
"Minumkan lalu suapi aku." perintah Fernando tegas. Sofia hingga dibuat melongo karenanya. Apa dia tidak salah dengar?
"Sofia...sampai kapan kau akan bengong begitu? kalau tak ikhlas membuatkan aku kopi hangat kenapa tak buat jus buah saja. Toh aku juga meminumnya sama-sama dalam kondisi dingin." Mau tak mau Sofia mendekatkan cangkir berisi kopi yang asapnya masih mengepul itu ke bibir suaminya. Jangan tanya bagaimana perasaannya saat itu. Dokter cantik itu hingga harus menahan nafas saat bibir itu bergerak seduktif meneguk cairan hitam itu hingga gerakan jakunnya membuatnya terpana. Bagaimanapun mereka adalah pasangan suami istri yang pernah bersama selama sekian lama, merasakan hangatnya sebuah penyatuan, indahnya mendaki hingga saling merasakan puncak percintaan berdua. Jika boleh jujur, Sofia merindukannya. Entah itu bawaan bayi atau hanya imajinasi liarnya saja yang merajai.
"Aku buatkan capcay goreng untukmu." katanya selepas meletakkan cangkir kopi itu diatas meja. Dia meraih piring dan menyuapkannya ke mulut Fernando yang tentu saja menerimanya dengan persaan senang bukan kepalang. Sudah lama dia merindukan masakan istrinya. Enak...koki di rumahnyapun tak akan bisa memasak seperti masakan Sofianya. Walau mereka memasak dengan bumbu yang sama, tapi rasanya tetap berbeda.
Tak terasa baik Nando maupun Rafa sudah menyelesaikan sarapannya. Rafa bahkan sudah bermain diatas karpet tebal dibawah kaki kedua orang tuanya. Sofia segera turun dan duduk di sebelah putranya, mengajaknya bermain dan bicara hingga Fernando menyusul mereka. Alangkah kagetnya Sofia saat sang tuan muda membawa piring ditangannya lalu mengulurkan sendok berisi capcay mendekati bibirnya.
"Ehmm..ehh...apa yang kau lakukan?" ucap Sofia terbata.
"Menyuapimu. Apa kau ingin cara lain?" tanya Fernando dengan wajah seriusnya. Sofia mengerutkan keningnya.
"Cara lain? ahh sebaiknya tidak usah. Aku..aku bisa makan sendiri." pungkasnya cepat. Sofia berusaha mengambil alih piring itu dari tangan Fernando, tapi pria itu sudah menjauhkannya dengan gerakan cepat.
"Makan dari tanganku atau tidak sama sekali." ketus Fernando dengan nada rendah yang mengintimidasi. Sofia mencoba bangkit dari duduknya. Masih ada menu lain yang bisa dia masak untuk sarapan, tak perlu berbaik hati menerima suapan pria yang sudah menyakiti hatinya dan terbuang dari rumahnya sendiri.
"Mau kemana?"
"Dapur....aaahhhh!!" sebuah sentakan kuat membuat tubuhnya oleng. Fernando dengan sigap memeluk wanitanya agar tak terjatuh membentur sesuatu.
"Apa yang kau lakukan. Kau bisa menyakiti bayiku!!" pekik Sofia membuat Hena yang berada di lantai bawah segera naik dengan kecepatan tinggi saat mendengar pekikan Sofia. Dia amat takut jika Fernando menyakiti istrinya.
"Nyonya anda......Ahh ya Tuhannn!!" pekik Hena sambil membalikkan tubuhnya menghadap tembok sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan karena menaiki tangga dengan berlari tadi. Tapi sungguh, ada yang membuatnya lebih terkejut karenanya. Nyonya mudanya berada dalam posisi sangat intim dalam pangkuan suaminya. Dasternya bahkan tersingkap ke atas karena harus duduk dipangkuan pria tampan penuh pesona itu.
"Hena, bawa dan jaga Rafa. Ada yang harus ku kerjakan dengan momynya." perintah Fernando yang membuat pengawal wanita itu menganggukkan kepalanya, bergerak cepat menjangkau tuan kecilnya lalu melesat ke bawah.
"Ahhh siaall...kenapa gerak refleksku begitu kuat. Mataku jadi ternoda karenanya." gerutu gadis itu pelan. Tapi sesaat kemudin sebuah senyum terbit di bibirnya saat Rafa yang berhasil menjangkau rambutnya yang diikat ekor kuda dan tertawa riang karenanya.
Fernando yang tak lagi mendengar langkah sang asisten segera mengalihkan pandangannya pada Sofia yang kembali berusaha bangkit. Pria itu melingkarkan tangan kekarnya dipinggang istrinya yang terasa makin berisi.
"Apa kau begitu membenciku hingga tak mau memakan sesuatu dari tanganku hemm??"
"Bisa kau lepaskan aku? kau menyakiti bayiku."
"Bayi kita Sofia. Aku yang bekerja keras mengukir jiwa dan raganya." bisiknya di telinga sang istri yang seketika membuat bulu kuduk Sofia merinding.
"Terserah kau. Tapi lepaskan aku." Sofia kembali meronta, namun sebuah ciuman yang mendarat dibibirnya membuat tubuhnya membeku dengan mata membulat.
"Makan atau aku akan menyuapimu dengan caraku." Fernando kembali meraih piring itu dan menyuapi sofia yang ada dalam pangkuannya. Senyum tipis tergurat disudut bibirnya manakala istri cantiknya itu terus menunduk dengan pipi memerah sambil mengunyah makanannya.
"Aku harus ke rumah sakit."
"Kau libur hingga lusa."
"Libur..apa maksudnya? rumah sakit itu milik pemerintah, kau tak bisa mengaturnya semaumu." desis Sofia galak.
"Memang tidak..tapi aku bisa membuatmu libur karena posisimu sebagai residen sudah usai Sofia."
"Kau terlalu sok tau tuan muda. Aku bahkan ingin selamanya dinas disini."
"Begitu ya?? baiklah, aku juga tinggal memindah kantor pusat Hutama kemari. Beres bukan?" ucap Nando yang lagi-lagi membuat Sofia kesal.
"Terserah kau saja. Toh kau selalu berbuat semaumu."
"Tapi yang kumau adalah dirimu." kata Nando sambil menyibak rambut panjang istrinya kebelakang telinganya yang ikut memerah. Dipandangnya wajah cantik itu penuh kerinduan.
"Benarkah? Aku bahkan tak yakin dengan perkataan seseorang yang terjebak pada masa lalunya. Jangan-jangan semua itu kau lakukan untuk menunggu putri kesayanganmu itu tumbuh dewasa lalu menjadi sugar dady baginya." ungkap Sofia seraya tersenyum mengejek.
"Apa yang kau katakan Sofia! Elle sama sekali....."
"Nah...benar bukan? kau masih saja membela bocah itu hanya sesaat setelah kau mengatakan kau menginginkanku. Kau...munafik Fernando satria hutama." Sofia segera bangkit dan menuju kamarnya, menguncinya dan menangis dibalik pintu kamarnya. Tubuhnya luruh ke lantai sambil menahan dadanya yang terasa sakit.
"Sofia..kau salah paham Dengarkan aku!! Aku belum selesai berkata-kata. Elle sama sekali tak berarti bagiku. Buka pintunya. Sofia...!! Sofia buka pintunya! Dengarkan aku Sofia!!" tapi Sofia sama sekali tak mengindahkan teriakan dan gedoran pintu yang dilakukan suaminya hingga Nando kecapekan dan terduduk didepan pintu. Jangan tanya perasaannya saat mendengar tangis tertahan Sofia. Hatinya begitu teriris karenanya.
Hampir satu jam Fernando duduk disana dan tenggelam dalam kesedihannya. Dia bahkan sudah mendengar langkah Sofia yang menjauh dari pintu.
"Tuan...." panggil sebuah suara lemah.
"Hena?" Nando segera bangkit dari duduknya. Gadis manis itu mengulurkan sebuah kunci pada tuan mudanya lalu pergi tanpa kata. Fernando sendiri sampai terpana karenanya. Tapi kesadaran seperti menghampirinya dengan cepat. Bergegas dia membuka pintu kamar Sofia hingga sang empunya kamar yang masih duduk berderai air mata terperanjat.
"Kau..."
"Sofia dengarkan aku sayang..." Fernando kembali memeluk istrinya kuat agar wanitanya yang terus berontak itu tenang, mencium kening dan pipinya cepat lalu menangkup dua sisinya.
"Elle sudah pergi dari kehidupan kita." bisiknya membuat Sofia membeku karenanya.