
"Berhenti!!" teriak Nando saat melewati pejalan kaki yang kebetulan akan menyeberangi zebra cross saat lampu merah menyala. Tentu saja Sofia tersentak karenanya. Baru beberapa saat lalu suaminya itu bersikap manja, sekarang sudah berubah panik bak anak ayam kehilangan induknya.
"Mas..mau kemana?" pekik Sofia saat sang suami sudah lebih dulu membuka pintu mobil lalu berlari menghampiri seorang wanita berjalan tertatih diantara pejalan kaki lain. Pria tampan nan gagah itu menarik tangannya lalu memaksanya ikut ke tepi jalan.
"Fernando." Ucap wanita itu cukup keras hingga Sofia yang tepat berada dibelakang Nando bisa mendengarnya. Mata sang dokter membola, mencoba mencari tau siapa wanita berpakaian lusuh dan menyedihkan dengan topi anyaman yang ditarik suaminya itu.
"Emma....kau...kau masih hidup??" rasanya lutut Sofia melemas. Emma? benarkan wanita itu Emma smith? Wanita itu...mantan istri suaminya yang bahkan belum sempat diceraikan karena diklaim sudah meninggal dunia.
Lagi dan lagi Sofia dibuat terpana saat suaminya sudah memeluk dan menciumi kening sang wanita dengan sepenuh kerinduan. Dan wanita itu....dia juga memeluk Fernando tak kalah mesranya. Ada yang sakit di sudut hati Sofia.
"Kau...kenapa kau seperti ini sayang. Apa..apa yang terjadi padamu?" tanya Nando terbata. Sayang?? Nando bahkan juga menyematkan panggilan itu pada mantan istrinya. Mendengarnya saja sudah membuat Sofia mual.
"ceritanya panjang Fer. Aku..." dan wanita bernama Emma itu menangis sejadi-jadinya. Nando yang tak ingin jadi tontonan pengguna jalan mengajak Emma ke mobilnya. Pria itu begitu terkejut saat menyadari Sofia sudah ada dibelakangnya saat dirinya berbalik.
"Sofia..aku...ahh..ayo ke mobil." tukas Nando yang langsung membawa Emma ke mobil, meninggalkan Sofia yang menatapnya sendu. Wanita muda itu mengigit bibirnya. Menahannya agar tak bergetar. Bahkan suaminya juga mengabaikannya dan lebih mementingkan wanita itu dari pada dirinya.
"Sofia ayo!!" teriak Nando diantara bisingnya suara lalu lintas. Sofia menghela nafas lalu mendekat dan memasuki mobil disisi kiri Nando.
"Maafkan aku Fer..semua ini salahku." ratap perempuan itu. Nando yang semula pria yang tak suka hal kotor menjadi berubah melupakan kebiasaannya dengan memeluk Emma erat. Bau keringat wanita itu yang entah berapa lama tak mandipun sudah hilang bersama kerinduannya yang membuncah.
"Berhenti disana." Nando menunjuk hotel yang akan dia kunjungi bersama Sofia. Mereka turun bertiga lalu check ini.
"Mandilah. Aku sudah memesankan baju dan makanan untukmu." kata Nando lembut. Emma mengangguk, membawa paper bag menuju kamar mandi.
Tatapan Nando yang semula memperhatikan Emma beralih pada Sofia yang juga masih berdiri menunggunya.
"Antarkan nyonya pulang." perintahnya tegas pada pengawal yang mengikuti mereka. Sofia yang ingin melayangkan protes terhenti saat pintu kamar itu tiba-tiba sudah terkunci. Ingin mengetuk namun air mata itu hendak luruh. Dia wanita berpendidikan yang cukup tau bagaimana bersikap dan membawa diri. Tapi apa semua itu berlaku jika suaminya sedang berduaan dikamar hotel dengan mantan istrinya? hatinya berkecamuk.
"Mari nyonya." ajak sang pengawal sopan. Sofia terpaksa melangkah mendahuluinya, tak ingin bertengkar ditempat umum walau dia punya hak penuh untuk itu. Nanti dia akan menunggu Nando pulang ke rumah dan bicara padanya.
"Lho...mana dadynya Rafa Fi?" tanya ibunya begitu dia muncul diambang pintu sendirian. Sofia mencoba tersenyum. Dia tidak ingin kedua orang tuanya khawatir.
"Mas Nando bertemu rekan bisnisnya bu, mungkin pulang agak malam." ucapnya beralasan. Bu Arif manggut-manggut lalu menyerahkan Rafa yang sudah tertidur pada Sofia yang langsung menerima dan menciuminya penuh kasih. Air matanya tumpah membasahi pipi sang putra. Tergesa dia menyelimutinya tanpa kata. Dipandanginya bocah gembul itu seraya mengelus perutnya yang masih rata. Tangisnya kembali pecah hingga tertidur karena lelah meratapi hidup.
Suara ponsel berbunyi, menyadarkan Sofia dari kepedihan hatinya. Ada sedikit rasa lega saat melihat siapa peneleponnya. Bella.
"Kakak bagaimana kabarmu? Jadi pulang besokkan? lusa kita harus kesekolah Elle dan Aling. Ada acara disana." cerocos sang ipar membuat tangis Sofia kembali pecah walau tertahan. Tapi Bella adalah orang yang peka.
"Ada apa denganmu kak? Kau bertengkar dengan kak Nando? Kak...jawab aku!!" kata Bella memaksa. Dia tau ada yang tidak beres pada sang kakak.
"Emma? ada apa dengannya kak?"
"Dia...dia masih hidup dan mas Nando sedang bersamanya." terbata Sofia menceritakan ikhwal pertemuan mereka di jalan. Bella terdiam menyimak tiap kalimat yang meluncur dari bibir Sofia cermat.
"Ini semua tidak mungkin kak. Jelas-jelas aku melihat Emma dimakamkan. Walau wajahnya hancur aku bisa tau jika dia Emma. Tidak mungkin yang mati bisa hidup lagi." desis Bella berpikir keras.
"Jangan terlalu dipikirkan. Ingat bayi kalian. Aku akan bicara dengan mom dan kak Karin."
"Jangan Bell." cegah Sofia, tapi terlambat. Bella sudah menutup panggilannya. Beberapa kali mencoba menghubungi, tapi nomernya selalu sibuk. Mungkin Bella benar-benar menelepon mertuanya. Sofia mendesah kesal. Andai dia tak menceritakan semuanya pada sang ipar....
Hampir tengah malam saat suara langkah kaki mendekati kamarnya. Sofia segera duduk dan berdiri dari ranjangnya. Benar, pintu terbuka, menampilkan sosok Nando yang berdiri menjulang disana.
"Maafkan aku yang sudah mengagalkan rencana kita Sofia. Ini semua diluar rencanaku. Aku takut El mencarimu." Lirih Nando datar. Sama sekali tak tergurat penyesalan disana.
"Sejak kapan El mencariku mas? atau mungkin ini hanya alasanmu agar bisa berduaan dengan mantan istrimu itu?" balas Sofia halus namun menusuk. Wajah Nando memerah.
"Dia masih istriku. Kami belum bercerai." ketusnya dengan aksen marah yang kental. Lama...terlalu lama bahkan Sofia tak pernah melihat Nando semarah ini padanya.
"Maaf jika aku lupa sudah menikahi suami orang." sindir Sofia pedas. Hatinya sudah terlalu perih karena diabaikan Apalagi hormon kehamilan sangat mempengaruhi emosinya hingga naik turun tak terkendali.
"Sudah saatnya kau belajar berbagi suami Sofia." desisnya membuat wajah Sofia mengeras. Dihampirinya sang lelaki.
"Sejak awal aku sudah bilang padamu mas...aku tidak suka berbagi suami."
"Tapi kau orang kedua dalam pernikahan kami Sofia."
"Aku memasuki hidupmu juga karena paksaan darimu mas."
"Dipaksa? ha...ha...bukannya kamu yang jatuh cinta? dan aku....aku yang sedang kesepian ini terjatuh dalam jeratanmu dokter." Sofia meradang. Harga dirinya luluh lantak. Beginikah Fernando yang dia kagumi selama ini?
"Apa kau masih mencintainya?" lirih Sofia dengan suara bergetar. Nando menunduk menatapnya.
"Sangat. Sampai kapanpun dia takkan tergantikan oleh siapapun." katanya tegas. Sofia membeku. Andai dia tau jika Emma tak benar-benar meninggal....lebih baik jadi perawan tua dari pada dimadu dan berstatus pelakor seperti dirinya sekarang.
"Kalau begitu lepaskan aku." lunglai. Lemah dan hampir menyerah, itu yang dirasakan Sofia saat ini.
"Malam ini aku akan menemani Emma di hotel. Besok kau bisa pulang dengan rombongan karena aku akan pulang dengan Emma. Ada beberapa hal yang harus kami urus. Ingat...pulang ke rumah atau aku akan mempermalukan orang tuamu besok pagi." ancam Nando sebelum kembali berjalan tegap meninggalkan kamarnya.