Dear Husband

Dear Husband
Kamar mandi



Sofia terbangun saat sayup-sayup mendengar perakapan antara ayahnya dengan seseorang.Sejenak dia membuka mata dan mengumpulkan segenap kesadarannya.Bukanya tadi dia dalam perjalanan pulang?Berapa lama dia teridur hingga tidak sadar jika sudah sampai dirumah?lalu kenapa dia tidak dibangunkan?eiitttss...tunggu,siapa yang membawanya hingga sampai ke kamar mungil ini?Suara percakapan itu terdengar lagi,bahkan lebih intens.Mereka berada tepat di bawah jendela kamar Sofia yang bersebelahan dengan kebun sayur orang tuanya.Gadis ayu itu merengangkan otot tubuhnya yang terasa letih lalu membalikkan tubuhnya kesamping,meraih jendela dan membukanya.


Mata Sofia membulat sempurna saat mata coklatnya bertemu dengan manik biru ocean Fernando yang secara tak sengaja juga menatapnya karena menyadari pintu jendela yang terbuka.Disana,pria tampan rupawan dengan postur sempurna itu sedang membantu ayahnya memanen sawi untuk dijual esok hari tanpa rasa canggung sedikitpun.Pakaian casual berupa celana pendek dan kaos putihnya membuat sosok itu terlihat begitu mencolok dan.....sempurna.


Buru-buru Sofia membuang pandanganya kearah lain.Bertatapan terlalu lama dengan Fernando hanya akan membuat dia sakit jantung.Sofia bergegas meraih handuk dan mencari baju ganti lalu keluar kamar menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur.Dia hanya anak dari keluarga sederhana yang tidak punya kamar mandi pribadi ditiap kamarnya.Jadilah kamar mandi dirumahnya dipakai berjamaah.Tapi inilah yang membuat dia selalu kangen rumah.


"Sof,sini bantu ibu dulu." kata Lastri,ibunya seraya mengulurkan semangkuk besar sayur lodeh nangka muda dan kacang panjang yang berbau harum dan mengugah selera.Sofia menerimanya lalu meletakkannya dimeja makan yang sudah tertata rapi ala orang kampung.Meja makan sederhana dengan peralatan seadanya.


"Bikinkan minum untuk suamimu dulu Sof,ibu tidak tau apa yang dia mau.Setelahnya baru kamu mandi.Kasihan nak Nando,dari tadi membantu ayahmu dikebun.Tuan muda kaya raya,rendah hati dan rajin seperti dia hanya beberapa saja Sof,kamu beruntung bisa menikah dengannya."


"Ibu,aku dan tuan Fernando..."


"kenapa kau memanggilnya tuan?dia kan suamimu.Jangam bersikap seolah kau bawahannya.Atau nak Nando yang menyuruhmu?"


"Bukan saya bu,Sofia sudah saya ingatkan berulang kali agar memanggil saya dengan benar,tapi putri ibu ini benar-benar keras kepala." tiba-tiba suara bariton Nando menginterupsi percakapan ibu dan anak itu.Sofia berjengkit kaget saat tiba-tiba tangan kekar Fernando meraih pinggangnya dan menarik tubunya mendekat.


"iya kan sayang?" tanyannya lirih,namun dengan mata tajam penuh intimidasi.Ingin rasanya Sofia berteriak dan berkata tidak.Namun saat matanya menatap mata teduh ayah dan ibunya yang tersenyum bahagia melihat mereka,hatinya melemah.Sofia hanya menganggukkan kepalanya.


"i...iya.." jawab Sofia gugup.


"apa?" tanya Fernando penuh penekanan.Mata Sofia mengerjab bingung.Apa maksud Fernando sebenarnya?Tapi sesaat kemudian dia menjadi paham tentang apa yang diinginkannya saat tangan kekar itu kembali menekan tubuhnya.


"iya...hmmm...mas Nando." ucap Sofia lalu menundukkan kepalanya.Hampir saja dia terjatuh karena lututnya menjadi lemas saat Fernando mencium pelipisnya lembut di depan kedua orang tuanya.Wajah Sofia memerah,berbanding terbalik dengan Nando yang tetap tenang.Ayahnya berdehem,membuat keduanya menjadi rikuh.


"Ayah kebelakang dulu ya,memberi makan ternak kita sebentar.Kalian bersih-bersih saja dulu,nanti ayah menyusul." sela Arif memecah kecanggungan.Pria paru baya itu tersenyum,melewati anak dan menantunya.


"Aku mandi dulu.Bikinkan aku kopi hitam." kata Nando sambil meraih handuk dibahu Sofia.


"Apa?kau ingin mandi berdua sayang?" tanya Nando tak berdosa.Lastri langsung tertawa kecil mendengar menantu tampannya menggoda anak gadisnya.Ingatan wanita itu seperti terlempar ke masa lalu saat dia dan Arif suaminya masih pengantin baru.Sofia melotot tajam pada Nando yang memasang wajah dingin ke arahnya.


"Aku buatkan kopi saja." putus Sofia geram.Tanpa diperintah Sofia segera menuju meja dapur dan membuatkan kopi Nando.Pria itu tersenyum smirk lalu masuk ke kamar mandi.


"Dasar mesum." umpat Sofia frustasi.Niat awalnya ingin bebas dari pria aneh itu malah jadi bumerang karena orang tuanya terlihat sangat menyukai Nando.Dia juga seperti tidak punya kesempatan untuk bicara langsung pada orang tuanya tentang perasaannya dan apa yang terjadi sesungguhnya pada hidupnya yang rumit sekarang.


"Sayang,ambilkan baju gantiku ya.Maaf aku lupa membawa tadi." teriak Nando dari dalam kamar mandi.Sofia makin geram,tapi mau tidak mau melangkahkan kakinya ke kamarnya karena tatapan mata ibunya seolah mengintimidasinya juga.Dia tau ibunya itu tipe istri sholehah yang akan selalu mengarahkan dirinya taat pada suami.


"Dasar anak manja.Memangnya siapa dia berani memerintahku?Badan segede gajah juga mandipun minta dilayani." gerutu Sofia makin kesal.Dia membuka koper Nando lalu mencarikan pakaian ganti untuknya.Tatapan matanya nyasar ke tumpukan paling sudut,****** *****.Hampir saja dia menarik tangannya,urung mengambil benda mengerikan itu kalau tak ingat watak Fernando yang suka mencari gara-gara dan tukang perintah seenak perutnya.Sedikit bergetar,Sofia meraihnya lalu cepat-cepat menyelipkannya di dalam kaos biru polos dalam genggamannya.


"Sayang lama sekali." teriak Nando lagi.Sofia bergegas menghampiri kamar mandi,mengetuk pintu kasar karena bertambah kesal.Nando membukanya.


"Ini bajumu,ambil." ulur Sofia dari luar,tapi Nando malah menghilang dibalik pintu.


"Masuklah kemari." balas Nando cuek.Kembali rasa dongkol menyelimuti Sofia.Andai sang ibu tidak ada disitu,pasti sudah dilemparnya pakaian itu kedalam.Mau pria itu berpakaian atau telanjang itu bukan urusannya.


Menarik nafas panjang,dia nekat masuk.Meski dia gadis lugu,tapi dia seorang dokter.Sudah biasa baginya melihat tubuh laki-laki mulai dari yang berpakaian hingga yang telanjang bulat.Kalau saat ini dia melihat tubuh Fernando,apa yang harus di takutkan?Sofia membuang rasa tak karuan dalam dirinya lalu masuk ke kamar mandi.


Benar,Fernando hanya bertelanjang dada dengan handuk miliknya yang melingkar diperut seksinya hingga ke lutut.Ohh Ya Tuhan...,tubuh itu…..Sofia menelan ludahnya dengan susah payah.Pemandangan di depannya sungguh membut pikirannya traveling kemana-mana.Dada bidang itu,perut sickpack dan lengan berotot yang masih terlihat basah....sangat seksi.Apalagi bibir merah yang terlihat padat dibingkai wajah rupawan bak pahatan patung dewa Yunani kuno yang sempurna.Tidak ada kata yang pantas untuk sang suami anehnya kecuali .....sempurna.


"Mau sampai kapan kau akan mengagumi tubuhku dokter?sayangnya kau bukan seleraku.Jadi buang pikiran kotor itu dari kepalamu." ujar Nando mengejek dengan bibir menyeringai.Sofia yang tersadar mendekatinya tanpa takut,lalu melempar pakaian itu ke dada Nando.


"Lalu untuk apa kau menikahiku tuan Hutama?" desisnya penuh kemarahan,