk wanita desa yang hanya punya gelar dokter itu. Tapi entah kenapa dia merasa ada yang hilang dari hidupnya saat wanita sederhana itu tak ada dirumah walau hanya beberapa hari. Bukan hanya dirinya, tapi rumah besarnya juga terlihat sepi tanpa kehidupan. Para pelayan yang biasanya ceria dan bercanda tawa cenderung diam seolah menyembunyikan kesedihannya.


Lama menatap wajah polos dihadapannya, sang tuan muda mendesah entah untuk apa. Wajah itu terlihat sangat lelah. Nando tau Sofia tidak makan dan istirahat dengan benar saat berada di perbatasan. Tanpa Sofia sadari, Nando selalu memperhatikan gerak-geriknya melalui orang kepercayaannya. Kantung mata yang membekas dibawah kelopak mata Sofia menjadi alibi tersendiri atas laporan itu. Kulit yang dulunya kuning langsat juga serta merta menjadi sawo matang dalam beberapa hari disana.


Nando bergerak melepas sepatunya, lalu beringsut naik ditempat tidur yang tak besar itu. Ada kehangatan yang menelusup direlung hatinya saat berada seranjang dengan wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Tanpa ragu, Nando melingkarkan lengannya pada tubuh ramping disampingnya itu, menarik selimut, lalu memejamkan matanya.


Pagi menyapa makhluk mayapada sesuai tugasnya.Suara ketukan dipintu bahkan tidak dihiraukan siapapun disana hingga suara kecil yang terdengar terkejut membangunkan sepasang insan yang madih tertidur pulas dalam pelukan.


"iya El, papa disini." jawab Nando dengan suara seraknya.


"Ada yang mengetuk pintu."


"hmmmm. Masuk!" pintu terbuka saat Nando sudah meneriakkan kata masuk. Semua tenaga medis disana tau siapa penghuni kamar VVIP. Mereka tidak akan berani masuk tanpa seijin sang empunya kamar.


Seorang perawat masuk dengan senyum ramah.Tak ada balasan dari Nando. Pria itu menatap dingin padanya hingga perawat tadi mendekati ranjang Elle da memastikan pasien tak kurang suatu apa.


" Kapan perbanku dibuka?"


"Saya kurang tau nona. Mungkin nanti saat dokter anda berkunjung." jawab sang perawat sopan.


"Tapi aku ingin segera dilepas. Rasanya tidak nyaman."


" Elle, tunggu dokter beberapa jam lagi ya." interupsi Nando. Dia tau Elle akan tetap merengek dan membuat perawat wanita di depannya kebingungan. Sedang Sofia? istrinya itu sudah masuk ke kamar mandi beberapa menit lalu. Perawat tadi juga sudah pamit keluar. Mencampuri urusan bapak anak itu hanya akan membuatnya terjebak dalam labirin tak berujung batas.


" Tapi pa...."


"Apa kau lupa pesan mama Sofia padamu? dia ingin kau jadi anak penurut agar lekas sembuh El."


"Mama saja tidak meneleponku dari kemarin. Apa mama masih marah? atau sudah lupa padaku?apa mama sudah tak sayag aku pa?" keluh Elle dengan nada sedihnya. Nando mengelus pucuk kepalanya.


"Siapa bilang mama tidak kangen kamu?" baru saja akan menjawab pertanyaan Elle, Sofia sudah memotong percakapan mereka. Dokter cantik itu mendekati mereka dengan wajah segar. Kemeja warna peach dan celana bahannya membuat tampilannya terlihat fresh. Sejenak Nando terpana. Wajah itu cantik alami, tetap cantik walau tanpa sentuhan make up sekalipun. Wajah yang berbeda dari Emma yang nyaris tak bisa lepas dari lipstik tebalnya hingga Nandopun tak begitu tau wajah aslinya.


"Mamaaaaaaa!!!" pekik Elle. Tangannya berusaha menggapai keudara. Sofia refleks menangkapnya lalu memeluk gadis kecilnya dengan perasaan mengharu biru.


"Sudah ya sayang, sekarang mama bantu Elle mandi ya. Sebentar lagi pasti om Edward datang. Mama tidak suka anak gadis mama bau asem. Ehh...tapi biar papa dulu yang mandi ya sayang?"