Dear Husband

Dear Husband
Rafael



"Haruskah kita menyerahkannya ke polisi tuan muda?" Jack menatap Fernando yang berdiri gemetar dengan mata mengembun. Sulit dipercaya, pria kejam sepertinya mampu menangis haru. Anda Jack tidak melihatnya langsung, dia tak akan percaya itu. Tapi lihatlah pewaris tahta kerajaan bisnis Hutama itu masih berulang kali bertahmid sambil meneteskan air mata dengan tubuh bergetar. Seperti apa rupa istrinya hingga bisa membuat singa ganas ini menjadi kucing lucu yang rupawan.


"Kembalikan dia pada keluarganya. Dia sudah cukup menerima hukuman atas kesalahannya." tegas Nando sebelum berlalu pergi. Alex menyerahkan selemar cek dengan nominal besar ke tangan Jack yang terus mengucapkan terimakasih. Fernando adalah wujud iblis baik hati, dan dia sangat tau itu.


Alex mengambil alih kemudi. Melihat keadaan Nando yang tidak stabil membuatnya memaksa sang ipar untuk duduk manis saja disampingnya. Mereka melanjutkan perjalanan ke rumah sakit tanpa bersuara. Dia tau Nando masih larut kedalam alam pikirannya sendiri. Berulang kali Bella menghubunginya dan mengirimkan pesan menanyakan keberadaanya, namun belum sempat dibalas oleh sang sekrearis.


Langkah panjang Fernando menuju ICU sempat menarik perhatian beberapa pengunjung rumah sakit. Betapa wajah tampan itu terlihat amat mempesona dengan senyum merekah dibibirnya. Meski dengan penampilan yang acak-acakan dan wajah kusam, tapi pesona ketampanannya tetap terasa.


"Sam, bagaimana keadaan istri dan anakku." tanya Nando saat tanpa sengaja dia berpapasan dengan dokter Sam yang sudah akan pulang usai bertugas. Dokter paruh baya itu menghentikan langkahnya.


"Dokter Sofia ehh..maksud saya nyonya muda belum sadar tuan." Senyum Nando meredup. Dia berpikir Sofia sudah sadar saat dia datang, tapi ternyata...istrinya masih terbaring koma disana. Diruang ICU buatannya, milik khusus keluarganya.


"Apa istriku akan selamat Sam?" suara bergetar itu cukup membuat tubuh dokter Sam bergetar pula. Menjelaskan kejadian sebenarnya pada sang tuan muda bukan hal yang mudah. Semua orang tau betapa arogannya Fernando. Dokter Sam melirik sekretaris Alex sekilas. Sang sekretaris menganggukkan kepalanya.


"Ikut saya." ujarnya lalu membuka pintu ICU dimana Sofia dirawat. Disana, Bella berdiri disebelah box bayi yang tampaknya bukan pusat perhatian sang tuan muda. Fernando lebih memperhatikan istrinya. Berlahan dia mendekati tubuh sang istri dan meraih tangannya, mengenggamnya erat, seakan tak ingin lepas.


"Kami sudah berusaha memprioritaskan nyonya, tapi trauma akibat kecelakaan itu menyebabkan beberapa syarafnya tidak bisa bekerja secara normal." jelas Sam membuka penjelasan.


"Maksudmu Sofia akan cacat?" buru Nando dengan wajah amat sangat kesal.


"Tidak seburuk itu tuan muda. Nyonya hanya perlu waktu untuk sadar kembali." balas Sam lirih.


"Berapa lama?"


"Bisa satu sampai dua hari, bisa juga seminggu hingga sebulan. Tergantung keadaan dan kemauannya untuk sembuh. Kami sengaja menaruh putra anda disana agar bisa merangsang kepekaan syaraf ibunya."


"Saya cuma dokter tuan muda, bukan Tuhan. Tapi saya janji akan melakukan yang terbaik untuk 0nyonya.," jawabnya pelan. Tentu saja dia harus berhenti berdebat jika ingin selamat.


"Baik, lakukan yang terbaik untuk istriku Sam. Kumohon."


"Kami akan berusaha tuan. Saya permisi." dan dokter Sam bergegas keluar, membiarkan tiga orang itu tertinggal disana. Mungkin bagi rumah sakit lain, penunggu pasien tidak boleh masuk ke ruang ICU. Tapi keluarga Hutama adalah pengecualian akan peraturan itu.


"Kau tak ingin melihat putramu kak?" Bella segera mengangkat bayi laki-laki berkulit putih nan montok itu mendekat pada Nando yang terus berada di sisi Sofia.


"Lihat, dia sangat tampan. Mirip dirimu." Nando menerima bayi itu dengan tangan bergetar. Ada rasa enggan dihatinya menggendong bayinya karena teringat istrinya meregang nyawa demi dia. Tapi setelah melihat kedua bola mata kecoklatannya, membuat darah Fernando tersirap. Iris mata milik Sofia. Ya, bayi itu menuruni mata sang ibu walau selebihnya mirip dirinya seperti harapan Sofia. Nando menciuminya berulang kali, melafazkan adzan ditelinganya dan memangkunya penuh keharuan. Akhirnya dia benar-benar menjadi seorang ayah. Dia memangku anak kandungnya, buah cintanya dengan istri tercintanya, Sofia.


"Apa kau sudah memberi nama bayimu kak?" Alex mengingatkannya akan tugas seorang ayah. Memberi nama bagi bayinya. Nando terdiam.


"Jibril...namanya Rafael jibril putra Hutama. Nak, semoga kau pembawa berita kesembuhan bagi momymu ya." Dan Nando kembali menitikan air mata haru karenanya.


"Apa kau memerlukan baby sitter untuk merawat baby Rafa kak?"


"Tidak Bel, kau lupa kalau aku juga pernah menjadi seorang ayah dalam tanda petik? siapkan saja semua kebutuhannya, aku yang akan merawat putraku hingga momynya sadar nanti." putus Nando cepat. Putranya, hanya dia dan keluarganya yang boleh menyentuhnya.


"Lex, jangan lupa beritau mama soal kelahiran cucunya."


"Baik tuan muda."