
"Anda kesulitan berdiri nona Larsons, saya hanya berniat membantu anda." ujar Sofia yang mengulas senyum manis di depan Amanda yang masih terlihat susah berdiri diatas high heelsnya. Rok pendek dan atasan kurang bahan yang dia pakai juga menyulitkan langkahnya.
.....klek.....
"oohh." tubuh Amanda yang sudah akan berdiri tegak terhuyung karena hak sepatunya patah tiba-tiba. Sofia masih berusaha menahan tubuhnya, namun ditepis kasar oleh Amanda.
"Sudah kubilang aku tidak butuh bantuanmu!" sarkas Amanda galak. Sofia mundur dua langkah karenanya. Dia memasang wajah penuh empati melihat Amanda berpegangan pada tepi meja kerja Fernando.
......breeetttt....
"Aoooww..." pekik Amanda kencang kala rok mininya sobek ditepi kanan, menampilkan paha atasnya yang tersekspose sempurna. Matanya membeliak. Susah payah dia menutup bagian robek itu dengan telapak tanagan. Tak sampai disitu saja, robekan itu bertambah panjang kala dia bergerak. Ingin Sofia tertawa ngakak karenanya.
"Aahh ya ampun nona...rok anda juga robek." pekik Sofia penuh drama. Dia menutup bibirnya dengan tangan untuk membuat gerakan ekspresif.
"Diam kau wanita cerewet!" hardiknya lagi. Pandangannya lalu beralih pada Nando yang masih mengetikkan sesuatu di laptopnya.
"Ehmm...tuan Nando, bisakah kau membantuku meminjamkan sesuatu untuk menutupi tubuhku selagi aku menunggu pesanan rokku dikirim kemari?" kalimat yang amat manis, lemah lembut penuh kemanjaan itu membuat Fernando melirik Amanda sekilas. Angin segar menyapa Amanda yang mengira Nando akan bersimpati padanya.
Padahal itu hanya akal-akalanya saja. Yang ada dia lupa membawa ponselnya yang ketinggalan di mobil karena dia begitu terburu-buru masuk ke kantor Hutama tadi.
"Sesuatu? pakaian maksudmu? apa aku terlihat seperti seorang wanita yang memakai rok sepertimu?" dengus Nando kesal lalu kembali sibuk dengan laptopnya.
"Tapi setidaknya kau harus membantuku karena aku juga membatumu memuaskan hasratmu malam itu. Apa kau tak cemburu jika ada pria lain yang melihat tubuh sintalku ini?" rengek Amanda dengan wajah dibuat semelas mungkin.
"Cemburu? bahkan jika kau telanjangpun aku sama sekali tak bernafsu." balas Nando dengan ekspresi datar. Senyum lebar mengembang dibibir Sofia.
"Apa kau sama sekali tak punya belas kasihan? Setidaknya lihat ayahku Fernando!" bentak Amanda kesal.
"Mintalah pada istriku."
deg....
"Hubby, ini kantor bukan ruang tunggu. Nona ini tak ada janji soal pekerjaan denganmu. Ada baiknya dia menunggu diluar atau di lobi saja. Yang berhubungan bisnis denganmu adalah ayahnya, bukan nona ini bukan?"
"hmmmm."
"Nona Larsons, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya pada keluarga anda, saya sarankan anda menunggu diluar. Ahh yaa...tunggu sebentar." Sofia dengan sigap menarik taplak meja dan mengikatkannya di pinggang Amanda dan membentuk simpul cantik yang sama sekali tak bisa protes karenanya. Dia sudah sedikit tertolong karenanya. Setidaknya walau robek dia tidak telanjang setelahnya.
Sofia membuka pintu ruangan dan mempersilahkan Amanda keluar dengan sangat sopan. Wanita itu menundukkan kepalanya, entah apa yang ada dalam pikirannya. Dilepasnya sepatunya lalu menjinjingnya dengan langkah hati-hati. Tampak sekali jika dia tak percaya diri karenanya.
"Tunggu." tahan Sofia kala wanita itu melewati tubuhnya, dia jadi ingat sesuatu. Amanda menatap Sofia datar.
"Jika kau ingin mempermalukan aku lagi silahkan. Lakukan sampai kau puas Sofia hutama." desisnya lemah. Apa yang bisa dia lakukan dengan rok robek, hak sepatu patah dan kemeja yang kancingnya sudah akan terlepas. Entah nasib sial apa yang menimpanya saat itu.
"Ikut aku." katanya sambil menarik Amanda keluar menuju toilet khusus tamu dilantai itu. Alex yang melihat adegan itu dari mejanya hanya menatap ingin tau.
"Kau mau apa Sofia hutama?" sergah Amanda kesal saat Sofia sudah mengunci pintu toilet, hanya mereka berdua disana. Tiba-tiba tubuhnya merinding manakala bayangan garangnya Sofia beberapa hari lalu melintas. Jangan-jangan nyonya muda ini ingin bertindak nekat padanya. Amanda memundurkan tubuhnya hingga menyentuh tembok.
"Pakai ini." Sofia memaksanya menerima paper bag tadi. Amanda menengok isinya. Baju.
Masih dengan tatapan curiga di mengeluarkan pakaian itu. Gamis. Mata Amanda melotot karenanya.
"Buang saja jika kau tak suka." pungkas Sofia saat melihat wajah aneh Amanda kala melihat pakaian dengan model hampir sama dengan yang dia pakai sekarang. Sofia sudah membalikkan tubuhnya ingin pergi dari sana kala Amanda memanggil namanya.
"Sofia hutama...tunggu!"
"Apa lagi? aku tidak memaksamu nona. Setidaknya aku sudah berusaha menolong. Terserah kau mau pakai atau tidak." Amanda sangat tau jika baju itu termasuk mahal. Merk brand terkenal dunia. Dia hanya bingung kenapa Sofia memberikan pakaian mahal itu padanya secara tiba-tiba.
"Bisakah kau membantuku memakainya? Aku...aku tidak pernah berpakaian seperti ini sebelumnya."
"Tentu saja." dan Amanda masuk menuju sebuah bilik untuk mengganti pakaiannya.
"Apa begini?" tanyanya ragu kala keluar dari sana. Gerakannya terlihat amat canggung. Sofia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Mana kerundungnya?"
"kerudung?"
"Kain segi empat yang disana namanya kerudung. Fungsinya untuk menutup kepala seperi punyaku." Sofia mengambil kain itu dari dalam paper bag dan memakaikannya dengan telaten hingga terpasang apik dikepala Amanda.
"Kau terlihat sangat cantik nona Larsons." gumam Sofia yang membuat Amanda menoleh meneliti penampilannya di kaca besar toilet. Benar...dia terpana dengan penampilan barunya yang terlihat kalem, anggun dan feminin. Lagi-lagi dia melihat dirinya sendiri, bahkan hingga mendekat ke cermin. Pakaian itu begitu pas membalut badannya yang walau tak terlihat seksi tapi benar-benar menawan dengan warna hijau segarnya.
"Terimakasih." hanya kata itu yang keluar dari bibirnya.
"Sekarang kau bisa pergi dari sini dengan percaya diri Amanda. Jangan takut dikatakan kampungan dengan pakaian itu karena sebaik-baik wanita adalah mereka yang menutup auratnya. Jangan biarkan lelaki lain melihatnya selain suamimu." nasihat Sofia bijak. Jika tadi dia begitu berapi-api menghadapi Amanda, sekarang dia cenderung lembut.
"Suatu saat aku akan membalas kebaikanmu nyonya Hutama." bisiknya lalu pergi dari sana. Sofia hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali ke ruangan suaminya. Tangis Rafa terdengar.
"Sayang kau terlalu lama mendandani wanita itu. Rafa haus." keluh Nando yang masih menimang Rafa yang menangis keras. Sofia segera mengambil alih putranya dan masuk ke kamar Nando. Dia menyusui sang bayi hingga terdiam. Benar, Rafa haus.
"Tidakkah kau terlalu baik padanya?" Sofia menatap Nando yang berdiri didepannya teduh.
"Hubby, semua orang itu dilahirkan baik. Jika mereka jahat itu juga karena terpaksa. Jangan membalas Kejahatan dengan hal serupa. Kita belum tau alasan Amanda melalukannya bukan?" Nando hanya terdiam. Entah kenapa kadang dia merasa kesal karena wanitanya terlalu baik pada orang yang jahat sekalipun padanya. Terbuat dari apa hatinya?