Dear Husband

Dear Husband
Janji



Sofia masih memeluk erat tubuh Fernando yang masih setia bersandar di dadanya. Entah kenapa Sofia merasa malam itu Nando begitu rapuh dan terpuruk. Tak ada air mata disana, tapi luka yang menganga dihatinya masih terasa hingga menembus hati dan jantungnya.


"Dia masih hidup." tukasnya pendek setelah lama terdiam.


"hmmmmm." ada keterkejutan dan tanda tanya yang butuh jawaban disana, tapi Sofia memilih diam dan mendengarkan semua cerita suaminya tanpa berusaha menyela ataupun mencari tau lebih dalam. Dia hanya ingin Fernando nyaman disampingnya, dalam pelukannya.


"Andreas membawanya pergi sesaat setelah Elle dinyatakan buta. Mereka meninggalkan bayi hasil hubungan terlarang itu tanpa merasa berdosa. Elle tak dalam kondisi koma. Seminggu kemudian dia sadar dan menanyakan mamanya. wanita yang bahkan sama sekali tak peduli padanya. Berkali-kali aku ingin menjelaskan kenyataan itu pada Elle, tapi hatiku selalu saja melarangnya. Anak itu tidak perlu tau kalau mamanya wanita bejat yang tega meninggalkannya. Dia harus menjadi anak yang kuat dan menunjukkan pada orang tua biolongisnya jika dia lebih baik dari mereka. Bahkan jauh lebih baik." Nando melepaskan pelukannya lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa. Tangan kekarnya meraup wajah kasar.


Sofia bangkit dan menuju jendela besar disana, menyingkap tirainya dan melihat langit gelap dengan gugusan bintang dan bulan sabit yang mewarnainya. Ada berjuta ketenangan dalam gelapnya angkasa. Sofia membuka pintu jendela dan menghirup udara sebanyak yang dia bisa. Sungguh, mendengarkan pengakuan Nando membuat dadanya sesak dan butuh asupan udara. Dia saja yang hanya mendengar merasa sesak, apalagi Nando yang menjalaninya. Dalam hati dia bertekad mengembalikan cinta, kebahagiaan dan senyum diwajah datar itu. Nando berhak bahagia.


"Akhirnya aku menemukanmu. Memaksamu menikah denganku...untuk kepentinganku. Egois memang. Tapi aku tidak ingin pasangan setan itu datang dan mengambil Elle dariku, dan untuk itu aku membutuhkan wanita sepertimu dokter."


"Tapi aku tak sekuat yang kau kira." sahut Sofia lemah.


"Kita akan saling menguatkan." bisik Nando di telinga kanan Sofia. Seketika bulu kuduknya meremang. Dia tidak menyadari kapan pria itu sudah ada dibelakangnya bahkan sudah melingkarkan tangannya dipinggang ramping miliknya.


"Berat." lagi, sebuah keluhan meluncur dari bibir Sofia. Disentuhnya tangan Nando yang melingkari pinggangnya dan mengelusnya lembut.


"Tidak jika kita bersama."


"Bersama saja tidak cukup."


"Kita akan belajar saling mencintai."


"Aku tidak yakin. Kita bukan pasangan romantis."


"Tapi cinta bukan hanya tentang romantisme."


"Katakan bagaimana aku bisa mulai mencintaimu mas." suara yang nyaris terdengar sebagai keluhan. Sofia memang belum pernah pacaran, jatuh cinta atau terlalu dekat dengan lawan jenis.


"Hanya hal mudah. Aku tampan, kaya raya dan punya segalanya. Tidak sulit bagimu untuk mencintaiku. Bukannya aku yang seharusnya bertanya bagaimana aku bisa mulai mencintai wanita biasa saja sepertimu?" Sofia melengos kesal. Yang dikatakan Nando tidak murni salah. Dia bukan wanita sepadan untuk seorang pewaris Hutama yang punya pengaruh sangat besar. Entah dia yang benasib baik, atau selera Fernando yang sudah berubah total.


"Kau terlalu narsis mas."


"kau juga tidak realistis. Katakan bagaimana aku bisa mulai mencintaimu dan menjadikanmu satu-satunya ratu dalam hidupku." Sofia membalikkan badannya. Mereka saling berhadapan dengan tangan Nando yang masih memeluk pinggangnya.


"Aku memang tidak punya kelebihan apapun. Aku jauh dibanding dirimu. Tapi aku punya kesetiaan dan kasih sayang. Hanya itu yang bisa kujanjikan." ucap Sofia bersungguh-sungguh.


"Itu sudah cukup untukku Sofia."


"Terimakasih."


" Ingat janjimu...tidak ada perceraian diantara kita."


Sesaat mata mereka saling menatap. Nando serasa tersihir oleh wanita di depannya itu hingga memandangnya tanpa kedip. Tangannya terangkat menyentuh anak rambut yang menutupi pipi wanitanya lalu menyelipkannya ditelinga kanannya. Tatapan malu-malu Sofia yang langsung menundukkan wajahnya yang berubah kemerahan malah membangkitkan jiwa laki-lakinya. Nando terus mengikis jarak diantara mereka. Pandangannya kini terpusat pada bibir penuh nan merekah di depannya.


"Mas...." hanya itu yang keluar dari bibir Sofia sebelum bibir Fernando menyatu dengan bibirnya, menyecap manis disana dan ********** penuh perasaan. Sofia hanya mampu memejamkan matanya rapat, menikmati ciuman yang selama ini hanya dia lihat dalam scene film drakor atau dia baca dari novel online yang menjadi trending utama saat ini. Tubuhnya bergetar dan terasa lunglai hingga Nando mempererat pelukannya. Pria itu tau ini pengalaman pertama istrinya berciuman dan seintim itu dengan seorang pria. Rasanya Nando harus bersyukur punya istri sepolos dan sepintar Sofia.


"kenapa?" bisiknya tepat diatas bibir Sofia saat wanita itu beberapa kali memukul pelan lengannya. Tak ada jawaban, wajah ayu itu terihat makin memerah dengan nafas tersengal. Dia tersenyum kecil saat tau sang istri kehabisan nafas karena ciuman yang semula hanya sekejap menjadi panjang dan dalam.


"Apa pipimu selalu kemerahan seperti sekarang saat berciuman?"


"Aku belum pernah berciuman."


"Aku tidak percaya." Nando yang mulai geli melihat perubahan pada wajah Sofia semakin ingin menggodanya. Padahal dia tau dari sikap kaku dan tubuh gemetaran Sofia, wanita didepannya itu benar-benar masih virgin dari segi manapun.


"Tapi aku memang benar-benar belum pernah melakukannya." kata Sofia lemah. Walau belum ada rasa cinta dihatiny untuk Fernando, tapi tiba-tiba rasa lain hadir disana. Dia tidak ingin Nando salah paham dan menuduhnya yang tidak-tidak. Tapi sungguh dia tidak bisa membuktikan apapun saat ini.


"Aku mau bukti." tuntut Nando hingga membuat Sofia salah tingkah dan berusaha melepaskan diri darinya.


"Aku....bagaimana aku membuktikannya?"


"Dengan ini..." Fernando menyambar bibir padat itu cepat dan menekan tengkuk sang istri kuat agar ciuman mereka bertambah dalam. Sofia hanya bisa pasrah dan menikmati tiap gelenyar aneh dalam dadanya. Wanita itu masih terus menutup matanya hingga Nando melepaskan tautan bibirnya.


"Apa kau terlalu menikmatinya?" seketika Sofia gelagapan dan salah tingkah. Pasti dia terlihat sangat bodoh dan menggelikan sekarang. Bagaimana dia bisa hanyut seperti tadi? sekarang pasti wajahnya sudah seperti kepiting rebus.


"Jangan bersikap malu-malu seperti anak perawan dokter..."


"Aku memang masih perawan!" sentak Sofia kesal. Fernando sudah merusak suasana romantis mereka dengan perkataan yang merusak moodnya.


"Mau kemana?" tanya Nando seraya menghentakkan tubuh Sofia kembali dalam pelukannya saat wanita itu akan beranjak pergi. Senyum smirk menghiasi bibirnya.


"Aku akan kekamar Elle."


"Untuk apa? ada Maria disana."


"Tidur."


"kenapa tidak ke kamar kita?"


"Mulai sekarang aku akan tidur disana."


"Ke kamar kita atau kuperkosa kau malam ini juga!"