
Pagi yang cerah saat pasangan Teguh hutama dan Fransisca memasuki rumah Fernando yang sudah terbuka lebar. Harusnya Nando maupun Sofia sudah datang ke kediaman mereka untuk menitipkan Rafa seperti biasanya. Mereka baru akan mengambilnya setelah Sofia atau suaminya pulang bekerja. Untung saja kediaman Hutama dekat dan searah dengan kantor maupun kampus Sofia hingga mereka tidak keberatan karenanya.
"Selamat pagi tuan, nyonya.." sapa pembantu rumah mereka saat tau siapa yang datang. Fransisca dan Teguh menganggu membalas salam mereka.
"Dimana putra dan menantuku?" tanya Fransisca langsung. Dia mungkin datang terlalu pagi hingga rumah besar itu masih sepi.
"Mereka bersama tuan kecil di taman samping nyonya."
"Taman?" tanpa menunggu jawaban asisten rumah tangga itu pasangan yang masih terlihat lebih muda dari usianya itu menuju pintu penghubung.
Ternyata benar, Nando sedang duduk manis memangku putranya yang disuapi sang istri dengan telaten. Walau masih berusia satu tahun lewat, tubuh Rafa memang tergolong gemuk dan sehat sehingga telihat seperti bayi dua tahunan. Si kecil juga sangat aktif bergerak, tertawa dan menendang dalam pelukan dadynya. Berulang kali Nando mengecup pipi gembulnya, juga nekat mencuri ciuman nakal di pipi istrinya. Sungguh keluarga bahagia dan romantis.
"Lihat pa, anak kita begitu bahagia bersama keluarga kecilnya." bisik Sisca dari balik pintu kaca, tempat mereka mengintip aktifitas anak-anaknya. Teguh tersenyum, kali ini dia harus banyak bersyukur karena Nando sudah menemukan kebahagiaannya. Dia yang dulu merasa menjadi ayah yang gagal karena Nando yang mempermalukan keluarga mereka karena nekat menikahi Emma sudah kembali bisa menegakkan muka.
"Rafa cucu laki-laki pertama kita ma, papa sudah sangat lega dengan kehadirannya. Setidaknya kita sudah bisa pensiun dan menikmati hari tua dengan tenang tanpa harus memikirkan pewaris keluarga kita. Apalagi karir Nando sedang bagus-bagusnya. Perusahaan Bintang Hutama benar-benar bersinar dibawah kendalinya."
"Kita akan punya banyak pewaris, pa." ucap Sisca penuh semangat.
"Maksud mama apa? bukannya cucu kita memang sudah banyak? Putri Karin dua, Aling, Elle, Rafa..."
"Kita baru punya tiga cucu saja, pa. Yang lainkan cucu keponakan dan titipan saja. Soal Aling aku sama sekali tak keberatan karena Bella sudah kuanggap putriku. Tapi Elle?? aku masih harus banyak berbesar hati menerimanya!" ketus Sisca sambil merengut marah.
"Mama lupa sudah janji dengan Nando juga Sofia? kita akan tetap menganggap mereka sama." Jika Teguh bisa bersikap bijak, lain lagi dengan Sisca. Walau tetap bisa bersikap baik pada Elle, tapi Teguh tau semua hanya separuh hati saja. Maka itu dia lebih banyak memperhatikan Elle, takut gadis malang itu merasa dikucilkan meski itu sama sekali tak terjadi. Elle kecil yang pengertian itu bisa bertindak dewasa, penurut dan manis hingga membuat siapapun iba padanya, termasuk Fransisca meski istrinya itu tak mau mengakuinya. Teguh tau, jauh didalam lubuk hati Fransisca..wanita itu adalah tipe wanita penyayang dan gampang iba.
"Iya aku tau. Tapi mama akan membuat mereka memberikan banyak cucu untuk kita. Sayangkan pa, rumah sebesar ini, ekonomi mapan dan kecukupan jika hanya punya satu anak saja? anak itu kan pintu rejeki, tabungan di akhirat juga."
"Ya tergantung mereka mau atau tidak ma. Itu hak mereka." sahut Teguh diplomatis.
"Sudah...ayo kesana!" Sisca menarik tangan suaminya agar keluar dari balik pintu.
"Mama..papa." pekik Sofia yang kebetulan berbalik dan melihat pintu. Nando dan dirinya bergegas bangkit menghampiri orang tuanya.
"Kok mama sama papa kesini?" tanya Nando heran sambil mengajak orang tuanya masuk.
"Bella sedang libur, jadi kami kesini. Mumpung Aling dan Bella ada yang menemani. Sini..berikan Rafa pada kami. Kalian siap-siap saja." Nando menyerahkan Rafa pada oma opanya. Si kecil memang sangat akrab dengan mereka hingga tak pakai drama menangis saat ditinggal orang tuanya.
"Bagaimana kuliahmu, Fi?" Teguh bertanya ramah pada menantunya. Satu-satunya menantu perempuan keluarga mereka. Menantu kesayangan Sisca.
"Ya tidak usah terlalu dipaksakan. Kamu kuliah bukan karena bea siswa lagi. Swadaya sendiri kan? santai saja. Papa dengar ada yang sanggup menyekolahkan kamu di universitas manapun sampai kapanpun." Sindir Teguh Hutama tepat sasaran.
"Aku masih sanggup, pa." potong Nando cepat. Dia tau papanya sedang membicarakan dirinya.
"Tidak ada yang memaksa saya, pa. Mas Nando juga selalu mendukung keputusan saya. Soal ingin lulus cepat itu murni kemauan saya biar bisa punya banyak waktu untuk mas Nando dan Rafa." ucap Sofia lembut sambil mengusap lengan suami tampannya.
"Papa dengar sendirikan?" balas Nando tersenyum penuh kemenangan. Sungguh rasa bangga menyelimuti dirinya saat mendengar kata-kata Sofia. Istrinya itu selalu bisa membuatnya berbunga.
"Ya sudah, cepatlah berangkat sana. Kalian ini benar-benar susah dipisahkan." timpal Teguh agak dongkol karena tak berhasil membuat pasangan kompak itu keki.
"Memang harus begitu. Lagi pula sudah waktunya Rafa punya adik lagi, Ndo." ucaP Fransisca memperingatkan.
"Apa itu tidak terlalu cepat, ma?" protes Nando. Punya Rafa saja dia seperti kehilangan moment bersama si kecil, apalagi jika punya adik lagi. Sofia juga masih kuliah dan jika sesuai prediksinya baru usai tahun depan. Apa itu tidak merepotkan?
"Kaliankan sudah lebih dari mapan? bisa bayar babysitter sepuluh orang sekaligus. Manfaatkan dong harta yang dititipan Tuhan sama kamu. Kalau tidak sanggup mengurus, serahkan saja pada kami. Nenek dan kakek peot ini juga masih ada sedikit titipan dari Tuhan untuk mengurus anak kalian." ucap Sisca santai sambil mengajak bercanda cucunya.
"Mamakan tau Sofia tidak suka pakai jasa babysitter?" balas Nando makin ngotot.
"Mas...." panggil Sofia pelan. Suami arogannya itu pasti akan makin ngotot jika tak dilerai.
"Mama benar kok. Rafa harus ada temanny biar rumah ini ramai." ucapnya lembut.
"Sayang tapi kamu...."
"Kalau aku sih terserah Tuhan mau menitipkan berapa mas. Tinggal kamunya mau atau tidak." Tawa Fransisca dan Teguh pecah melihat raut kebingungan diwajah putranya. Wanita yang dia bela malah bersikap sebaliknya.
"Kalau dia tidak mau ya tidak apa-apa Fi. Kamu malah bebas mau dinas sampai malam sekalipun. Orang dia yang tidak mau." goda Teguh menahan tawanya.
"Papa bilang apa?? Tentu saja aku mau. Sayang ayo!!" Nando menarik paksa tangan sofia.
"Mas ..mau kemana?"
"ke kamar. Bikin adik untuk Rafa."