Dear Husband

Dear Husband
Nekat bertemu



Hari demi hari berlalu tak terasa seminggu sudah berlalu, Sofia menjalaninya dalam keheningan. Tidak ada lagi tawa Elle saat bercanda atau bermain dengannya, menguntitnya kesana kemari, juga wajah lucunya saat merajuk. Bahkan dia selalu terngiang-ngiang dengan suara Elle yang memanggilnya dalam halusinasinya sendiri. Lama Sofia termangu diranjang Elle. Tempat dimana dia biasa membacakannya cerita atau sekedar bermanja. Elle sedang tidak ada disana.


Berlahan dia memasuki kamarnya sendiri. Rasa itu...hampa itu makin terasa menusuk jantungnya. Tak ada lagi Fernando yang selalu menebarkan aroma maskulin yang biasanya tercium dari wangi tubuhnya, wajah datarnya saat pulang kerja, hempasan tubuhnya diatas sofa walau sekedar melepas lelah hingga tertidur sesaat disana. Bukannya baru kemarin pria itu ingin sarapan disiapkan sesuai menu yang dipilihnya. Dia sudah mencoba menyesuaikan lidahnya yang biasa dengan selera Eropa menjadi seperti orang biasa seperti Sofia yang jika tak makan nasi maka tak ada kata kenyang.


Sebuah notifikasi terdengar dari hpnya. Bergegas dia meraih benda pipih itu, berharap Fernando yang mengirimkan pesan untuknya. Tapi kembali dia menelan kecewa. Hanya sebuah pesan dari UGD agar dia datang lebih pagi esok. Sofia merebahkan tubuhnya diranjang. Entah kenapa hatinya begitu gundah. Apa karena dia belum sempat minta maaf pada suaminya karena penolakan keras yang dia lakukan kemarin? Seharusnya dia bersikap dewasa saat itu. Harusnya dia tidak membentak Fernando yang berkata lirih saat itu, harusnya pula dia tidak menginjak harga diri suaminya walau hanya di depan Alex. Harusnya.....aaahh!! lelah berspekulasi, dia memilih turun kebawah. Sepertinya membuat minuman hangat bisa sedikit menenangkan pikirannya.


"Baik tuan muda..akan saya laksanakan. Tuan muda tidak usah khawatir soal itu." suara bibi Mimi memecah keheningan dapur. Sofia yang berjalan pelan kearahnya sempat tak terasa kehadiranya hingga netra wanita paruh baya itu menangkap siluetnya di dinding dapur. Dia buru-buru mengakhiri panggilannya dan menyapa Sofia.


"Selamat siang nyonya. Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Tidak bik, aku akan membuat teh sendiri. Apa tadi tuan telepon?" tanyanya ingin tau.


"Iya nyonya."


"apa yang tuan katakan?"


"Tuan hanya memerintahkan agar saya menghubungi tuan Alex saat kekurangan apapun."


"Apa tuan tidak menanyakan saya?" Bibi Mimi mengerutkan keningnya heran.


"Tidak. Apa tuan tidak menghubungi anda?" Tak ada jawaban dari bibir Sofia.


"Dimana Maria?"


"Tadi tuan menelepon dia agar segera ke rumah nyonya Bella. Pembantu nyonya Bella sedikit kurang sehat dan dia membutuhkan bantuan Maria." Ada yang kembali terasa pedih dalam rongga dadanya. Semua orang dihubungi Fernando kecuali dirinya. Dia seolah diacuhkan dan dianggap tidak ada. Semua yang dekat dengannya juga dijauhkan darinya dengan berbagai alasan. Sofia bukan wanita bodoh yang bisa dibohongi begitu saja. Dia juga tipe perasa yang sangat peka pada tiap perubahan disekelilingnya.


Meski tak ada perubahan berarti dirumah besar itu, tapi dia benar-benar merasa asing. Semua pelayan dan pengawal memang masih sangat menghormatinya, tak terkecuali sekretaris Alex yang tetap bersikap profesional dan melarangnya bertemu Elle kecuali hari minggu sesuai pesan Fernando. Sialnya minggu ini adalah jadwalnya piket pagi hingga sore. Perjalanan dari rumah sakit hingga kediaman Bella membutuhkan satu jam perjalanan jika tak terjebak macet. Alex juga membatas kunjungannya pada Elle hanya sampai jam 6 sore dan Elle harus istirahat selepas maghrib. Dalam hati Sofia harus kembali mengakui jika trik Fernando menjaukannya dari Elle sedikit demi sedikit tergolong brilian.


Paginya, Sofia tetap berangkat ke rumah sakit sesuai jadwal yang ditentukan. Satu jam lebih pagi dari pada waktu normalnya. Tidak masalah baginya. Toh dia juga galau ditempat yang sudah seperti asing baginya. Jika tidak ingat statusnya sebagai nyonya Fernando, mungkin dia akan memilih pergi saja dari sana.


Hari yang melelahkan, setidaknya itu yang dijalani Sofia sepanjang hari ini. Ada saja pasien ICU yang datang karena banyak sebab. Jangankan istiahat, makan siang saja dia tidak sempat. Hampir setengah lima saat dia keluar dari ruang kerjanya dengan berlari kecil karena ojek online yang dia pesan sudah menunggu diluar. Ini satu-satunya jalan yang bisa dia pilih. Menggunakan mobil hanya akan memakan waktu yang lama karena kemacetan pada jam-jam seperti sekarang walau bukan hari kerja.


Dua kali menekan bel sudah cukup membuat dua satpam yang berjaga membuka pintu gerbang. Keduanya serempak membungkuk hormat saat tau siapa yang datang. Nyonya muda Hutama, istri penerus kejayaan kerajaan bisnis Hutama.


"Apa nyonya Bella ada?" tanya Sofia tanpa meninggalkan kesan ramah. Salah satu dari keduanya segera mengantarkan Sofia masuk kediaman Hutama.


"Asalamulaiakum." Bella yang sedang bermain dengan Ling-ling dan Elle menghentikan kegiatannya. Elle yang melihat mama tersayangnya segera berlari menghambur dalam pelukan Sofia.


"Mamaaaaaaa...." teriaknya keras seraya memeluk Sofia erat. Sofia menciumi pipi dan kepala gadis cilik itu penuh kasih sayang. Air mata keduanya tumpah.


"Mama, jangan pergi lagi." isak Elle pilu. Sofia yang tak sanggup menjawab hanya menganggukkan kepala dengan penuh keharuan.


"Ell baik-baik saja kan nak?"


"iya mama. Kapan kau mengajakku pulang?"


"Nanti setelah papa pulang El." jawab suara di ambang pintu. Semua menoleh kesana.


"Uncle, kapan papa pulang?" Alex mendekati Elle dan memegang bahunya.


"Saya kurang tau El, bersabarlah hingga papa sendiri yang menjemputmu kemari." nasehat Alex lembut. Sifat yang sangat bertolak belakang pada saat dia bertugas menjadi sekretaris Nando. Dia pria yang hangat saat dirumah. Ling-ling dan Bella menyalaminya lalu sedikit menjauh darinya.


"Tapi aku mamanya, dan aku datang untuk menjemputnya." sergah Sofia dengan nada bergetar. Sungguh, kerinduan pada diri Elle membuatnya lepas kontrol. Alex menatapnya tajam.


"Kak, baca ini." Alex menyodorkan selembar kertas pada Sofia. Surat adopsi. Disana dituliskan jika Nando sudah mengadopsi Elle hingga semua perwalian jatuh ke tangan Fernando.


"Harap kakak mengerti itu." Tanpa disuruhpun Sofia tau jika Alex mengkode dirinya untuk tidak membuka jati diri Elle. Sofia juga bukan orang gila yang sudah tidak bisa berpikir jernih dengan memperluas masalah ini. Keinginannya adalah bertemu Ell, bukan melukai gadis kecil itu.


"Baik, bisa tinggalkan kami sendiri?"


"Tentu saja, waktumu hingga jam 6 sore nanti kak. Masih ada satu jam untuk berbincang dengan Ell. Nikmati waktumu. Permisi." Alex segera menggiring Bella dan Aling masuk keruangan lain dirumah itu.